Terpaksa Jadi Simpanan

Terpaksa Jadi Simpanan
10. Keinginan Maura


__ADS_3

2 minggu kemudian...


dari universitas mereka mengadakan sebuah sikap kemandirian, yang mengharuskan mereka magang di perusahaan atau di mana pun untuk mendapat nilai. Pak Berry Dosen mereka terkenal dengan memberi tugas yang mengharuskan kemandirian dan selalu berusaha di luar kelas mereka.


Mereka semua boleh memilih dimana mau mengadakannya, pak Berry tak memberi patokan dan penempatan untuk anak-anaknya. Maura memberi usul untuk mengajak Livia magang di kantor papanya, ketika mereka bertiga sedang kumpul duduk di kantin saat jam makan siang. Riska pun setuju karena luvia belum tahu mau magang di mana, sedangkan Riska dia magang di kantor pamannya yang bertempat tinggal di luar kota.


Mereka diberi waktu magang selama 2 bulan, dan selama itu kampus di libur kan bagi yang magang saja. Livia pun setuju dengan perkataan mereka berdua, Livia juga belum mengetahui bila Alex adalah papanya Maura. Keesokan paginya, Livia dan Maura akan pergi ke kantor papanya, mereka berdua berjanji untuk bertemu di parkiran kantor tersebut.


Livia sudah tahu alamat kantor tersebut, karena dulu ia pernah mengantarkan kue ulang tahun untuk papanya Maura, ketika Livia bekerja di sebuah toko bakery. Maura pun merasa senang dan dia ingin memperkenalkan Livia kepada papanya, agar papanya mengetahui bahwa teman baiknya dari dulu sampai sekarang adalah Livia.


Saat Bertemu dengan Maura di lantai satu, Livia segera di ajak masuk ke dalam. Seluruh karyawan Alex melihat mereka berdua dengan tatapan penuh tanda tanya. Kebetulan Alex saat itu sedang berada di ruang rapat bersama Clara sekretarisnya. Dan Robby yang menjaga ruangan Alex bila ada tamu atau berkas yang akan di berikan kepada bos pimpinan mereka.


"Robby dimana papa?" tanya Maura yang tiba-tiba sudah muncul di hadapannya.


Livia menyadari akan hal itu, dan Robby juga terkejut melihat Livia berada di kantor Alex bersama Maura di depannya. Dengan wajah datar, Robby bertanya kepada Maura siapa yang ada di sampingnya itu.


"Kau malah balik bertanya, papa dimana?"


"Dari tadi aku menelponnya tapi tidak menjawabnya?!" ujar Maura yang sedikit kesal dengan pengawal papanya.


"Tuan Alex sedang rapat bersama klien nya dan sebentar lagi juga akan selesai." Robby masih terus menatap Maura dan Livia.


"Oh, kalau begitu kami ingin menunggunya di dalam ruangan papa saja."


"Oh iya, ini adalah teman baik ku. Kau jangan coba-coba mengganggunya ya?!" Maura segera masuk ke ruangan Alex dengan Livia.


Robby masih terus menatap Livia, begitu juga dengan gadis itu. Namun Robby memberi sebuah kode kepada Livia agar tetap diam dan tenang. Robby segera menyuruh pelayan kantor membawakan minuman dan camilan ke ruangan Alex untuk Maura dan Livia.


Robby segera pergi menemui Alex di ruang rapat, dan menunggunya sampai selesai semua. Tangan Robby memberi kode bahwa mereka harus berbicara berdua saja, segera Alex menyuruh Clara untuk membawakan semua berkas ke ruangan kerjanya. Itu alasan agar Alex dan Robby bisa berbicara berdua saja di ruangan rapat.

__ADS_1


Robby memberi tahu bahwa Maura datang ke kantor ini dan sekarang sedang ada di ruangan kerjanya menunggu. Alex sedikit tidak terkejut karena itu hal yang biasa, pemikiran Alex pasti Maura putrinya datang bersama Mira Tante yang ingin dijadikannya istri untuk Alex.


"Kau bilang ada yang harus di bicarakan?"


"Apakah itu yang mau kau bicarakan kepada ku?"


"Bukan kah itu suatu yang memang sudah sering terjadi, dan aku sudah tak terkejut lagi mendengarkan itu." ucap Alex yang tak tahu sebenarnya.


Setelah berkata demikian Alex ingin segera pergi dari ruangan itu, dengan cepat Robby mengatakan bahwa Maura tidak datang bersama Mira seperti biasa. Alex pun menghentikan langkah kakinya, lalu berbalik dengan perasaan ragu yang sekarang ada dalam benaknya.


