Terpaksa Jadi Simpanan

Terpaksa Jadi Simpanan
Bab 42. Tak akan di lepas


__ADS_3

"Livia, kali ini tak akan aku lepaskan lagi kamu, setelah tak ada yang bisa menghalangi cinta ku padamu."


"Anak itu...? Yang bersama Livia tadi, apakah itu anak ku?"


"Dia sudah lahir, dan Livia sudah banyak berjuang membesarkannya."


"Aku harus bisa bersamanya kali ini, dan bersama dengan anak ku." Alex kembali bersemangat dalam hidupnya.


Livia yang pergi dan masih mengemudikan mobilnya diam-diam menangis, setelah sejak lama tak pernah bertemu lagi dengan Alex. Padahal dirinya masih belum bisa melupakan sosok pria itu dalam hidupnya, Alex masih ada di hatinya sampai saat ini. Tapi rasa sakit yang ia rasakan belum bisa membuka lagi untuk kembali bersama, Livia juga tak mengerti yang terjadi pada dirinya.


Saat itu yang ia tahu bahwa Maura tidak suka kalau dirinya dan Alex bersama, apa lagi menerima Livia untuk menjadi mamanya karena menikah dengan Alex papanya. Livia masih belum memberi tahukan kepada Kenzo bahwa Alex itu adalah Papa kandungnya. sampai saat ini Livia dan Alex belum juga menikah, rencana bahagia mereka yang dahulu diimpikan oleh Alex untuk bersatu dengan Livia telah sirna, karena rencana jahat Mira yang selalu membuat Maura berikut untuk menjalankannya.


Namun kali ini Alex benar-benar akan menjalankan rencana bahagianya itu dan memiliki keluarga yang harmonis. Maura dan Alex akan datang ke rumah Livia besok malam, Alex akan mempersiapkan dirinya untuk menemui Livia dan juga anaknya. Ia membeli beberapa mainan, coklat dan juga sebuket bunga untuk diberikan kepada Livia.


Maura sangat senang melihat antusias papanya saat itu, bahkan kondisi papanya kembali semangat seperti papanya yang dulu lagi. Itu yang membuat Maura menjadi bahagia, dan tak akan menghalangi lagi hubungan mereka berdua. Maura juga ikut membantu memilih pakaian untuk di kenakan oleh papanya malam nanti bertemu dengan Livia.


******


Hari sudah malam, Livia dan Kenzo hendak makan malam bersama di rumah, terdengar suara bel berbunyi.


Ting, tong...


Livia menolehkan pandangannya ke arah ruang tamu sejenak dan berhenti untuk duduk di kursi, wanita itu pun berdiri kembali dan meninggalkan Kenzo di meja makan itu.


"Sebentar ya sayang, nanti mama akan kembali lagi. Duduklah dengan baik dan ikuti perkataan mama." ucap Livia.


"Baiklah ma," Kenzo pun mengerti.

__ADS_1


Livia berjalan menghampiri pintu rumahnya, perlahan memutar gagang kunci pintu tersebut.


Ceklek...


Pintu pun dibukanya, dan melihat ke arah luar untuk mengetahui siapa di luar sana. Betapa terkejutnya Livia melihat Alex dan Maura berada di depan rumahnya. Dengan cepat Livia masuk dan ingin menutup pintu rumahnya kembali, tapi sayangnya Alex lebih dahulu menghalangi pintu itu tertutup dengan sepatunya. Livia terus menekan pintu itu agar dapat tertutup, tanpa tahu kaki Alex berada di sana dan menahannya.


Alex menolak dengan kuat sampai pintu itu terbuka paksa oleh pria itu. Livia pun tak dapat menahan Alex masuk ke rumahnya bersama Maura.


"Mau apa kalian ke sini?!"


"Bukan kah kau Maura sudah berjanji akan tidak memberi tahukan papa mu?!" Livia sangat ketus berbicara kepada Maura sahabatnya.


