Terpaksa Jadi Simpanan

Terpaksa Jadi Simpanan
Bab 46


__ADS_3

Wanita itu berlari sekuat tenaga sambil menangis dan tak kuasa menahan emosinya. Malam sudah larut namun Maura belum kembali ke rumah Livia, Alex menunggu Maura sampai kembali. Namun wanita itu tak kembali ke rumah Livia, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Livia. Ternyata Maura sudah pulang ke penginapan mereka, dan segera beristirahat karena sangat lelah sekali.


Maura di dalam kamarnya menangis dan sangat kesal harus melihat Kevin kembali, mengingat kejadian yang sudah hampir ia lupakan bertahun itu. Tetapi Kevin tak dapat melupakannya begitu saja, pria itu sangat mencintai Maura sudah sejak lama. Dan ia sangat ingin bertanggung jawab kepada Maura dengan menikahinya. Hanya saja Maura tak ingin dinikahi oleh Kevin yang terkenal dengan arogan dan berhati batu, karena impian seorang wanita hanya ingin di nikahi oleh seorang pria yang romantis dan bertanggung jawab, yang paling utama mereka berdua sama-sama saling mencintai.


****


Hari ini Livia kembali ke Jakarta, dan ternyata Maura ingin tinggal disana melanjutkan bisnis milik Livia, dan ia juga tak ingin mengganggu kehidupan Livia dan Alex untuk hidup bersama. Tiket sudah di pesan, barang sudah di packing, Livia dan Kenzo sudah siap untuk pergi ke Jakarta.


"Ma, kita mau ke tempat papa? Kenzo belum pernah ke sana. Apakah papa sudah tahu kita akan pulang ke rumahnya?" Kenzo penuh dengan begitu pertanyaan.


"Iya sayang, semua apa pun yang kita lakukan saat ini papa Alex mengetahuinya, sebab papa lah yang sudah menyusun semua ini. Dan tiket kita juga sudah papa pesankan melalui bantuan kakak kamu Maura." Livia pun menjelaskan kepada anaknya.


Wish....


pesawat pun sudah terbang meninggalkan Korea dan Maura disana, tetapi Kevin masih berada disana dan mengetahui kalau Maura sudah tinggal sendirian sekarang. Kevin berencana akan menemuinya setiap hari dan terus membujuknya untuk mau menikah dengan dirinya.


Maura sengaja tak ingin pergi, karena ia tahu pasti Kevin juga akan mengikutinya kemana pun ia berada, dan Kevin pasti akan mengatakan kepada papanya dalam kesempatan apa pun itu. Maura tak ingin itu terjadi saat ini, karena ia belum siap dan sedikit trauma dengan kejadian papanya yang ditinggal dua kali oleh wanita dan hampir saja mati karena rasa cintanya itu. Maura juga yg tahu bahwa Kevin bukan tipe pria yang sungguh-sungguh dengan ucapan dan kelakuannya. Ia dapat menjadi saat ini karena didikan dari papanya dan ia juga yang telah membunuh papanya sendiri. Sehingga Maura menganggap Kevin adalah psikopat dan berdarah dingin, ia juga tergabung dengan beberapa preman dan mafia di dunia.


Maura tak ingin mati konyol dengan menyerahkan dirinya begitu saja pada pria yang sangat tak punya hati nurani baginya. Maura belum pernah mengatakan semua itu kepada Kevin, gadis itu takut kalau ia mengutarakannya Kevin akan membunuhnya dan mencampakkan mayatnya entah kemana.

__ADS_1


Kevin memiliki pesawat jet pribadi yang mendapat izin untuk memilikinya, dan ia juga bekerjasama dengan beberapa mata-mata dunia untuk membantu mereka. Pria itu sudah pernah tertembak 8 kali dan terkena hempasan bom dua kali, tapi ia masih dapat hidup sampai saat ini. Memang sempat kritis tapi Kevin benar-benar pria terkuat yang Maura tahu.


****


Pesawat sudah mendarat, dan Robby pun sudah ada di bandara untuk menjemput mereka. Robby menatap Livia dan masih saja terkesima, sampai saat ini aura wanita itu masih menyilaukan Robby. Tak kalah dari Alex, Kenzo lebih memiliki aura maskulin dan imut yang membuat semua orang sangat ingin memeluknya.


"Selamat datang di Jakarta nona Livia," Robby menyapa dengan lembut.


"Hai Robby kau masih seperti yang dulu tetap setia pada Alex dan masih tetap keren." Livia pun memujinya.


"Terima kasih nona." Robby berjalan menghampiri mobil Alex di parkiran.


Brem...


Sit!


"Mengapa kita harus dandan dan pergi ke sini bukannya pulang kerumah?" Livia sangat kebingungan.


"Ya kita kesini dulu, tuan Alex menyuruh saya untuk membawakan nona ke gedung tersebut." Robby turun dari mobil dan membukakan pintu mobil milik Livia.

__ADS_1


"Silahkan nona, dan tuan Kenzo mari ikut dengan saya." Robby mengajak Kenzo untuk pergi bersamanya ke arah belakang.


Livia berjalan sendirian disepanjang karpet merah dan semua orang bertepuk tangan menatap dirinya yang begitu mempesona dan anggun. Tiba-tiba seseorang menggenggam tangan Livia yang menghampirinya dari belakang, dan ia adalah Alex mempelai pria yang akan menjadi suaminya saat ini.


Bunga-bunga bertaburan dan Semua menyambut mereka dengan suka cita, Livia menatap Alex yang berada tepat di sampingnya. Livia seakan tak percaya hari itu adalah merupakan hari pernikahannya dengan Alex. Livia sempat menitihkan air matanya saat ia melihat penghulu sudah menunggu mereka disana.


Robby menelpon Maura agar dapat menyaksikan secara langsung pernikahan Livia dan Alex papanya di Jakarta. Begitu banyak yang datang menyaksikan pernikahan mereka, bahkan ada juga pelanggan galerinya yang mengetahui akan hal itu datang ke pernikahan Livia dan Alex hari itu juga.


Kenzo sangat senang melihat mama dan papanya menikah di hadapannya, dan ini merupakan hari bahagia seorang anak melihat mama dan papanya bersatu dan akan tinggal bersama. Begitu juga Maura yang terharu dan sempat menangis ketika melihat Alex sangat bahagia bersama Livia sahabatnya saat ini. Dan Maura sudah berencana akan hidup mandiri tak mencampuri kehidupan bahagia papanya bersama Livia.


Bagi Maura sudah cukup Alex dan Livia menderita atas cinta yang mereka pendam selama bertahun-tahun, membuat kehidupan mereka berdua selalu dalam kegelisahan. Sekarang Maura sudah dapat menerima dan membuka hati untuk Livia menjadi istri dari papa kandungnya.


"Kapan kau mau menerima aku Maura? Kau selalu menolaknya, bahkan aku sudah serius untuk menikahi mu." Kevin muncul dengan tiba-tiba, dan berbicara seperti itu saat Maura sedang video call di ponselnya Robby.


"Kevin! bisa kah kau diam?!" ucap Maura sedikit berbisik.


"Kau jangan mengatakan hal itu saat ini, walau kau berkata dan memohon pada ku, aku tetap mengatakan tidak kepada mu." Maura tak menyadari bila ponselnya masih menyala dan Robby mendengarkan semuanya.


"Apa maksud Kevin berbicara seperti itu ke Maura? Dan mengapa Maura mengatakan tidak sampai kapan pun. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka dan aku tidak mengetahuinya?" Robby mulai curiga.

__ADS_1


__ADS_2