Terpaksa Jadi Simpanan

Terpaksa Jadi Simpanan
20. Kabar dan Berita


__ADS_3

"Apa kepala mu masih sangat pusing?"


"Ambilah handuk ini dan segera mandi dengan air hangat agar peredaran darah mu dapat kembali normal mengalir ke kepala."


"Dengan demikian kau dapat berpikir dengan jernih dan tak pusing lagi." ujar Kevin kepada Maura.


"Kau?!" mata Maura terbuka lebar saat menatap ke arah Kevin saat itu.


Maura sangat terkejut melihat Kevin saat itu, dan dia melihat di sekeliling keberadaannya saat ini. Maura berteriak dengan cepat turun dari tempat tidurnya menghampiri Kevin saat itu juga, Maura memukul Kevin dengan bantal dan melempar semua barang yang ada di sana ke arah pria itu.


Kevin menjadi bingung dengan tingkah Maura yang tiba-tiba menyerangnya saat itu. Semua barang banyak yang pecah dan rusak, kamar itu sekarang sudah terlihat sangat berantakan seperti ada gempa bumi di sana. Kevin berlari menjauh dan Maura terus mengejar lalu melempar apa pun ke arah Kevin. Tiba -tiba kaki Maura menginjak pecahan kaca dan dia terjatuh karena kesakitan.


Kevin dengan cepat menangkap tubuh Maura saat itu dan membawanya duduk di sofa depan Tv, Kevin meminta pelayan kebersihan untuk datang ke kamarnya dengan kotak obat sekarang juga. Maura menangis karena kesakitan, kakinya banyak mengeluarkan darah. Kevin mengangkat kaki gadis itu ke atas pangkuannya, ia ingin mencabut kaca yang masih Tertancap di kaki gadis itu.


Disaat pelayan kebersihan akan masuk ke kamar mereka, Maura berteriak sangat keras sekali sehingga membuat pelayan itu enggan untuk masuk kedalam. Teriakan Maura membuat pikiran pelayan itu traveling kemana-mana, tak beberapa lama Kevin membuka pintu kamar mereka, bermaksud ingin turun mengambil kotak obat segera. Namun Kevin langsung merampas kotak obat itu dari tangan kedua pelayan itu, dengan cepat dan kembali mengobati luka di kaki Maura.


Maura pun meringis kesakitan saat kakinya di obati oleh Kevin, kedua pelayan itu pun sesekali melirik ke arah mereka yang sedang duduk di sofa. Kedua pelayan itu pun berbisik-bisik di belakang mereka berdua, Maura sangat malu dengan hal itu, tapi Kevin tak memperdulikannya.


"Apa saja yang mereka lakukan tadi malam, sehingga nih kamar menjadi seperti kapal pecah." ucap pelayan yang satunya.


Setelah mengobati kaki Maura, Kevin mengambil tas kecil Maura dan menggendong wanita itu untuk membawanya ke spa yang ada di lantai bawah di hotel itu. Maura tak dapat mandi sendiri sehingga Kevin membawanya ke spa, agar dia dapat di layani oleh pelayan spa salon di hotel yang memang milik Kevin.

__ADS_1


****


Clara yang datang ke ruangan kantor Alex mencari masalah dengan Alex. Clara sudah mendownload isu tentang kedekatan Alex dengan Livia dari kabar-kabar burung yang ia ketahui. Clara merasa tidak senang karena dirinya dapat tergantikan oleh gadis belia yang masih ingusan. Clara langsung menemui Alex di dalam ruangannya, dan ingin mendengar secara langsung bahwa kabar burung itu adalah benar.


"Mas, untuk saat ini aku tidak begitu yakin sebelum mendengar langsung dari mu tentang kabar kedekatan kamu dengan gadis yang masih ingusan itu."


"Yang bahkan pengalamannya saja tak sebanding dengan pengalaman ku saat ini." ujar Clara yang sedikit emosi.


Alex menjadi kesal dan tak ingin bicara pada Clara saat itu, dia tengah pusing menghadapi Maura anaknya sendiri. Alex masih mencari cara agar anaknya dapat menerima sahabatnya itu menjadi pendamping Alex saat ini.