Maura hanya diam saja dan ia tak ingin ikut campur dalam urusan antara papanya dan Livia sahabatnya itu. Maura segera berjalan menghampiri Kenzo yang tengah makan malam di meja makannya. Dengan cepat membawa Kenzo pergi ke ruangan yang lain untuk tidak menyaksikan dan mendengar pembicaraan Alex dan Livia disana, yang akan membuat adanya ke salah paham lagi nantinya.


"Sayang ikutlah dengan kakak ke taman belakang, aku juga belum makan malam."


Livia melihat ke arah Kenzo yang menatap ingin adanya kepastian dari mamanya, Livia pun mengangguk dan memberi kode bahwa Kenzo harus ikut dengan Maura ke sana. Anak itu pun mengerti dan menurutinya, Maura menggandeng tangan adiknya itu.


Dan tak beberapa lama setelah Maura dan Kenzo tak terlihat lagi, Alex pun membuka pembicaraan antara mereka berdua. Alex menghampiri Livia dan berjalan maju ingin mendekat. Namun Livia malah mundur dan tak ingin pria itu mendekatinya, Livia berbalik dan menghindar dari Alex seketika. Alex pun mengerti dan tak meneruskan langkah kakinya yang ingin sekali berada di hadapan Livia dari dekat.


"Livia, mengapa kau terus menghindar dan bahkan pergi tanpa ada jejak sekali pun."


"Bertahun-tahun aku mencari mu sayang?!"


"Bertahun-tahun aku sangat merindukan mu?!"


"Bahkan aku hampir gila dan ingin mengakhiri hidup ku sendiri karena tak ada kabar dari mu." Alex menangis karena luapan segala rasa yang tercurahkan.

__ADS_1


"Tolong Alex, jangan katakan kata-kata manis mu saat ini."


"Aku bukan Livia yang masih belia dapat kau tipu daya dengan semua bulan mu." Livia berbalik ke arah Alex dengan tatapan tajam dan sedikit emosi.


"Ucapan mu tak seindah dengan perbuatan yang kau berikan kepada ku!"


"Saat aku tahu kau telah tidur dengan wanita yang bernama Mira, adik ipar mu sendiri!"


"Bahkan ia tengah mengandung benih mu di dalam rahimnya." Livia menjelaskan dan mengingat kembali apa yang pernah ia alami saat itu.


"Hiks!


"Hiks!


Livia menangis dan terduduk di kursi meja makan itu sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Alex mencoba berjalan kembali dan ingin memeluk Livia di saat sedang terluka.


"Tolong kau jangan mendekat, aku tak mau tubuh ku ini kembali menjadi bayang-bayang diri mu dan tergantung lagi pada mu."


"Pergilah kau dari kehidupan ku dan anak ku, kami sudah terbiasa bahagia tanpa adanya ke hadiran mu, di rumah ini atau pun di dalam hidup kami berdua." Livia dengan ketus mengatakan itu pada Alex.


Hati Alex sangat sakit mendengarnya, tapi pria itu terus mengatakan apa pun dan menjelaskan bahwa itu semua hanya salah paham dan merupakan rencana Mira yang ingin menjebak Alex agar segera di nikahi olehnya. Namun Livia masih tidak percaya, Maura juga kemarin sudah menjelaskan kepada Livia sahabatnya, Livia tetap tidak percaya dengan yang mereka katakan padanya.


"Baiklah bila kamu tak ingin kita bersama kembali, tapi setidaknya, izinkan Kenzo mengetahui bahwa akulah papa kandungnya."


"Dan aku sangat ingin mendengar ia memanggil ku papa." Alex meminta izin kepada Livia atas haknya untuk bisa bersama dengan anaknya.


"Papa...?!" Kenzo berlari menghampiri Alex.

__ADS_1


Livia terkejut mendengar Kenzo memanggil Alex dengan sebutan papa. Alex pun berlutut menyambut Kenzo dalam pelukannya, Maura tersenyum melihat Alex memeluk anaknya itu. Livia hanya berdiam diri dan tak bisa berbuat apa-apa, karena itu menyangkut kebahagiaan Kenzo putranya.


__ADS_2