
"Hahahaha....!"
"Kali ini kau pasti akan aku dapatkan dan tak dapat lari kemana-mana lagi sayang ku Alex."
"Jangan panggil aku Mira kalau tak dapat menaklukkan mu menjadi milik ku."
"Lelaki mana yang bisa lari dan pergi dari jeratan ku saat ini, bahkan kau yang begitu hebat saja dapat aku dapatkan sebentar lagi." ucapnya Mira di dalam mobilnya.
Mira pun tertawa dengan senangnya, langsung menemui Maura di rumahnya dan memasang wajah sedih setelah puas tertawa di saat mengemudi di jalan tadi. Mira menyapa dan langsung duduk di sebelah Maura yang sedang sarapan di meja makannya. Mira juga ikutan sarapan setelah Maura meminta untuk menemaninya sarapan saat itu. Maura selalu memperhatikan Mira dan sudah menganggapnya sebagai mamanya sejak lama.
"Tante kau seperti tak enak badan?"
"Dan apa itu merah-merah di leher mu?"
"Apa kau terkena penyakit kulit Tante?"
"Kalau memang benar lebih baik kita ke dokter untuk mengeceknya." ungkap Maura.
"Oh, tak perlu ke dokter lagi, sebab Tante sudah ke dokter kemarin saat akan mengambil surat hasil pemeriksaan Tante." Mira terlihat sedih.
"Benarkah? Lalu bagaimana hasilnya Tante?"
"Tante jangan sedih, papa pasti akan bertanggung jawab dan segera menikahi Tante."
"Maura sudah bilang ke papa dan memberi tahu semuanya. Dan malam ini papa meminta kita untuk datang ke kantornya segera." ungkap Maura di depan Mira yang hatinya sangat senang dan berbunga-bunga.
Mira pun mengantar Maura ke kampusnya dengan hati yang senang, Bahkan ia berjanji ketika Maura pulang, Mira sendiri yang akan menjemput Putri Alex tersebut.
__ADS_1
******
Hari ini Livia keluar dari rumah sakit, Alex menyuruh Robby untuk menjemput Livia dan membawanya ke apartemen mereka, bersama pelayan yang bekerja di rumah Livia tersebut. Livia sudah sedikit membaik, bahkan kali ini Livia begitu banyak makan buah-buahan yang dianjurkan oleh dokter. Livia sangat patuh ia mendengar semua nasehat dokter dan juga apa yang dikatakan oleh Alex.
Kepulangannya dari rumah sakit diketahui oleh Maura, ketika siang itu Maura dan Mira datang ke rumah sakit ingin bertemu dengan Livia. Maura dan Mira bermaksud ingin memberitahu kepada Livia untuk menjauhi Alex segera mungkin, dan Mira juga ingin memberitahu berita kehamilannya bahwa yang dikandungnya sekarang adalah anak Alex.
Ketika sampai di rumah sakit Maura dan Mira mengetahui bahwa Olivia telah pulang dijepit oleh seorang pria. Dan pria itu telah menandatangani surat bahwa dirinya telah membawa pulang pasien mereka. Maura melihat bahwa tanda tangan itu adalah milik Robby pengawal papanya.
Dengan cepat segera Maura dan Mira pergi ke apartemen baru papanya, yang pernah mereka melihat Livia dan Alex di sana. ketika sampai di sana Robby sudah kembali ke kantornya Alex, sehingga Maura dan Mira pun dengan leluasa masuk menemui Livia di kamar apartemen tersebut.
Ting.., tong...
Suara bel terdengar dari dalam apartemen itu, pelayan yang melihat dari balik pintu membuka langsung pintu tersebut, karena ia tahu Maura adalah anak dari Alex majikannya.
"Siapa yang datang mbok?" Livia bertanya ketika ia sedang menikmati makan siang di meja makannya.
"Maura kau datang untuk menjengukku?"
"Mari duduk di sebelahku, dan kita akan makan siang bersama."
"Mbak tolong ambilkan, piring dan yang lainnya, untuk menjamu mereka makan siang." ucap Livia dengan lembut mempersilahkan sahabatnya itu untuk menikmati makan siang bersamanya.
