Terpaksa Jadi Simpanan

Terpaksa Jadi Simpanan
26. Gagal


__ADS_3

Wi...u...., wi...u...., wi...u....


"Awas minggir semua pemadam mau lewat!"


"Beri jalan!"


"Beri jalan! awas beri jalan...!" salah satu warga pemerintah seluruh orang untuk menyingkir, agar pemadam kebakaran itu dapat menjangkau lokasi kebakaran.


Akhirnya salah satu warga memberitahu kepada petugas pemadam kebakaran, untuk menyelamatkan Livia dan pelayannya yang masih berada di dalam rumah yang terbakar tersebut. Livia dan pelayannya pun sangat dapat keluar dari rumahnya yang terbakar itu, tetapi saat Livia sudah berhasil keluar ia jatuh lemas tak berdaya, karena terlalu banyak menghirup asap dari kebakaran rumahnya.


Para petugas medis membawa Livia masuk ke dalam ambulance bersama pelayannya tersebut, mereka berdua dibawa ke rumah sakit untuk mendapat penanganan secara medis di sana. pelayan yang ada di rumah Livia sangat khawatir melihat majikannya, iya segera menelpon Alex untuk datang ke rumah sakit yang akan mereka tuju saat ini.


"Pak Alex, nyonya Livia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit."


"Rumahnya kebakaran, dan nyonya pingsan karena banyak terhirup asap." ujar pelayan Livia yang sangat panik.


"Uhuk!


"Uhuk!


Pelayan itu terbatuk-batuk, segera perawan yang ada di dalam ambulance tersebut memberi alat pernafasan kepada pelayan itu. Pembicaraan di telepon pun telah ditutup, Alex segera pergi ke rumah sakit yang dikatakan oleh pelayan Livia itu. Alex pergi sendiri dengan mobilnya, sebab Robby telah pulang ke rumah dan akan lama bila menunggu Robby untuk datang.


Brem...


Mobil Alex melaju kencang, tanpa disadari oleh Alex mau nggak mendengar pembicaraannya dengan pelayan Livia tadi. Maura diam-diam memesan taksi untuk dapat mengikuti mobil Alex kemana papanya pergi. Maura pun sangat penasaran, di dalam perjalanan hatinya terus bertanya-tanya tentang papanya yang mengemudi terlalu panik untuk melindungi wanita yang menelponnya tadi.

__ADS_1


"Ini pasti ada hubungannya dengan Livia, aku yakin nivia yang meminta papaku untuk menemuinya saat ini." Maura berburuk sangka dengan Livia sahabatnya itu.


Terlihat mobil Alex berhenti di depan rumah sakit sopir taksi itu pun juga berhenti, di saat Maura menyuruhnya berhenti sedikit jauh dan tidak masuk ke dalam parkiran Rumah sakit tersebut. Maura turun dengan segera, berlari masuk ke dalam rumah sakit. Ia mencari-cari papanya namun sambil bersembunyi, agar tidak ketahuan oleh Alex papanya.


Drap...


Drap...


Drap...


Terdengar suara langkah kaki Alex yang terburu-buru sambil berlari kecil, mencari ruangan yang telah ia tanya di meja resepsionis rumah sakit itu. wajahnya terlihat begitu panik sambil terus mencari nomor kamar korban kebakaran yang baru saja masuk ke rumah sakit itu.


"Korban kebakaran?!"


"Apakah Papa mencari lifia yang menjadi korban dalam kebakaran itu?" tanpa sengaja Maura mendengar percakapan papanya dengan penjaga meja resepsionis.


Maura pun menghampiri pintu kamar rawat inap itu ia mencoba mengintip dari balik pintu yang terbuka, sambil terus mendengar pembicaraan Alex dengan dokter itu di sana. Namun Maura tidak dapat melihat pasien yang tengah terbaring di sana, karena dokter dan Alex menutupi wajah dan tubuh pasien itu.