"Lalu apa maksudmu Robby?!"


"Dengan siapa Maura datang ke sini?" Alex bertanya dengan penasaran.


"Kali ini dia datang bersama sahabatnya, dan ingin bertemu dengan anda."


"Mereka sengaja menunggu Anda di ruang kerja." ujar Robby yang belum mengatakan nama teman dari Maura.


"Katakan siapa nama teman dari Maura?" tanya Alex masih dengan suara datarnya.


Robby terdiam dan belum bersuara, Robby hanya menatap ke arah Alex bos perusahaan itu.


"Katakan aku bilang!" Alex mulai meninggikan suaranya.


"Dia adalah Livia." Robby pun membuka suara dan menyebutnya juga.


Alex terdiam dan dia tidak dapat berbicara apapun lagi, dia membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ruang kerjanya. Dirinya merasa tak percaya, dengan apa yang dikatakan oleh Robby pengawal pribadi, orang kepercayaannya di kantor itu.


Alex dengan cepat melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerjanya, sampai di depan pintu Alex menarik nafas dan mengatur detak jantungnya serta postur tubuhnya. Agar tidak terlihat begitu panik dengan kabar yang dikatakan oleh Robby kepadanya.

__ADS_1


Alex membuka pintu ruang kerjanya masuk dengan melangkahkan kaki begitu gagah, dan berpura-pura tidak mengetahui apapun. Ketika Alex terus berjalan lalu duduk di kursi kerjanya, Maura pun datang menghampiri dengan sikap manjanya seperti biasa. Livia melihat semuanya itu, jantungnya berdetak kencang, bahkan wajahnya seketika menjadi sedikit pucat.


Alex menatap ke arah Livia, mereka berdua hanya saling berpandangan satu sama lain. Tanpa melakukan apapun atau berbicara apapun, Livia hanya duduk diam di sofa yang ada di ruang kerja Alex. Maura dengan cepat memperkenalkan Livia, temannya ke Alex dengan perasaan senang.


Maura juga menceritakan maksud dan tujuan mereka datang ke kantornya Alex, saat itu Maura begitu banyak cerita dan menjelaskan bahwa Livia ingin magang di kantor papanya.


saat itu hanya Maura yang banyak bercerita dan menjelaskan kepada papanya, sedangkan Livia hanya duduk dan memperhatikan pria paruh baya yang ia kenal sedang berada di hadapannya.


Maura begitu manja kepada Alex agar dapat mengizinkan Livia magang selama 2 bulan di kantornya itu. Alex pun menyetujuinya dan Maura terlihat senang akan hal itu. Alex berdiri di barengi oleh Livia dan mereka saling berjabat tangan seolah tidak pernah kenal.


"Selamat bergabung dan belajar di perusahaan saya Livia." Alex berkata sambil berjabat tangan dengan Livia.


" Terima kasih pak Alex." balas Livia dengan senyuman.


Alex dan Livia sedang berpura-pura di depan Maura, mereka tak ingin Maura mengetahui hubungan mereka berdua saat ini. Alex juga belum berencana akan memberi tahu kepada Maura putrinya itu, pasti Maura akan sangat terkejut bila mengetahuinya. Karena Alex sendiri sangat terkejut saat mengetahui kalau Livia adalah sahabat dari putrinya. Begitu juga Livia yang baru mengetahui Alex adalah papa dari sahabat baiknya.


Robby di ruangannya...


"Pantas dari awal Livia tak asing bagi ku, ternyata dia gadis yang pernah mengantarkan kue ultah ke kantor ini saat itu." gumamnya dalam hati.


Tok, tok, tok...


Terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar menyadarkan lamunan Robby seketika. Pintu itu di buka oleh Clara yang datang mengantar beberapa berkas untuk di salin oleh Robby ke laptopnya dan menyimpan beberapa file juga.


"Kau tahu tidak Robby, wanita yang semalam bersama dengan Alex?"


"Dan siapa gadis yang bersama Maura di ruangan papanya?" Clara terlalu kepo dengan urusan orang.


"Lebih baik kau tutup saja mulut mu itu, dan jangan mengurusi urusan orang lain." ujar Robby yang tidak ingin membahas kehidupan bos Alex.

__ADS_1


Tring...


Ponsel Robby berbunyi yang menandakan pesan masuk di ponsel itu. Alex mengirimkannya sebuah pesan di ponselnya. Dengan cepat Robby pun mengerti dan segera pergi untuk melaksanakan tugas yang di berikan kepadanya.


__ADS_2