
"Dasar kau nenek sihir!"
"Aku sangat membencimu tapi aku tak bisa pergi jauh darimu."
Bruk!
Kevin terjatuh di atas tempat tidur, tepat berada di sebelah Maura yang sudah tertidur. Kini mereka berdua tak sadarkan diri karena sangat kelelahan dan sudah mabuk berat. Malam itu pun mereka tidur sekamar lagi, jangan berbagi kasur seperti di saat mereka berada di London.
Ketika malamnya Maura terbangun ketika akan ke toilet, dan tanpa sengaja tangannya menolak Kevin karena tangan pria itu memeluk Maura. Kevin jadi terbangun dan dia marah dengan Maura, wanita itu pergi begitu saja ke toilet dan jalan tak beraturan langkah kakinya. Kevin sudah kesal dengan Maura yang selalu menyiksa dirinya sedari tadi, kali ini Kevin akan membuat perhitungan dengan Maura saat kembali dari toiletnya.
Hoek!"
Hoek!"
Maura kembali dari toilet ia sudah melepas pakaiannya karena terkena muntahannya sendiri. Kali ini Maura hanya mengenakan tank top untuk tidur, dan itu biasa di pakainya saat akan tidur. Namun dia tak menyadari bahwa saat ini ia sedang menginap di kamar Kevin sekarang. Maura naik ke kasur dan ingin tidur kembali, Kevin dengan cepat mengejutkan Maura dan membuatnya marah.
"A-argh...!" Maura berteriak dengan keras.
Hugh..!
Lalu tangan Kevin menutup mulut Maura dengan cepat, posisi Kevin berada tepat di atas tubuh Maura saat itu. Mata mereka terpaut dan saling memandang, jarak wajah mereka terlalu dekat malam itu. Membuat Kevin tak dapat menahan rasa di dalam dadanya, apa lagi mereka masih terpengaruh oleh minuman alkohol. Akhirnya Kevin dan Maura pun menghabiskan malam berdua di kamar penginapan Kevin, Maura dan Kevin tak memikirkan bahwa mereka adalah paman dan keponakan.
Semua terjadi begitu saja tanpa mereka sadari karena terpengaruh oleh minuman itu. Kamar itu menjadi saksi bisu kelakuan mereka malam itu, Kevin pun merenggut kesucian Maura putri Alex. Mereka pun tertidur setelah menghabiskan malam bersama yang tak memandang batasan dan usia itu.
...Pagi Harinya......
__ADS_1
Kevin tersentak karena alarm dari ponselnya yang berbunyi, dia membuka matanya dan mengambil ponsel lalu mematikan suara itu. Melihat di sekeliling sambil memegangi kepalanya yang pusing karena minuman semalam. Namun dirinya sangat malas untuk bangun dari tempat tidurnya hingga ia kembali merebahkan tubuhnya ke kasur empuk itu lagi.
Bugh!
"Argh!" terdengar suara teriakan dari arah samping Kevin, Kevin pun meloncat bangun dari tidurnya iya duduk di atas kasur sambil memandang ke arah sumber suara itu. Terlihat Maura menutupi tubuhnya ketika ia sadar bahwa dirinya tanpa Bu***a di sana.
"A.......argh!
"A....argh!
Kevin menutup kedua telinganya karena kebisingan mendengar Maura berteriak. Walaupun menangis terkejut saat melihat keadaannya saat ini sudah kacau. Kevin datang orang menangis merasa bersalah namun ia pun tidak tahu kenapa bisa terjadi kejadian itu. Maura segera pergi ke toilet untuk mandi dan membersihkan dirinya, dia menangis di dalam sana. Sementara Kevin pergi ke bawah untuk membawa makanan untuk sarapan Maura agar dia sedikit tenang.
