
Di dalam ruangan Alex...
Alex memeluk Maura karena sangat khawatir dan merindukannya saat itu. Sudah ada hampir seminggu Maura pergi tanpa ada kabar sedikit pun, Alex sangat sayang pada Maura, hanya putrinya seorang yang ia punya sekarang. Makanya Alex tak mau kalau Maura putrinya salah dalam mengambil sikap dan keputusan dalam segala hal, yang nantinya akan menyakiti hatinya sendiri. Dan tentang Maura dengan sahabatnya, nanti Alex akan mencoba untuk memberikannya penjelasan dan pengertian agar Maura mau mengerti.
Sore itu...
Ketika Alex pulang dari kantornya, ia menyempatkan diri untuk mengunjungi Livia yang berada di rumah ibunya. Alex ingin melihat keadaan Livia yang saat ini tengah mengandung anaknya. Dokter menyuruh Livia untuk banyak beristirahat selama tri semester ini, Livia tampak begitu lemas karena tidak nafsu makan dan selalu muntah terus.
Sebelum Alex tiba di rumah Livia, ia membawakan beberapa makanan kesukaan Livia, maksud hati Alex agar Livia bersemangat untuk makan dan mengisi tubuhnya, agar kembali berenergi dan semangat. Tetapi Apa yang diharapkan oleh Alex tidaklah berhasil, menu makanan yang biasanya adalah menu favorit bagi Livia namun tidak untuk saat ini, dirinya enggan melihat bahkan mencium aromanya saja Livia sudah mual.
Mira dan Maura...
Mira menceritakan semua kejadian yang terjadi pada dirinya dan Alex saat itu, bahkan dirinya menunjukkan foto sebagai barang bukti kepada Maura, bahwa apa yang dikatakannya adalah benar dan jujur tanpa ada kebohongan. Dan Mira saat ini mengaku bahwa ia sudah telat datang bulan beberapa hari, Mira mencoba untuk mencuci otak Maura dan menyuruh Maura untuk segera papanya bertanggung jawab kepada dirinya.
Mira sungguh licik mempererat Maura agar Alex segera menjadi miliknya, Bahkan ia sudah merencanakan dengan matang, membuat sebuah hasil pemeriksaan dari dokter kandungan yang menunjukkan bahwa ia tengah hamil. Surat itu baru akan diberikan kepada Maura sebagai barang bukti di minggu depan.
"Kali ini aku pasti akan mendapatkan mas, aku akan membuat anakmu sebagai alat agar kita dapat bersatu dan hidup bersama." dalam hati Mira merasa puas dan penuh percaya diri bahwa seluruh rencananya akan berjalan dengan lancar.
Saat ini Maura tidak pulang ke rumahnya, ia lebih suka bermalam di rumah Mira dan tidak ingin pulang tinggal bersama Alex papanya sendiri. Sedangkan Kevin yang mengetahui akan hal itu, selalu mengajak Maura untuk keluar dan menjauhi Mira. Dengan berbagai alasan, Alex juga menyuruh Kevin untuk penjaga Maura dan menjauhkan putrinya itu, dari Mira gadis licik yang ia tahu.
__ADS_1
Malam itu Kevin mengajak Maura untuk keluar rumah dan bersenang-senang berdua saja, sedangkan Mira yang tidak diajak ia pun mencari alasan untuk tidak mencari masalah kepada Kevin. Mira sekarang telah mengetahui bahwa Kevin adalah seorang pria yang sangat mengerikan, persis seperti apa yang dikatakan oleh Maura.
Malam itu ketika Kevin tahu akan rencana licik Mira, Kevin tidak segan mengeluarkan pisau yang berada di dalam saku jasnya, ia mengarahkan belati itu ke arah leher Mira, dengan tatapan tajam dan tanpa rasa takut, ia menodongkan belati itu sehingga membuat Mira begitu ketakutan.
Kevin merupakan bos besar sebuah gangster di Singapura, namun identitasnya tidak diketahui oleh siapapun selain anggota-anggotanya saja. terkecuali Alex ia sangat mengetahui bagaimana Kevin, maka dari itu ketika Maura menghilang, Alex segera menghubungi Kevin karena anak buah Kevin tersebar di berbagai negara, namun sangat rahasia dan tersembunyi.