"Kau tidak perlu terlalu sopan denganku Livia, karena kau sudah tidak sopan merebut papa dari sisiku."
"Aku datang ke sini hanya ingin memberitahu kepadamu, bahwa tanteku yang akan menjadi Ibu sambung bagiku."
"Sekarang ia telah mengandung anak dari papaku, yang berarti anak dalam kandungan tanteku itu, adalah adikku." ujar Maura kepada Livia.
__ADS_1
Maura dan Mirah terus saja mengatakan hal-hal yang membuat Livia menjadi bergetar, ia merasa malu, telah percaya pada pria bernama Alex dan berpikir kalau pria itu
sungguh-sungguh sangat mencintainya. Kali ini Mira dan Maura mengungkapkan semuanya kepada Livia, sehingga ia mulai ragu untuk bersama dengan Alex.
Pada saat itu Livia berhenti memasukkan makanannya ke dalam mulutnya, iya tak sanggup mendengar semua perkataan yang diucapkan oleh Maura sahabatnya. Livia terlihat tegar dan ia tidak menangis, walau dalam hatinya sangat ingin berteriak bahkan menghujamkan beberapa benda ke tubuhnya.
Setelah tak beberapa lama Mira dan Maura pun pergi dari kamar apartemen Livia. Dengan cepat gadis itu menyuruh pelayannya untuk menyiapkan koper, dan memasukkan barang-barang miliknya ke dalam koper tersebut. Maura dan Mira sangat puas setelah mereka dapat membuat Livia tidak berkutik sedikitpun.
Dan Mira percaya bahwa Livia pasti akan pergi, setelah mendengar semua yang mereka ucapkan. Jangan pernah percaya diri Maura dan Mira pun pergi menikmati makan siang berdua di cafe yang sering mereka kunjungi. Siang itu mereka sudah membuat rencana akan merayakannya, malam ini mereka akan datang ke klub biasa tempat mereka main dan minum di sana.
Sore itu juga Livia pergi ke bandara, ia pun ingin pergi dari Jakarta meninggalkan Alex untuk selamanya.
Livia menyuruh pelayannya untuk tidak memberitahu kepada Alex saat ini ia akan pergi dari apartemen itu. Sementara Alex masih sibuk dengan pekerjaannya yang ada di kantor, bahkan dirinya tidak sempat untuk makan siang di luar.
Wish.....
Livia pun sudah pergi terbang dengan pesawatnya ke luar negeri, Livia ingin melahirkan dan membesarkan anaknya sendirian tanpa seorang Papa. Kali ini Livia akan pergi ke negara Korea, kali ini ia akan berusaha dan berjuang untuk membesarkan anaknya itu. Usia kandungan Livia sekarang sudah memasuki 5 bulan, dan 4 bulan berikutnya anak itu akan lahir ke dunia tanpa seorang papa.
Pukul 20.00 malam di kantor Alex
Maura telah berganti pakaiannya, iya mengganti dengan pakaian casual dan akan berpesta di klub malam seperti rencana mereka berdua. Begitu juga dengan Mira, dengan penuh percaya diri Mira berpakaian begitu s**si dan sangat terbuka.
Pada saat itu Robby sudah mengetahui bahwa Alex akan membuka, rencana licik Mira kepadanya dan juga kepada putrinya. alat menyuruh Robby untuk mengantarkan Mira dan Maura ke ruang rapat. Di sana juga Robby sudah menyediakan laptop dan sebuah memori kecil yang ada dalam saku jasnya.
Clara yang mengetahui akan rencana alex dan Robby, sangat senang melihat mereka berdua akan dipermalukan. Robby pun sangat lembut menyambut ke datangan mereka, Robby menyuruh Clara untuk membuat kan kopi untuk mereka semua.
"Kali ini kau tak akan bisa mengelak lagi Mira?!"
__ADS_1
"Aku akan membuka kebusukan mu di depan putri ku, hingga dia tak akan mau menjadikan mu sebagai mamanya." dalam hati Alex berkata sambil menatap tajam ke arah layar monitor di hadapannya.