Tanpa sepengetahuan Kevin, setelah Maura selesai dari mandinya, ia pun segera pergi dari dalam penginapan itu. Naura kembali ke rumah papanya dan tidak ingin bertemu dengan Kevin lagi. Saat Kevin kembali ke atas dari urusan makanan untuk sarapan, iya tidak di dalam kamarnya. Noda merah masih tertinggal di atas kasur itu, Kevin pun merasa bersalah sebab kejadian itu terjadi kepada Maura.
Satu hari itu Maura berada di rumah Alex, dia tidak ingin makan, minum ataupun melakukan sesuatu. Pelayan di rumahnya selalu mengantarkan makanan dan minuman ke kamarnya, Maura tidak mau keluar dari kamar Bahkan ia melakukan segala sesuatu di kamar dan dia, tidak ingin ada seorangpun yang masuk ke kamarnya.
Pelayan memberi kabar kepada Alex, bahwa Maura sudah pulang ke rumah. Alex yang mendengarkan merasa senang, dan ia segera menghubungi Kevin saat itu juga, untuk memberi sebuah imbalan yang diinginkan olehnya. Akan tetapi Kevin tidak datang untuk menemui Alex hari itu, ia lebih ingin datang ke sebuah bar mini untuk minum kembali, menghilangkan rasa kepenatan di hatinya atas kejadian itu.
Tring...
Tring...
Ponsel Kevin berbunyi dan ia segera mengangkatnya, pembicaraan pun berlangsung dan Kevin mengetahui bahwa di Singapura sedang ada begitu banyak masalah. Sehingga ia memutuskan untuk segera kembali ke Singapura dan meninggalkan Jakarta sementara.
"Maafkan aku mau rela aku akan segera kembali dan mencarimu jika permasalahan yang ada di Singapura sudah selesai kutangani. Dan aku juga akan berterus terang kepada Alex papamu, lalu menikahimu dengan cepat." dalam hatinya.
__ADS_1
"Untuk saat ini aku tidak dapat menghubungi, menemui aku saja, aku rasa dia juga tidak mau, lebih baik aku menjauh dahulu setelah semuanya mereda baru aku akan bicara padamu tentang permasalahan ini.
****
"Tolong...!"
"Nyonya bangun, rumah kebakaran...!" ucap pelayan di rumah Livia.
"Ada apa mbok?! Kenapa mbok berteriak-teriak?!" Livia yang baru terbangun dari tidurnya, akibat suara teriakan untuk pelayan di rumahnya.
Api sudah membesar, bahkan asap sudah memenuhi rumah Livia. Pelayan itu mencoba untuk menyelamatkan Livia, mereka pun mencari jalan keluar saat semua ruangan sudah dikepung oleh si Jago merah. Melihat ke sana dan kemari dengan penuh asap dan juga panas dari kobaran api Livia mencoba bertahan. Dengan cepat pelayan itu menarik Livia, di saat ia melihat ada pintu jalan keluar.
Para tetangga yang berada di luar sangat panik, dan berteriak meminta pertolongan dari warga yang lainnya. Tak lama kemudian pemadam kebakaran pun datang setelah salah satu dari warga menelpon pemadam kebakaran itu untuk memadamkan kebakaran di rumah Livia.
Wi...u...., wi...u...., wi...u....
"Awas minggir semua pemadam mau lewat!"
"Beri jalan!"
"Beri jalan! awas beri jalan...!" salah satu warga pemerintah seluruh orang untuk menyingkir, agar pemadam kebakaran itu dapat menjangkau lokasi kebakaran.
Akhirnya salah satu warga memberitahu kepada petugas pemadam kebakaran, untuk menyelamatkan Livia dan pelayannya yang masih berada di dalam rumah yang terbakar tersebut. Livia dan pelayannya pun sangat dapat keluar dari rumahnya yang terbakar itu, tetapi saat Livia sudah berhasil keluar ia jatuh lemas tak berdaya, karena terlalu banyak menghirup asap dari kebakaran rumahnya.
Para petugas medis membawa Livia masuk ke dalam ambulance bersama pelayannya tersebut, mereka berdua dibawa ke rumah sakit untuk mendapat penanganan secara medis di sana.
__ADS_1