Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Kau tidak apa-apa?


__ADS_3

Bruno menunggu didalam kamar Lea, dia berdiri dijendela menatap keluar jendela sembari mengawasi helikopter milik Wiliam yang ada di dekat rumahnya.


Ceklek...


Mendengar pintu kamar mandi terbuka. Bruno langsung membalikkan badan ketika manik mata coklatnya bertemu dengan manik kehijauan, hatinya berdebar-debar, bibirnya sedikit tersenyum. Mata Pria itu menatap lekat Lea, apakah yang dikatakan George itu benar? Dia jatuh cinta?Bruno tidak bisa berbohong, pria itu benar-benar merindukan Lea. Gadis yang sudah membangkitkan perasaan dan gairahnya lagi setelah sepuluh tahun ia mati rasa.


''Ka...u." Kaget tentu gadis itu sangat kaget tujuh hari lamanya tidak bertemu Bruno. Gadis itu merindukan setiap ledekan Bruno, tapi Lea menghentikan langkahnya dia kurang yakin jika pria yang berdiri di jendela itu benaran Bruno. Bruno tidak memiliki rambut panjang menutupi sampai telinganya.Lea mengerjap-erjap untuk meyakini dirinya jika benar pria yang berada dijendela itu Bruno. Dia juga berusaha menutupi tubuhnya dengan handuk kimono yang dia kenakan, "Tutup matamu.Awas saja kalau ngintip." ancam Lea. Setelah yakin pria itu benar Bruno.


''Kenapa kau tidak mengenakan bajumu dari kamar mandi saja,'' Bruno langsung membelakangi Lea.


''Mana aku tau kau ada disini.'' Lea mencebik sembari mengambil pakaiannya, " Kau juga menghilang tidak pernah ada kabar," gumamnya lagi. Tapi, masih didengar Bruno. Gadis itu berlalu meninggalkan Bruno lagi dia membawa pakaiannya kembali ke kamar mandi.


''Kau terlalu cerewet gadis kecil,'' gumam Bruno.


♥️♥️♥️


''Apa kau sudah makan? Maid yang aku tugas menjaga kau apa dia benar baik padamu?'' tanyanya sembari menarik kursi untuk duduk berhadapan dengan Lea.


''Baik.'' jawab Lea singkat.


''Kau sudah makan?'' tanya Bruno membuat Lea menaikkan satu alisnya.


Bagaimana dia makan malam sementara sekarang saja baru pukul enam sore.

__ADS_1


''Aku pikir, aku belum rabun. Jam itu menunjukkan pukul enam sore, bukankah jatah makan malam aku pukul tujuh?'' sahut Lea.


''Aku yang salah. Apa kau ingin makan malam dengan ku? Kita makan disini, dikamarmu. Bagaimana kau setuju?'' Lea yang awalnya senang karena dikira mau diajak Bruno makan diluar akhirnya hanya bisa menghela napas p[anjang.


''Ya, kalaupun aku menolak kau pasti akan memaksa,'' sindir Lea.


Bruno terkekeh, kemudian dia meninggalkan Lea dikamar seorang diri lagi untuk membersihkan tubuhnya juga di kamarnya.


♥️♥️♥️


Jam makan malam pun tiba, dengan bantuan Maid, Bruno Membawa baki menuju kamar Lea. Sesampainya didepan pintu Bruno membuka pintu lalu melangkah masuk kamar Lea dengan membawa baki ditangannya.


Lea yang sementara berbaring diatas ranjang langsung bangun ketika melihat Bruno masuk membawa baki dengan beberapa susunan menu makanan dan dua yougurt didalam baki.


Lea tersenyum dia merasa aneh kenapa Bruno berubah baik dengan dirinya? Bisanya juga meledek atau dingin. Melupakan pertanyaan dalam hatinya, mata Lea langsung tertuju ke baki.


"Banyak sekali makanannya," ujar Lea tersenyum girang.


"Karena aku tahu mereka pasti memberikan kau makanan yang biasa kau makan. Kau pasti bosan dengan sajian makanan dari Maid?" Bruno meletakan hamburger didepan Lea, dengan satu piring kentang goreng.Kemudian, dia mengambil saos dan sambel lalu menuangkan diatas piring kecil yang disediakan juga diatas baki.


"Mau mayonaise?" tanya Bruno.


"Nggak. Aku nggak suka mayonaise." sahut Lea, sembari menyuapkan burger ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Keduanya mulai menikmati makan malam mereka, Lea sesekali memandang Bruno. Pria itu yang sudah mengetahui tingkah Lea membaurkan saja dia hanya menaikkan sudut bibir atasnya lalu kembali menikmati makan malamnya.


"Paman es,kau kemana aja tujuh hari menghilang tidak pernah datang menjenguk aku." Lea mencebik, "Bagaimana kabarnya Robert?" tanya Lea tiba-tiba.


"Uhuk,"


Bruno yang sementara makan langsung terbatuk-batuk ketika mendengar pertanyaan dari Lea. Dia meletakkan lagi hamburger itu diatas priing. Lea dengan cepat meraih gelas yogurt itu kepada Bruno.


"Ini minum dulu!" Sembari menepuk-nepuk punggung Bruno.


Bruno menerima yogurt dari Lea langsung meneguknya.


"Bagaimana?" tanya Lea sembari menelengkan kepalanya menatap wajah Bruno. Lalu ia mengambil tisu, menyeka air mata yang jatuh dari sudut mata Bruno.


Kemudian tisu itu dia masukkan ke dalam kotak sampah," Kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas.


"Tidak." Bruno meletakan lagi cangkir itu diatas meja.


"Maaf jika aku bertanya diwaktu yang kurang tepat." ucap Lea lagi.


"Nggak apa-apa. Kamu berhak tau Karena dia juga pamanmu." sahut Bruno menunduk. Pria itu menyesal kecolongan hingga B


Robert harus mati ditangan Wiliam.

__ADS_1


__ADS_2