Terpaksa Jadi Simpanan

Terpaksa Jadi Simpanan
8. Mulai Bersama


__ADS_3

Alex dan Livia mulai sering bertemu, bahkan Alex semakin nyaman dengan gadis belia itu. Livia sangat pandai dan dia gadis yang sangat menarik hati Alex saat ini. Alex sangat suka dengan cara Livia melayani sarapan dan juga makan malam yang selalu di hidangkan untuknya.


Sudah sangat lama Alex tidak merasakan lagi hal kecil dan sederhana namun penuh perasaan dan kelembutan cinta. Semua itu Alex dapatkan dari Livia yang sekarang sedang sarapan pagi bersamanya. Robby juga memperhatikan Alex atasannya setiap hari terlihat bahagia, dan sekarang jauh berbeda semenjak Livia bersama Alex sekarang.


Bahkan Clara tak pernah lagi menjadi teman tidurnya beberapa hari ini, Alex seperti lupa dengan Clara karena sudah ada mainan yang baru. Clara selalu merayu Alex, tapi Alex memiliki sejuta alasan untuk selalu menghindar dari godaan Clara sekretaris pribadinya.


Clara semakin kesal dan mencoba mengikuti Alex yang selalu suka ke apartemennya dengan seorang wanita. Clara melihat itu dan memotret Alex dan wanitanya, dengan rasa kesal Clara memberi tahu pada Maura anak Alex agar mereka putus dan meninggalkan wanita yang terlihat di mata Clara masih belia.


Maura yang sedang asik bersama Mira di klub' malam melihat sebuah pesan di ponselnya dengan nomer tak di ketahui. Maura langsung memberitahukan kepada Mira perihal foto yang ada di ponsel tersebut. Dengan cepat Maura dan Mira pergi ke apartemen yang ada di foto tersebut. Mira sangat kesal setelah mengetahui bahwa Alex saat ini sedang berhubungan dengan seorang wanita belia.


Dalam foto itu hanya terlihat Alex dan wanitanya dari belakang saja tidak terlihat wajah dari keduanya. Malam itu Alex dan Livia berada di dalam apartemen, di sana Livia hanya menemani Alex untuk makanan setelah itu ready mengantar Livia untuk pulang, karena Livia ingin pulang menemani ibunya saat itu.


Setelah itu Livia pun pergi pulang kerumahnya dengan Robby yang mengantarnya. Dalam perjalanan Livia terus berfikir, Alex hanya ingin ditemani dirinya dan dilayani kepuasan perutnya. Livia berpikir semua itu tidak masuk akal dapat melunasi hutang ibunya kepada Alex.


Maura yang telah sampai di apartemen papanya, langsung mengetuk pintu dan masuk segera. Alex sangat terkejut melihat Maura anaknya bersama Mira datang ke apartemennya malam itu. Dengan cepat Alex memberi kode lewat ponselnya ke Robby agar segera kembali lagi ke apartemen itu.


"Dimana wanita bersama papa tadi pa?!" Maura mencari di dalam ruangan itu.


"Wanita mana?!" Alex mencoba tidak tahu.


"Pa, jangan berpura-pura!"


"Aku tahu papa ingin menghabiskan malam bersamanya kan?!" Maura berkata kasar kepada papanya.


Plak!


"Maura! Jaga sikap mu bicara pada papa!"

__ADS_1


"Mas, jangan memukulnya begitu mas." Mira memeluk Maura sibuk memberi perhatian.


"Kau jangan ikut campur urusan ku, dan jangan kau cuci otak anak ku untuk selalu menentang diri ku!" Alex sangat marah kepada Maura dan Mira.


Robby sudah tiba di apartemen lagi, Alex segera pergi dari kamar itu dan meninggalkan mereka berdua di sana. Robby terkejut melihat Maura dan Mira ada di sana, disaat Robby ada di parkiran ketika kembali dia melihat mobil Clara ada di sana.


"Tuan, saya tahu kenapa Maura dan Mira ada di sana."