Di klub malam...
Kali ini Maura dapat bergoyang di lantai dansa sebuah klub malam, dia dengan senang berdansa bersama Kevin di sana. Di dalam klub itu pemilik klub pun terkejut melihat Kevin yang hadir di sana, ternyata pemilik klub itu adalah anak buah dari Kevin juga. Mereka semua menghormati Kevin, tidak ada yang berani berbuat macam-macam kepadanya.
Alunan musik kencang tidak pernah putus di dalam ruangan itu, Maura dan Kevin pun sudah menghabiskan beberapa gelas anggur beralkohol. Semakin malam suasana klub itu semakin ramai, suasananya membuat Maura dan Kevin semakin menjadi semangat. Karena hari sudah semakin larut malam, Kevin pun mengajak pulang Maura dari klub tersebut, karena ia takut gadis itu akan jatuh sakit apabila terlalu kecapean dan terlalu banyak minum.
Namun di saat Kevin mengajak Maura pulang gadis itu bersikeras tidak ingin pulang ke rumah, dengan susah payah Kevin menarik Maura bahkan menggendong tubuh gadis itu untuk dapat masuk ke dalam mobil yang Kevin bawa. Beberapa kali Maura memberontak, disaat Kevin ingin membuka pintu mobil itu, dengan cepat Kevin mengunci pintu mobil itu agar Maura tidak dapat keluar dari dalam mobilnya.
Dengan cepat Kevin menginjak pedal gas dari mobil itu membuat Maura berteriak ketakutan, karena Kevin mengemudikan mobil itu dengan kecepatan penuh. Beberapa lama kemudian mereka sampai dan Kevin menghentikan mobil Maura yang ia kendarai di sebuah parkiran tempat penginapannya. Dengan masih dalam keadaan mabuk setengah sadar, Kevin membawa Maura keluar dari mobil itu lalu masuk ke dalam gedung penginapan di tempat Kevin menginap.
Setelah pintu lift pun terbuka, mereka berdua pun masuk ke dalam lift. Kevin menekan tombol 3 yang menandakan, bahwa kamarnya terletak di lantai 3 saat itu. Maura yang sudah tak dapat mengontrol dirinya, selalu mengoceh dan marah-marah kepada Kevin. Karena membawanya pulang dari klub tersebut, bahkan saat di dalam lift Maura memukul-mukul Kevin dengan kedua tangannya.
"Aku tidak mau pulang...!"
__ADS_1
"kau selalu mengaku kesenanganku, Aku tidak suka ada kau bersama ku!"
"Hari-hariku semakin kacau bila kau bersamaku, aku membencimu!"
"Kau sama seperti papaku, yang tidak mengerti akan perasaanku saat ini." Ucap Maura yang tiba-tiba pingsan terkulai, ia tertidur diperlukan Kevin.
"Hah, dasar wanita sangat merepotkan!"
"Kalau karena bukan aku menyukaimu, aku pun tak mau bersamamu."
"Karena kau sangat merepotkan dan begitu cerewet." Kevin pun ikut mengomel dan menggendong Maura saat pintu lift terbuka setelah sampai di lantai 3.
Kevin pun berjalan menuju ke kamarnya, Kevin membuka pintu kamar itu dengan cepat lalu meletakkan Maura begitu saja di atas ranjang. Pria itu pergi mengambil air dingin dari kulkas untuk ia minum saat itu.
"Sungguh sangat menyebalkan, bagiku semua wanita sama saja. Tak ada yang bisa diandalkan, mereka semua selalu hanya tahu menyalakan dan memarahi orang."
"Dasar kau nenek sihir!"
"Aku sangat membencimu tapi aku tak bisa pergi jauh darimu."
__ADS_1
Bruk!
Kevin terjatuh di atas tempat tidur, tepat berada di sebelah Maura yang sudah tertidur. Kini mereka berdua tak sadarkan diri karena sangat kelelahan dan sudah mabuk berat. Malam itu pun mereka tidur sekamar lagi, jangan berbagi kasur seperti di saat mereka berada di London.