Terpaksa Jadi Simpanan

Terpaksa Jadi Simpanan
Bab 38. Akhirnya Terungkap


__ADS_3

Mira kali ini ditipu oleh apa yang memang hanya ingin mendapatkan keuntungan dari wanita itu. Mira mencoba datang ke perusahaan yang ia ketahui bahwa itu milik Arnold di Singapura. Kamu sayangnya ternyata pemilik perusahaan tersebut bukanlah Arnold sekarang ini. Sesungguhnya perusahaan itu dahulu memang miliknya Arnold, namun Arnold mengalami kebangkrutan dan harus menjual perusahaan miliknya yang ada di Singapura tersebut.


Mira kini terdiam bagai petir di siang bolong ketika resepsionis itu mengatakan sesuatu yang membuatnya ingin terjatuh, karena tak kuat mendengar perkataan tersebut.


"Maaf Bu, pak Arnold pemilik yang lama telah pergi bersama istrinya.


"Mereka kembali ke negara asal mereka yaitu America." ujar wanita itu.


"Bersama istrinya ke America?!"


"Dia sudah menikah dan memiliki istri?!"


"Ini tidak mungkin kan?"


"Pasti wanita ini menipuku dan hanya asal berbicara."


"Arnold pasti tidak akan menipu ku dan menduakan ku."


"Aku yakin itu!" Mira meyakini kalau Arnold pasti tidak akan meninggalkannya.


Mira pun pergi keluar dari perusahaan itu, ia berjalan sambil sempoyongan. Kakinya tak kuat untuk berjalan, satpam yang berada di luar gedung yang menjaga pintu depan, sempat menolong Mira karena hampir saja jatuh ke lantai. Akhirnya Mira berencana untuk mencari Arnold di Amerika, walaupun Mira tak mengetahui alamat jelas dari Arnold iya tetap ingin ke Amerika untuk mencari pria tersebut.


Sore itu juga Mira pergi ke bandara dan memesan tiket, untuk keberangkatannya malam ini. Mira ingin mengetahui kebenaran dan ingin tahu apakah Arnold benar-benar telah menipu dirinya atau tidak. Di dalam pesawat perasaan Mira merasa tidak tenang, bahkan dirinya terus teringat akan perkataan wanita resepsionis yang ada di dalam gedung perusahaan itu.


Kali ini Mira benar-benar nekat, untuk mencari pria yang mungkin telah menipu dirinya. Mira akan melakukan sesuatu apabila Arnold benar-benar menipu dan mempermainkan dirinya. Dia sangat kesal dan ingin rasanya marah pada Arnold yang tidak memberitahukan dirinya bahwa sudah pindah ke Amerika. Padahal Arnold telah berjanji pada Mira untuk mengajak dirinya ke Singapura lalu hidup bersama di sana.


*****


Livia dan Kenzo


Tahun baru ini ganti jenis makanan 4 tahun, Livia berencana akan memasukkan Kenzo ke sekolah khusus untuk anak di usia dini. ada alasan mengapa Livia ingin memasukkan Kenzo ke sekolah sebelum usianya genap 5 tahun. Putranya tersebut selalu menangis dan juga merengek, ketika melihat teman-teman lewat di depan rumah, yang selalu diantar oleh berdoa orang tuanya ke sekolah.

__ADS_1


Lagi pula Kenzo juga anak yang cerdas dan ia sudah dapat berhitung, bahkan mengenal huruf dengan lancar. Kenzo juga sudah dites oleh guru-guru yang ada di sekolah yang akan Livia daftarkan. Bahasa Korea Kenzo juga sangat fasih sekali, karena ia sering bermain dengan anak-anak seusianya di Korea.


Ayah Livia saat ini tinggal di sebuah rumah kecil, di sebelah rumah majikannya. Rumah yang ia tempati saat ini dulu merupakan sebuah gudang milik keluarga majikannya. Kali ini gudang itu telah ayahnya Livia bersihkan dan dapat ditempati olehnya. Ayahnya sore ini tidak mau ikut bersama Livia karena ia menyadari akan kesalahannya dan pernah meninggalkan mereka berdua tanpa bertanggung jawab selama bertahun-tahun.


Hari ini ayahnya harus mengemis belas kasihan dari orang lain, dan tak mau ikut bersama Livia dan cucunya Kenzo.