"Mobil Clara ada di parkiran, tapi dirinya tak datang untuk melakukan apa pun. Sepertinya kita tadi di ikuti oleh Clara dan semua ini adalah rencana Clara." Robby menjelaskan kepada Alex.


Alex pun mengerti dan dia segera menyusun rencana untuk semua ini. Alex saat ini akan pulang ke kantornya dan dia ingin bermalam di sana. Dia tak ingin pulang ke rumah dan bertemu dengan Mira kembali.


Alex sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur yang ada di ruang kerjanya.


Pikirannya masih terus memikirkan Livia malam itu, setelah selesai mandi dan masih mengenakan handuknya, Alex pun tertidur tanpa mengenakan apa pun selai handuk yang masih menempel di pinggangnya.


Akhirnya Mira menyusun rencana untuk bisa mendapatkan pria incarannya itu. Mira malam itu pamit pulang kepada Maura, Mira sengaja pamit pulang agar Maura merasa Mira telah marah kepadanya. Karena Mira tahu bahwa Maura pasti akan melakukan sesuatu untuk dapat membujuknya kembali ke rumah itu.


****


malam itu Livia tidur bersama ibunya dirimu sangat senang karena dapat bersama dengan ibunya, ibunya selalu bertanya kepada levia mengapa setiap hari, ia harus pergi dan pulang malam bahkan tak pulang sama sekali. Livia pun berbohong pada ibunya dengan mengatakan bahwa sekarang ia sudah bekerja di perusahaan pak Alex, yang membantu mereka di saat ibunya kecelakaan tersebut.


Ibunya pun sedikit merasa lega dan tidak khawatir karena Nivea sekarang sudah mendapat pekerjaan. Sedangkan kondisi ibunya masih belum dapat berjalan dengan baik dan tidak dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kehidupan mereka hanya berdua saja, keluarga tidak menganggap mereka ada lagi saat ini.


Saat di kampus...


Tania masuk hari ini pertama kali ke kampusnya, setelah dia cuti menjaga ibunya di rumah sakit. Tania berjalan masuk ke gerbang kampus, tiba-tiba dari arah belakang temannya mengejutkan Livia.

__ADS_1


"Hai, Livia!"


"Kau masuk hari ini?"


"Aku sangat kesepian tak ada kamu di kampus. Senangnya kau sudah dapat masuk kembali." ucap Riska.


"Livia?!"


"Kita satu kampus saat ini? Tapi dari kemarin aku tak melihat mu ada di kampus?" tanya Maura yang terkejut dengan adanya Livia juga.


"Oh iya Maura, aku menjaga ibu ku di rumah sakit jadi baru hari ini aku masuk kembali." ucap Livia.


Dengan tiba-tiba Riska menjulurkan tangannya dan berkenalan dengan Maura yang ternyata teman Livia juga. Setelah itu mereka semua masuk ke dalam kelasnya masing-masing, Maura beda jurusan dari Livia saat ini. Maura melanjutkan kelas hukum dan bisnis di universitas itu.


Tring...


"Pukul 16:00 sore ikutlah bersama Robby yang telah menunggu mu di persimpangan tiga untuk menemui ku." Livia membaca pesan dari Alex.


"Livia! Kau sedang apa? kenapa diam saja dari tadi." Riska menyapa Livia yang sedang duduk bersama di kantin.


"Oh, aku harus cepat pulang hari ini. Ibu menyuruh ku untuk cepat kembali ke rumah." Livia berbohong lagi pada temannya.


"Kalau begitu nanti akan aku antar saja kamu pulang, bagaimana?" Maura menyodorkan bantuan kepada Livia.


Namun Livia menolak dan dia tetap bersikeras ingin pulang sendirian saja.


Maura pun tak memaksanya, Livia sangat takut dirinya ketahuan menjadi simpanan dari pria paruh baya saat ini. Dan menjadi bahan untuk di ceritakan di kampusnya, dan semua orang akan tahu lalu dirinya dapat di keluarkan dari kampus tersebut.

__ADS_1


__ADS_2