
Oliver mengejar Bruno meminta pria itu jangan pergi dari ruangannya.
''Sebagai atasanmu aku minta kau berhenti dan segera kembali ke ruanganku,'' ucap Oliver.
''Apa kau tuli tuan Oliver? Mulai saat ini aku bukan bawahanmu lagi jadi anda tidak berhak mengatur aku lagi, apakah sudah cukup jelas?'' Bruno menatap sinis Oliver.
'' George, ayo kita pergi,'' lanjutnya. Matanya menatap George lalu kembali fokus ke depan.
Bruno dan George segera meninggalkan kantor yang dulu menjadi kebanggaan Bruno itu. Oliver menatapi punggung Bruno dengan kesal.
''Kau akan menyesal karena sudah membantahku!'' teriak Oliver seraya melayangkan tendangan ke udara.
Namun, panggilannya diabaikan Bruno, pria tiga puluh delapan tahun itu sangat stres memikirkan Lea. Dia bergegas naik ke atas motornya lalu mulai memacukan besi beroda dua itu kembali ke vila miliknya. George pun segera mengikuti Bruno dari belakang.
Tidak perlu menunggu waktu lama Bruno sudah memarkirkan motornya di parkiran motor vilanya. Detektif itu turun dari motornya, dia meletakkan helm diatas motor lalu berlari melewati koridor menuju lantai tiga. Bruno menarik gagang pintu dia baru menyadari pintu terkunci.
Bruno menarik kasar rambutnya, dia bingung ke mana Lea? Apakah gadis itu sudah kabur meninggalkan dia lagi? Apa dia harus kehilangan lagi?
Bruno mengedarkan pandangnya ke sekitar lantai tiga namun dia tidak menemukan Lea.
''Dam*'n it. Kemana kau!'' gumamnya seraya mengepalkan tangannya.
Lalu, Bruno bergegas lari menuruni anak tangga dia harus ke dapur menanyakan keberadaan Lea kepada pelayanya.
''Marie, apa kau melihat gadis yang tinggal dilantai tiga?'' tanyanya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
''Maaf, Tuan. Saya tidak melihat siapapun yang turun dari lantai tiga.'' ucapnya tenang yang membuat Bruno sama sekali tidak menaruh curiga.
''Kau.'' Bruno mengalihkan pandang ke salah satu pelayan yang sementara berdiri disamping Marie itu.
''Maafkan saya juga Tuan. Saya tidak melihat Nona itu. Bukannya kunci kamar Nona sudah saya kembalikan kepada tuan?'' Pelayan menjawab sembari menunduk.
Bruno segera meninggalkan dapur percuma tanya hanya buang-buang waktunya saja. Apalagi sekarang matahari sudah bergeser ke ufuk barat berarti akan berganti hari menjadi malam namun ke mana gadis itu?
''Menyusahkan, keras kepala!'' gerutunya sembari berlari ke taman tempat dia dan Lea melakukan first kiss.
Bruno pikir bisa saja Lea menenangkan diri disana mengingat Lea sangat menyukai bunga dan pantai. Namun, sesampainya disana Bruno harus menelan kecewa Lea tidak ada disana.
Bruno mengusap kasar wajahnya lalu menarik kasar rambutnya, matahari sudah berpamitan kepada Bumi bergantian dengan bulan mulai menampakkan dirinya sementara Lea-nya belum juga dia temukan.
Kalut, ia sangat cemas memikirkan gadis itu walaupun menyebalkan gadis itu telah membangkitkan gairahnya. Gadis itu telah mengembalikan hari-harinya, keceriaannya.
Bruno mengacak pinggangnya dia melirik kesana-kemari namun sosok yang dia cari tidak ada. Bruno menjatuhkan tubuhnya diatas kursi panjang yang tersedia ditaman, kursi itu yang dulu menjadi saksi bisu dia dan Lea melakukan ciuman pertama.
''Kamu dimana, Lea? Aku kwatir, kembali lah aku akan bersikap manis untukmu, Aku janji.'' ucapnya seraya menutup wajah dengan kedua tangannya.
Tanpa Bruno sadari Marie sedang melihat semua kecemasan Bruno hingga membuat wanita paruh baya itu terenyuh, tapi dia sudah berjanji kepada Lea untuk tidak membocorkan keberadaannya kepada siapapun termasuk Bruno sekalipun.
Marie menghela napas lalu membiarkan Bruno merenungkan semua keegoisannya yang sudah dia lakukan kepada Lea. "Berjuanglah cari dia sendiri, jika Lea jodohmu pasti akan bertemu lagi," gumam Marie.
❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Bruno segera kembali ke rumahnya, dia tau ini sudah malm Lea pati sudah kembali ke rumah Robert tinggal bersama Albert. Ya bisa saja mengingat gadis itu sangat keukeuh membela Albert didepan dirinya hingga dia emosi dan mengusir Lea.
Bruno masuk mengambil kunci dikamarnya kali ini dia menggunakan mobil. Bruno segera memacu mobilnya menuju rumah Robert setengah jam dalam perjalanan akhirnya Bruno menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Robert yang kini hanya ditempati Albert.
Bruno bergegas keluar dari mobil tangannya menekan remote kunci untuk mengunci lagi pintu mobilnya. Didalam rumah terdengar suara musik, pintu tidak terkunci memudahkan Bruno langsung menerobos masuk tanpa permisi. Lagian, jika dia permisi bisa saja Lea sembunyikan? Mengingat gadis itu sangat cerdas.
Bruno tersenyum sinis ketika melihat Albert sedang minum bersama dua gadis dengan pakaian kurang bahan. Bruno berdecih jijik, ''Kelakuannya tidak jauh beda dengan ayahnya!'' umpatnya lalu berlari menaiki anak tangga tanpa disadari Albert dan kedua gadis itu.
Bruno menggeledah empat kamar itu bahkan setiap sudut kamar mandipun dia geledah hasilnya nihil dia tidak menemukan Lea.
Bruno mengacak pinggangnya lalu kakinya menendang ranjang hingga membuat Bruno mengaduh kesakitan karena dirinya yang tidak mengenakan sepatu hanya sandal jepit dikakinya.
''Kemana gadis itu? Jangan bilang dia kabur ke negara lain." Bruno segera kembali ke lantai bawah.Dia tidak langsung pulang tapi menghampiri Albert.
"Hei, pemuda apa kau tidak takut penyakit?" ucap Bruno mengyadarkan Albert dan kedua teman wanitanya itu.
"Ahh, tidak peduli. Takdir, maut, hidup dan mati semua hanya Tuhan yang tentukan bukan kau." sahut Albert membuat Bruno tersenyum geli.
"Terserah kau anak muda. Di mana Lea?"tanya Bruno lagi.
Sontak membuat Albert kaget bisa Bruno tebak dari wajahnya, Albert sama sekali tidak mengetahui keberadaan Lea.
"Di mana dia? Apa kau melihat dia? Tunggu, mengapa kau mengenal dia? Jangan bilang kau telah ..." Albert mengamati Bruno dari kaki hingga kepala dari penampilan Bruno tidak mungkin pria ini menjual Lea.
"Kau tidak melihat dia? Lea tidak datang ke sini?" Bruno menautkan kedua alisnya. Dia tidak mau berlama-lama membuang waktunya di sini percuma pemuda itu tidak tahu ke mana Lea. Berarti Lea tidak ke sini.
__ADS_1
"Ahh... menyebalkan! Gadis keras kepala." umpatnya lalu ia keluar meninggalkan Albert yang masih kebingungan.