Terpaksa Jadi Simpanan

Terpaksa Jadi Simpanan
27. Bertemu di Rumah sakit


__ADS_3

Bahkan Maura sudah jarang keluar malam dan menemui Mira seperti biasa dia lakukan. Maura juga tidak ingin ikut campur urusan papanya dan Livia sahabatnya itu, Alex pun berpikir mungkin saat ini adalah waktu yang pas untuk menjelaskan hubungan dan kehamilan Livia pada Maura.


Malam itu Ramon tak pulang ke rumahnya, ia lebih memilih untuk menemani Livia di rumah sakit. Pelayan itu menceritakan terjadinya kebakaran itu, hingga mereka sampai selamat dalam musibah tersebut.


Alex menyuruh Robby untuk menyelidiki kebakaran rumah peninggalan ibunya Livia saat itu. Dan Alex juga menyuruh Robby untuk membersihkan tempat itu dan mencari barang bukti bersama polisi.


"Aku tak akan maafkan orang yang sudah mencelakai mu sayang." ucap Alex sambil menggenggam tangan Livia yang belum sadarkan diri.


Alex tertidur di sebelah Livia saat itu, dan dia memeluk wanita pujaan hatinya. Alex sengaja memesan kamar VIP untuk Livia dan juga pelayanannya, di dalam kamar itu ada satu bed besar seperti di apartemen mereka. Alex dan Livia tidur di satu bed yang sama, dan selama 24 jam Alex terus berada di dekat Livia.


"Mas..., mas Alex, ibu..." Livia memanggil mereka tanpa sadar bahwa ibunya sudah meninggal.


Tet... tet... tet...


Alex memencet bell untuk memanggil dokter ataupun suster, agar datang ke kamar rawat Livia segera. Karena Livia telah sadar dan harus segera memanggil dokter untuk mengecek keadaannya kembali. Alex sedikit khawatir dengan Livia, namun keadaan bayinya sehat dan selamat di dalam kandungan.


Dokter pun datang bersama kedua susternya memeriksa Livia secara teliti, syukurnya keadaan Livia sekarang jauh lebih baik daripada kemarin. Alex pos senang mendengar kabar baik dari dokter tersebut, iya segera mencium dahi Livia dan juga kedua pipi wanita itu.


Dokter dan suster tersebut merasa heran mereka terlihat seperti sepasang kekasih, namun dengan usia yang berbeda, dokter dan suster itu sedikit terkejut. Seakan merasa canggung melihat kedua sejoli yang beda usia, begitu romantis di depan mereka. Alexa dapat menahan rasa bahagianya ketika mendengar kabar baik dari dokter itu, sehingga ia tidak merasa canggung untuk memeluk dan mencium Livia yang tengah mengandung anaknya.

__ADS_1


Alex pun menyuruh Robi untuk membawa beberapa makanan sehat dan juga beberapa makanan serta pakaian untuk Alex. Sudah dua hari Alex berada di rumah sakit, namun pakaian bersihnya sudah habis, ketika malam itu Robi membawanya. Robi pun segera bergerak ketika bosnya menyuruh dirinya untuk melakukan sesuatu hal ini Robi membawa beberapa pakaian bersih dan juga makanan untuk diantarkan ke rumah sakit.


Maura


"Robby kau mau ke mana?" tanya Maura.


"Maaf Maura, aku ingin mengantarkan makanan dan juga pakaian untuk papamu." Robby hanya mengatakan itu.


"Aku ingin ikut, aku tahu kau pasti akan mengantarkan makanan dan pakaian itu ke rumah sakit bukan?"


"Aku sudah tahu, papa ada di sana menunggu wanita itu, yang sedang terbaring di atas kasur rumah sakit." Maura berkata kepada Robby bahwa dirinya sudah mengetahui.


"Tapi Maura. Kau tidak perlu ikut ke sana, pasti papamu akan marah jika melihat ada kau di sana." Ucap Robby agar Maura tidak ikut dengannya.