"Baiklah dokter, saya mengerti. Nanti saya akan menunggunya sampai ia sadar, lalu memanggil dokter atau suster untuk mengecek keadaannya kembali." ucap Alex dengan cepat.


Maura berpura-pura duduk dan berlalu pergi dari depan kamar itu, ia kembali ke meja resepsionis untuk mencari tahu keterangan korban kebakaran yang papanya temui saat ini. Maura pun datang menghampiri wanita di balik meja resepsionis, ia mencoba bertanya berpura-pura sebagai teman korban kebakaran yang baru saja mereka tangani.


"Apa mbak?"


"Namanya Livia? Oh kalau begitu saya salah orang, baiklah Mbak Terima kasih atas informasinya." Maura sengaja mengatakan hal itu.

__ADS_1


Maura pun segera pergi keluar dari rumah sakit itu, agar tidak ketahuan oleh papanya. Seperti yang Maura duga bahwa papanya menemui Livia, wanita simpanan yang dulu adalah sahabatnya. Maura pun pergi dengan menaiki taksi pulang kembali ke rumahnya. Setelah sampai di depan rumah, Maura pun turun dari taksi itu, taksi pun pergi berlalu setelah Maura memberi ongkos perjalanannya.


Maura melihat seorang pria tepat di depan gerbang rumah, pria itu sambil menghisap rokok sembari melihat ke arah Maura. Gadis itu mengenali pria yang setengah menunggunya, dengan cepat melanggar berjalan masuk ke gerbang rumahnya itu.


"Maura!"


"Maura tunggu Aku!"


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, aku bisa jelaskan semuanya kepadamu."


"Maura!" Kevin memanggilnya namun Maura tidak memperdulikan pria itu.


Naura terus masuk ke dalam rumah meninggalkan Kevin yang berada di luar satpam tidak mengizinkannya masuk ke dalam dan juga pria itu tidak berani untuk masuk ke dalam rumah sebab Alex pasti akan membuat perhitungan padanya.


"Sial!"


"Memang para gadis selalu membuat repot, namun sayangnya aku telah terjerat dengan gadis itu, dan aku tak tahu harus bagaimana untuk keluar dari situasi ini." Kevin menggerutu ia membuang rokoknya dan menginjaknya.


Brem...


Mobilnya pun melaju dengan kencang di jalan raya, meninggalkan rumah Alex dan Maura gadis yang ingin ia temui. Padahal Kevin menyempatkan untuk kembali ke Jakarta menemui Maura, menjelaskan kepada gadis itu bahwa dirinya akan bertanggung jawab, dengan apa yang terjadi pada mereka.


Namun kali ini kepulangan Kevin untuk menemui Maura pun gagal, gadis itu malah tidak ingin melihat Kevin bahkan menjauh seperti orang asing. Kevin pun kembali lagi ke Singapura dan tidak ingin untuk menemui Maura kembali. Hatinya hancur dan rasa egonya keluar, dia tidak mau bertanggung jawab kepada Maura. sampai saat ini Maura tidak ada bercerita atau memberitahu dirinya dan Kevin kepada Alex.


Ia akan menutup kejadian itu dan menanganinya sendiri, kali ini Maura lebih dekat ke Robby daripada ke yang lainnya, Maura kemanapun selalu meminta Robby untuk menemaninya. Maura sedikit takut kalau harus berurusan, dan bertemu dengan Kevin di manapun. Kini Maura Lebih banyak di rumah saja, dan menjadi seseorang yang introvert. Alex pun sedikit bingung dengan perilaku putrinya yang tidak biasa.

__ADS_1


Bahkan Maura sudah jarang keluar malam dan menemui Mira seperti biasa dia lakukan. Maura juga tidak ingin ikut campur urusan papanya dan Livia sahabatnya itu, Alex pun berpikir mungkin saat ini adalah waktu yang pas untuk menjelaskan hubungan dan kehamilan Livia pada Maura.


__ADS_2