
Alex datang ke rumah Livia dengan menaiki taksi, Robby di sana sedang membantu Livia dan tetangganya untuk segera memandikan ibunya yang akan di makamkan pukul 10:00 nanti di pemakaman umum di daerah rumah mereka. Livia menangis histeris ketika ibunya sudah dikafani, dirinya merasa belum rela ibunya meninggalkannya.
Alex datang dan memeluk Livia saat itu, semua orang melihat ke arah Alex yang begitu tampan itu. Semua orang berbisik-bisik dan ingin tahu pria yang memeluk Livia dengan penuh kelembutan. Mereka semua iri melihat Livia yang mendapatkan pria yang begitu tampan tapi tak sepantaran usia mereka. Ibunya Livia sudah di makamkan, dia pulang ke rumahnya bersama Alex dan Robby yang masih terjaga di depan rumah Livia. Dia semakin bingung karena harus hidup seorang diri saat ini.
Hoek!
Hoek!
wajah Livia terlihat pucat Bahkan ia muntah beberapa kali di kamar mandinya, tiba-tiba ia jatuh pingsan tak sadarkan diri setelah keluar dari kamar mandi siang itu. semua para tetangga terutama ibu-ibu berhamburan menghampiri Livia yang telah jatuh di atas lantai.
Alex segera menghampirinya, ketika mengetahui Livia pingsan di depan kamar mandi rumahnya. Dengan cepat Alex menyuruh Robby untuk mengantarkan mereka berdua ke rumah sakit terdekat. Alex khawatir dengan keadaan Livia, sebab dari semalam dirinya belum makan dan kini wajahnya terlihat sangat pucat.
Sampai di rumah sakit...
"maaf Pak, tolong menunggu di luar sebentar, karena kami akan memeriksa kondisi pasien saat ini."
"Tapi dokter Saya ingin tahu bagaimana dengan kondisi kekasih saya saat ini!" Alex mengecek ingin tetap berada di dalam ruangan itu.
Robby pun menarik Alex untuk tetap duduk di luar ruangan tersebut, Robby mencoba menenangkan Alex bosnya itu. Tak beberapa lama kemudian, suster pun membuka pintu ruangan tersebut. Alex pun disuruh masuk dan dipersilahkan duduk, sementara suster memapah Livia untuk duduk di sebelah Alex di hadapan dokter.
"Bagaimana dengan Livia kekasih saya Dok?!" tanya Alex secara mengganggu karena ingin tahu apa yang tengah terjadi kepada Livia.
"Oh ini ternyata kekasih bapak?"
"Saya pikir..., maaf Pak kalau saya lancang." ujar dokter itu.
"Begini Pak sebenarnya nona ini tidak mengidap penyakit apapun. kondisinya sangat baik dan tidak ada kekurangan apapun di tubuhnya." dokter itu menjelaskan kepada Alex dan juga Livia.
__ADS_1
"Lalu bagaimana ia dapat pingsan?!"
"Bahkan ia sempat muntah dan mual di rumahnya sebelum ia jatuh ke lantai tak sadarkan diri!" Alex sedikit kesal dengan pernyataan dokter yang tidak langsung mengatakannya.
"Sekali lagi, saya ucapkan selamat ya Pak. Ternyata kekasih anda sedang mengandung saat ini."
"Sekarang sudah masuk 3 Minggu dan harus banyak istirahat di rumah."
"Jangan lupa obat dan Vitaminnya di minum, agar bayinya sehat di dalam." Dokter itu memberikan sebuah kertas yang berisikan resep yang harus di tebus oleh Alex.
Alex terdiam dan ia sangat senang mendengarnya, kali ini Livia tengah mengandung anaknya. Betapa bahagia hati Alex sampai ia berterima kasih kepada Dokter beberapa kali karena mendengar berita bahagia dari Dokter itu. Alex dan Livia pun berpamitan untuk segera pulang setelah menebus vitamin dan obat di apotik lantai bawah rumah sakit itu.