Sit....!


BUGH!


ARGH....," tubuh tua renta itu jatuh terguling di aspal.


Rendy tak dapat menghindari kecelakaan itu, mobil itu pergi begitu saja dan banyak orang yang menolong dan membawa Rendy ke rumah sakit saat itu. Penabrak itu sengaja menabrakkan mobilnya kepada Rendy, dan ternyata itu adalah komplotan yang mencari Rendy dan sengaja ingin membunuhnya.


"Ma, kenapa kita ke rumah sakit?"


"Kenzo kan gak sakit." anak itu terus mengatakan hal yang sama.


"Sekarang kita akan tahu apa penjelasan dari dokter." ucap Livia terkait melihat gigi anaknya yang belum semestinya berganti gigi tetap.


"Awas kasih jalan korban tabrak lari!"


"Awas...!"


"Minggir...!" begitu banyak suster dan yang lainnya memberi tahu.


"Ma, bukannya itu.... kakek yang ada di taman kemarin ya?"


"Dia banyak darahnya ma..?!" ujar Kenzo anaknya Livia.


Livia langsung berjalan cepat mengikuti kemana arah Rendy di dorong para suster itu dengan tempat tidur dorongnya. Livia berjalan sembari menuntun Kenzo dan berderai air mata sepanjang melewati lorong rumah sakit.

__ADS_1


Kenzo tidak mengerti mengapa mamanya menangis dan terlihat sangat sedih sekali.


"Suster-suster, kenapa korban sebenarnya?"


"Ada apa ini sus?" Livia bertanya dan ingin ikut masuk ke dalam kamar pemeriksaan.


"Maaf ibu siapanya dan harap menunggu di luar saja, korban akan di periksa di dalam."


"Nanti dokter akan memberi tahu setelah selesai pemeriksaan." ujar suster itu.


Livia pun berjalan menghampiri kursi tunggu di sana, ia duduk dengan wajah sedihnya. Kenzo menggenggam tangan mamanya dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Pria imut itu menguatkan dirinya, ia sama persis seperti Alex yang pandai membuat hati tenang bila di dekatnya.


"Kenzo, ada yang ingin mama katakan pada mu sejak awal kita bertemu dengan pria lansia itu kemarin."


"Sebenarnya pria itu adalah kakek kamu nak."


"Dan ia adalah ayahnya mama, kemarin mama ingin perkenalkan ke kamu. Tetapi ia telah pergi entah kemana." Livia pun mengatakan kepada Kenzo semua itu.


"Lalu, siapa papa ku ma?" tanya Kenzo ke Livia tiba-tiba.


Livia terdiam dan tak memberi jawaban ke Kenzo, ia terkejut saat kata-kata itu keluar dari mulut Kenzo. Selama ini anak itu tak pernah bertanya apa pun tentang papanya, dan Livia menganggapnya akan baik-baik saja. Hingga saat ini anak itu bertanya kepada dirinya, dan membuat Livia bingung mau berkata apa.


"Maaf Kenzo, untuk saat ini mama gak bisa berkata apa pun pada mu.


"Tetapi suatu saat nanti mama akan mengatakannya, kalau mama sudah siap untuk mengatakannya." Livia pun mengerti akan perasaan anaknya itu.


Kenzo bisa bertanya tentang papanya, karena semua teman Kenzo selalu diantar dengan papa mereka ke sekolahan. Dan temannya juga bercerita tentang mama dan papanya kepada anak itu. Sehingga membuat Kenzo berpikir dan bertanya dalam hatinya tentang papanya yang tidak pernah ada bersamanya.


Sejak saat itu Kenzo pun semakin ingin bertanya kepada Livia tentang keberadaan papanya. Bahkan hampir setiap hari pertanyaan itu terus berada di dalam benak Kenzo, Livia pun memperhatikan anaknya yang duduk berada di sebelah kirinya. Perasaan seorang ibu akan terluka apabila melihat anaknya sedih dan bahkan ingin mengetahui Di mana keberadaan papanya.


"Suatu saat nanti kau pasti akan mengetahuinya Kenzo, ngomong Mama tak dapat menjanjikan semua itu hanya takdir yang akan mempertemukan kau dengan papamu." gumam Livia dalam benaknya.

__ADS_1


__ADS_2