Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Tersedak makanan.


__ADS_3

Burger sudah selesai di planting. Bruno dan George duduk bersilah di atas matras.Sementara Lea masih berdiri di tempat ia jatuh tadi.


"Kau masih berdiri disitu?" Bruno menatap tajam Lea.


"Lalu?" Lea membalas dingin.


"Kau tidak lapar?" Bruno semakin marah.


"Bagaimana aku berjalan? kakiku diikat. Bagaimana aku duduk, sementara kedua kaki ku menyatuh seperti ini." kesal Lea. Dia menunjuk kedua kakinya yang diikat dengan sorot matanya.


"Setidaknya kau memohon minta dikasih makan." goda Bruno. Dia tersenyum usil.


''Ogah, harga diriku terlalu mahal untuk mengemis kepada pria tidak tahu malu seperti kalian! Belum tentu juga, 'kan burger itu enak. Aku lebih sayang harga diriku daripada satu burger!" tekan Lea. Dia memalingkan wajahnya. Tapi, jujur perutnya sudah berdemo, tangannya mengelus perutnya, sesekali dia melirik dengan ekor mata memerhatikan kedua pria yang makan tanpa ada bunyi sama sekali, entah mereka kunyah atau burger itu begitu masuk dalam mulut mereka langsung meleleh di lidah lalu turun diusus begitu saja? Lea tidak mengerti dengan cara makan kedua pria misterius itu.


Lea memilih mengabaikan kedua manusia itu, dia mendoangakkan kepala mengamati anggur-anggur yang berada diatas kepalanya, warna hijau, merah , ungu dan hitam sungguh menggoda lidah. Lea perlahan mengulurkan tangannya dan menarik satu ranting anggur berwarna hijau


Dia mulai menyuapkan satu-persatu buah anggur demi buah anggur ke dalam mulutnya tanpa menyadari ada seorang pria yang sudah berada di belakangnya dengan membawa satu burger double beef ditangannya.


Lea mengunyah anggur itu dengan kesal, sesekali ia berdecih karena biji anggur ikut termakan dia.


"Sialan!" gerutu Lea.


Pria yang berada di belakangnya itu, tersenyum dia perlahan mendekatkan bibirnya di telinga Lea, "Pencuri!" Pria itu membisik ditelinga Lea.


"Bodoh, siapa peduli." balas Lea. Dia masa bodo, ia terus menikmati anggur itu.


Kesal karena Lea tidak menoleh dia sama sekali, Bruno memutar badannya lalu berdiri tepat didepan Lea, " Kau tertangkap basah."Bruno menatap dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


Lea menaikkan sudut bibir atasnya, lalu menyuapkan anggur itu dimulutnya lagi, dia mengeluarkan biji anggur itu sengaja tepat di depan Bruno. Namun, dengan cepat Bruno bersilih menghindari biji anggur itu sehingga tidak mengenai wajah dinginnya.


''Gadis tidak tau diuntung.'' gerutu Bruno.


Lea tersenyum, dia terus saja memakan anggur itu hingga satu gumpalan itu habis. Lalu, Lea mendoangak ingin mengambil lagi. Dengan, cepat Bruno menahan tangannya, ''Kau, gadis keras kepala,'' bentak Bruno, lalu ia menghempaskan tangan Lea, hampir saja membuat Lea tersungkur di bawah lagi.


''Aku lapar. Aku perlu mengisi perutku, siapa suruh kau menahanku disini? Jika kau melepaskan aku, tidak mungkin juga aku mencuri buah anggur ini.'' Lea begitu kesal hingga menitikkan air matanya.


''Makan burger itu. Mana mungkin kau makan anggur bisa mengenyangkan perutmu? Lihat saja dirimu bicaramu sangat banyak, kau pikir dengan makan anggur lalu kau bisa kenyang, dasar gadis amatir!'' Bruno meraih tangan Lea lalu meletakkan burger double beef ditelapak tangan Lea.


Lea menatap burger di tangannya, ia tersenyum. Lea terharu ternyata Pria itu sedikit memiliki hati buktinya dia diberi makan dengan burger double beef. Dia menyuapkan burger itu ke dalam mulutnya, Lea mengunyah dengan berderai air mata selain terharu, burger double beef ini, Lea makan terakhir sejak ayah dan ibunya masih hidup. Namun, setelah kedua orang tuanya meninggal Lea tiap hari hanya di beri makan gandum dan soup jamur oleh paman-paman kejamnya.


''Kenapa kau masih saja menangis? Apakah burgernya tidak enak?'' Bruno menatap Lea.


Lea menggelengkan kepalanya, dengan Bruger masih penuh di mulutnya, ''Ini sangat enak paman es,'' Lalu ia pun pecah dalam tangis.