"Hah...., baiklah jika kau bersikeras." Robby menghela nafasnya, ia tidak dapat berbuat apapun selain membawa Maura dengannya ke rumah sakit itu.


Robby dan Maura pun pergi ke rumah sakit, menemui Alex dan juga Livia di sana. Robby sudah mengirim pesan secara diam-diam kepada Alex, sehingga ia sudah mengetahui bahwa Maura ikut bersama pengawalnya yang bernama Robby itu.


"Sungguh waktu yang tepat, apabila Maura mengetahuinya saat ini, bahwa Livia sedang mengandung anak dariku." pikir Alex .

__ADS_1


Brem....


Robby pun mengemudikan mobil yang menuju rumah sakit, didampingi dengan Maura yang duduk di sebelahnya sambil menatap luar lewat jendela. Maura berpikir apa yang harus ia lakukan agar Livia mau meninggalkan papanya.


Sesekali Robby menatap Maura, pria itu mengerti apa yang dirasakan oleh gadis yang berada di sampingnya itu. Namun Alex bos dari Robby sudah memilih tambatan hatinya, hanya saja wanitanya itu adalah sahabat dari Maura yang menjadi perpecahan di antara mereka.


Sedangkan Mira bukanlah wanita yang diharapkan oleh Alex, dan Robby sudah mengetahui bagaimana liciknya Mira. Clara juga merupakan wanita licik yang hanya ingin menjadi nyonya Alex di rumah dan juga di kantor, ia ingin hidup mewah dan memiliki harta secara instan dengan terus menjadi wanita Alex.


Beda dengan Livia yang tulus kepada Alex, Bahkan ia tidak pernah meminta atau terlihat ingin menjadi nyonya besar dalam keluarga Alex. Namun kisah asmara Alex dan Livia harus terbentur, dengan adanya Maura yang tidak menyetujui dengan hubungan mereka berdua. Sehingga Alex dan Livia harus menunggu untuk beberapa waktu menjelaskan kembali kepada Maura, agar putrinya itu mengerti dengan apa yang diinginkan oleh.


Alex juga ingin membuka mata Maura tentang Mira, tante yang selalu ia banggakan dan ingin ia jadikan Mama baginya. Namun belum saatnya untuk mencari tahu tentang Mira saat ini. Tetapi alat sudah mengetahui bahwa Mira dengan sengaja menjerat dirinya agar dapat segera menikah dengannya. Alex dan Robby sudah memasang beberapa titik kamera, di apartemen milik pribadinya yang baru. Dan semua bukti sudah ada pada Alex dan Robby. Saat ini mereka hanya sedang menunggu Mira, untuk jalan duluan dengan rencananya.


Sampai di rumah sakit...


Livia sudah tertidur, di saat ia sudah menghabiskan sarapan paginya dan juga meminum obat. Pada saat itu Robby mengetuk pintu kamar tersebut, dari belakang Robby telah berdiri Maura dengan wajahnya yang merasa tak senang.


Tok, tok, tok...


"Tuan ini pakaian yang Anda minta dan beberapa makanan untuk anda dan Nona Livia." ucap Robby sambil menyerahkan bungkusan itu kepada Robby.

__ADS_1


Maura duduk menunggu diluar bersama Robby, karena dia mengetahui bahwa Livia sedang tidur dan beristirahat. Namun ada yang membuat Maura heran melihat perubahan dengan kondisi tubuh Livia yang sedikit berisi tak seperti biasanya.


Alex segara mandi dan berganti pakaian, mereka berdua menunggu Alex di kursi yang ada di luar kamar Livia. Robbi hanya dia memperhatikan gadis yang duduk tepat berada di sebelahnya, belakangan ini marah terlihat sedikit lain perilakunya. Dia lebih sering banyak berdiam diri dan tidak begitu banyak marah-marah, beda dengan ia yang dulu sebelum pergi dari rumahnya, ia lebih banyak mengutarakan semua yang ada di dalam hatinya dengan emosi dan juga kemarahan.


__ADS_2