Alex menyuruh Robby mengantarkan mereka berdua ke rumah Livia karena akan mengadakan acara untuk almarhumah ibunya Livia. Dan sampai hari ke tiga Robby tetap harus menemani Livia di sana berjaga-jaga. Namun Livia tak sendirian, Alex mengirim pelayan untuk Livia di rumahnya. Livia tak di berikan bekerja oleh Alex, karena kondisi tubuhnya sangat lemah saat ini.
*****
Semakin hari mereka semakin akrab, sebab Kevin selalu memberi kelembutan pada Maura dan melayaninya seperti tuan putri di saat kakinya masih sakit. Hari itu Maura sangat bosan di Hotelnya, ia meminta Kevin untuk membawanya keluar malam ini ke sebuah klub malam yang ada di London.
Maura sudah sangat terbiasa pergi ke tempat seperti itu bersama Mira, semenjak mengenal Mira, Maura pun jadi suka bersenang-senang ke klub malam. Namun Kevin tidak mau menyetujuinya begitu saja, ia memberi persyaratan kepada gadis itu. Syarat itu pun ditolak oleh Maura, sebab syaratnya dia harus pulang ke Jakarta. Sementara Maura tak ingin pulang ke sana, dirinya sudah kecewa dengan papa dan juga sahabatnya.
Tring...
Tring...
"Hallo?" Mira menjawab ponselnya.
"Hallo Tante, ini Maura." pekik Maura dari pembicaraannya.
__ADS_1
"Oh, Maura anak Tante...!"
"Sekarang kamu ada di mana sayang? Tante sangat kesepian, ada kabar bagus dari Tante dan kita harus bertemu secepatnya." ujar Mira yang sangat percaya diri.
"Baiklah Tante, dua hari lagi kita akan bertemu sekarang aku masih ada di London sabarlah dulu." ungkap Maura ke Mira.
"Oke sayang, Tante tunggu kamu di Jakarta ya." Mira pun menutup pembicaraan mereka.
Akhirnya Maura setuju untuk kembali ke Jakarta karena ingin bertemu dengan Mira yang selalu dianggap sebagai mamanya. Kevin pun bersiap dan tak lupa membelikan gaun malam berwarna merah untuk Maura kenakan di klub malam itu. Kevin ingin Maura terlihat cantik dan s**si di sana.
Malam sudah tiba, sekarang pukul 21:00 setempat, Kevin dan Maura pun keluar bersama menuju klub malam yang akan mereka tuju. Kevin juga sudah memboking tempat khusus untuk mereka berdua dan memesan makanan dan minuman di sana.
Maura sangat menikmati malam itu, bahkan tubuhnya asik bergoyang sambil duduk di sofa mengikuti alunan musik yang sangat keras terdengar.
Bum!
Bum!
Dash!
Dash!
Kevin pun juga bergoyang turun ke lantai dansa di klub malam tersebut. Maura minum sampai puas dan mabuk di sana, kali ini Kevin memberi kebebasan kepada Maura untuk membuat hatinya senang. Kevin juga sesekali menenggak minuman dan kembali duduk menikmati makanannya di sebelah Maura.
Malam itu Maura sangat spesial bagi Kevin, dengan secara sadar bibir mereka pun bertemu dalam keadaan mabuk di klub itu. Maura tak terganggu akan hal itu dan malah menikmatinya, bahkan menarik Kevin untuk berlama-lama melakukannya. Kevin tersadar dan segera melepas bibirnya lalu menjauh dari Maura yang sudah jatuh tak sadar karena mabuk berat.
Kevin pun segera membawa Maura pulang kembali ke hotel mereka, Maura selalu menguji di dalam mobil dan juga di lobby hotel. Semua itu karena pengaruh dari minuman beralkohol yang ia minum dari tadi, terlalu banyak meminum minuman beralkohol itu. sehingga Kevin yang harus hnya berjalan masuk ke hotel mereka, Kevin sengaja mengontrol dirinya untuk tidak minum terlalu banyak, karena ia harus bertanggung jawab untuk membawa Maura kembali ke hotel mereka dan keesokan harinya mereka akan berangkat kembali ke Jakarta.
__ADS_1