Clara masih terus berbicara untuk mencari tahu yang sesungguhnya dari Alex, Robby pun masuk untuk membawa Clara keluar dari ruangan itu. Clara tak ingin keluar dan terus memaksa Alex agar berkata kepadanya, akhirnya Alex kesal mengatakan yang sesungguhnya kepada Clara, Livia adalah kekasihnya saat ini dan dirinya berencana akan menikahinya.


Clara pun terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Alex kepadanya secara langsung. Clara akhirnya mendapat kejelasan dari kabar burung yang ia dengar saat ini, dengan sangat sedih Clara pun keluar dari ruangan itu dan segera pergi entah ke mana. Alex pun tidak perduli dengan Clara, Bahkan ia hanya fokus dengan kerjaannya dan juga menanti kabar dari Kevin keberadaan Maura putrinya saat ini.


"Breng**k kau Kevin, sepertinya kau sengaja membuat aku semakin khawatir saat ini." ujar Kevin dalam hatinya.


Alex pun segera menyuruh Robby untuk menjemput Livia nanti malam disaat setelah mengantarkan dirinya ke apartemen mereka. Dan sore itu juga Robby pun pergi menemui Livia di rumahnya, minta izin untuk Livia di bawa oleh Robby dengan alasan pekerjaan yang masih harus di perbaiki saat itu juga.


Clara yang mengetahuinya saat itu rumah Livia, karena mengikuti mobil Robby dari arah belakang. Segera menghampiri ibunya ketika Livia dan Robby sudah pergi jauh dari rumah itu. Clara berjalan dan mengetuk pintu rumah Livia perlahan, ibunya yang baru saja melangkah sampai di dapur, harus kembali ke arah pintu depan untuk membukanya.


"Apa Livia ada yang tertinggal barang ya sampai harus kembali lagi?" pikiran ibunya yang tak tahu.

__ADS_1


Tok, tok, tok...


"Iya sebentar...?!" ucap ibunya Livia dari dalam rumah.


Ceklek...


Pintu terbuka dan Clara tersenyum kepada ibunya Livia, saat ini Clara memiliki niat jahat kepada keluarga Livia. Clara pun langsung masuk saja ke dalam rumah itu tanpa di persilahkan. Ibunya heran dan bertanya kepada Clara karena wanita paruh baya itu merasa tak mengenalnya, Clara pun segera memberi tahu pada ibunya Livia bagaimana kelakuan Livia.


Clara tak memperkenalkan dirinya kepada ibunya Livia, ia hanya berbicara tentang Livia dan menyuruh ibunya serta menasehati agar Livia meninggalkan Alex secepatnya.


"Kau jangan sembarangan bicara tentang putri ku!"


"Dia anak yang baik dan tak mungkin melakukan hal itu, aku tidak percaya padamu."


"Tolong jangan berkata yang tak baik tentang Livia anak ku!"


"Sekarang pergilah kau dari sini!"


"Cepat keluar dari rumah ku!" ucap ibunya Livia.


Detak jantung ibunya berdetak dengan cepat, nafas memburu dadanya terasa sakit. Clara sudah pergi dari rumah itu, ketika ibunya menutup pintu rumah itu dan berjalan perlahan, tubuhnya roboh jatuh ke lantai tak sadarkan diri. Ternyata ibunya Livia terkena serangan jantung mendadak saat mendengar berita yang di beri tahu oleh Clara.

__ADS_1


Livia tak mengetahui kalau ibunya sudah tergeletak di lantai rumahnya tak sadarkan diri. Sedangkan dirinya tengah menemani Alex saat itu di apartemen mereka berdua, dan menikmati waktu bersama di sana.


Waktu sudah menunjukkan pukul 22:00 malam, perasaannya tak enak sehingga dirinya ingin segera pulang ke rumah. Pikiran Livia selalu tertuju pada ibunya yang sedang sendirian di rumahnya, maka Livia pun meminta kepada Alex untuk pulang dan tidur di rumah menemani ibunya.


__ADS_2