Membuat Bruno dan George bingung, "Gadis ini begitu aneh dikasih makan malah dia menangis, tapi tidak dikasih makan dia pun merajuk." celetuk Bruno.


Sementara George hanya mengedikkan bahunya, dia kembali menggulung matras berwarna hitam itu lalu mengikatnya dengan rapi. Kompor portable juga ia bongkar pisahkan tabung gas kaleng dan kompornya lalu George memasukkan ke dalam tas ranselnya, Matras itu dia letakkan diatas ransel miliknya, matras itu diikat dengan baik agar tidak jatuh jika mereka berlari nanti.


Bruno memasang tropong berjarak tempuh sepuluh kilo meter ke arah rumah Roberto. Dia, mengamati sesuatu sedang terjadi di rumah Roberto. Nampak Roberto sedang berbicara dengan seorang pria dan beberapa wanita berada didalam mobil dengan dandanan sangat menarik.


''Tuan, kau sedang melihat apa?'' tanya George.


''Lihat, Roberto sedang berbicara dengan seorang pria. Dan coba kau lihat di dalam mobil panjang itu, disana ada banyak gadis-gadis belia yang tidak mengerti mereka akan dibawa kemana, tampak mereka tertawa bahagia." ujar Bruno.


''Mungkin, mereka pikir, mereka akan diajak jalan-jalan atau diajak nonton bioskop.'' George berbicara sekenanya.

__ADS_1


''Tapi, coba kau lihat, pria itu menyerahkan sebuah dokumen kepada Roberto?" Bruno kembali mengamati teropong besarnya.


''Bukankah itu tujuan utama kita? Bukan gadis yang kau tahan itu?'' sela George dingin.


''Tapi, dia juga tujuan kita. Kau lupa kita butuh--'' Bruno menghentikan bicaranya dia menoleh melirik gadis itu yang sudah selesai menikmati burger itu. Namun, gadis itu sedang bermasalah, kenapa gadis itu seperti susah menelan. Lea tampak memukul tengkuknya lalu tangan satunya memukul dadanya dengan pelan.


''George, berikan gadis ceroboh itu minum. Lihat dia hampir mati karena tersedak makanan tapi dia terlalu gengsi untuk meminta minum.'' Bruno begitu kesal dengan Lea.


''kau terlalu mengasihi dia.'' balas George. Lalu dia membawakan satu botol kecil susu youggurt. Ia menyodorkan kepada Lea.


''Minum ini,'' perintah George.


Lea, ragu menerima minum itu dari tangan George namun karena sorot mata tajam George membuat Lea akhirnya menerima dengan ragu, ''Hampir mati tapi masih gengsi.'' sungut George.


Lea pun membuka tutup yougourt itu lalu meneguknya hingga tandas. Lega, akhirnya makanan itu turun juga ke ususnya.


''Lain kali kalau berniat memberi orang makanan itu disertakan minum juga, bukan sengaja membiarkan orang mati karena tersedak makanan.'' Lea, hendak melempar botol itu disembarangan lahan kebun anggur itu. Tapi, Bruno melompat menghampiri Lea, dia menahan tangan Lea dengan kasar.


''Kau seorang gadis tapi tidak tahu menjaga kebersihan lingkungan.'' Bruno merampas botol kosong itu dari tangan Lea, lalu dia membuangnya ketempat sampah yang tersedia didepan gubuk itu, ''Lihat tempat sampah didepan wajahmu tapi kau masih ingin mengotori lingkungan dengan sampah botol. Dasar gadis pemalas.'' Bruno berceramah panjang lebar. Tapi, yang diajak bicara, dia masa bodo. Sudah menjadi kebiasaan seorang detektif, mereka tidak boleh meninggalkan bukti sama sekali ditempat yang mereka datangi atau tempat mereka bersembunyi.


Setelah membuang sampah dikotak sampah, Bruno hendak kembali ke teropong nya untuk mengawasi Roberto.


''Kau jangan mengalihkan pertanyaanku, liht matahari mulai terbenam tapi mengapa kita masih berada di kebun anggur ini? Aku capek, ngantuk mau tidur. Terserah kalian berdua mau tidur atau tidak, aku tidak peduli. Karena, kalian berdua pria aneh.'' Lea melipat kedua tangannya di dadanya, dia seakan menantang Bruno dan George.


"Kata siapa kita pergi? Kita masih berada disini sampai tujuan ku tercapai." jawab Bruno.


"Ha? Disini? Lalu, mengapa temanmu meringkas semua barang bawaan tadi?" tanya Lea.

__ADS_1


__ADS_2