Terpaksa Jadi Simpanan

Terpaksa Jadi Simpanan
Bab 39. Terungkap


__ADS_3

Sejak saat itu Kenzo pun semakin ingin bertanya kepada Livia tentang keberadaan papanya. Bahkan hampir setiap hari pertanyaan itu terus berada di dalam benak Kenzo, Livia pun memperhatikan anaknya yang duduk berada di sebelah kirinya. Perasaan seorang ibu akan terluka apabila melihat anaknya sedih dan bahkan ingin mengetahui Di mana keberadaan papanya.


"Suatu saat nanti kau pasti akan mengetahuinya Kenzo, ngomong Mama tak dapat menjanjikan semua itu hanya takdir yang akan mempertemukan kau dengan papamu." gumam Livia dalam benaknya.


Dokter keluar dari ruangan itu..


"Dokter bagaimana keadaan ayah saya saat ini?!" Livia sedikit cemas dan khawatir.


"Maaf Bu, ayah anda...," Dokter itu menggelengkan kepalanya yang menandakan ketidak selamatannya Rendy.


Rendy telah meninggal dunia, dan dokter telah berusaha untuk menyelamatkannya, tapi Rendy telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Livia shock dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu terduduk kembali di kursi tunggu itu.


"Ayah...?"


"Ayah...?!"


"Tak mungkin, ayah...!" Livia berlari masuk kedalam kamar itu.


Livia menghampiri dan memeluk ayahnya yang sudah tidak bernyawa lagi. Livia menangis begitu kencangnya, tak seperti ketika ibunya meninggal saat itu. Livia dapat menahan dirinya untuk tidak berteriak, tetapi batinnya sangat perih sekali saat dirinya harus kehilangan ibunya saat ia tidak ada di rumah.


Livia pun segera menyiapkan pemakaman untuk ayahnya dengan layak, itu pembuktian dirinya sebagai anak yang berbakti untuk terakhir kalinya. Ayahnya mungkin akan sangat senang setelah pergi menemui ibunya di sana dan dapat berkumpul kembali.


"Bu, ayah telah pergi menemui mu di sana. Jagalah ayah di sana, dan jangan hiraukan anak mu yang masih berada di sini. Semoga kalian tenang di sana bersama-sama." Livia mendoakan kedua orang tuanya di saat setelah di makamkan.


*****


Kematian ibunya Livia sudah di ketahui, selama bertahun-tahun Robby dan Alex terus mencari tahu kebenarannya. Karena kematian ibunya Livia sangatlah tidak wajar saat itu, begitu juga dengan rumah orang tuanya Livia yang terbakar.

__ADS_1


Semua bukti sudah terkumpul, dan membuat mereka terkejut tak menyangka. Ternyata seluruh bukti itu tertuju pada Clara karyawan Alex yang ada di perusahaannya.


Siang itu juga Alex menyuruh polisi untuk menyeret Clara dari kantornya untuk di tahan dan memenjarakan wanita itu, agar mempertanggung jawabkan kelakuannya yang sudah sangat kriminal. Clara sempat memberontak dan tidak mau untuk di bawa ke kantor polisi siang itu. Wanita itu mencoba untuk melepaskan diri dari borgol yang ada di tangannya.


"Lepaskan saya...!"


"Kalian tidak bisa begini terhadapku...!"


"Lepaskan aku..., lepaskan...!"


" Argh...!


"Awas kalian semua, aku akan membuat perhitungan dengan kalian semua!"


"Ingat itu!" Clara berteriak dan berbicara sesuka hatinya.


Sekarang Clara harus mendekam di penjara selama 20 tahun dan tak bisa di bebaskan walau ada jaminan sekali pun. Alex ingin Clara mengingat dan segera sadar akan kelakuannya yang ingin membunuh kekasihnya Livia. Alex masih terus mengingat dan mencari keberadaan wanitanya sampai sekarang sudah 4 tahun lamanya.


Maura saat ini pergi ke Korea, dan dia hari lagi akan ada acara festival tahun baru disana. Ia akan menikmati tahun baru di Korea tanpa keluarga dan melihat bintang idolanya di Korea tersebut.


Sebelum hari festival, Maura berjalan-jalan mengelilingi Korea itu dengan beberapa fans dari idolanya yang lain. Saat itu mereka jalan bersama dan menginap di satu penginapan karena sama-sama berasal dari Indonesia.


Maura sengaja ingin bergabung bersama fans dari Indonesia, agar tidak merasa kesepian saat berada di Korea saat itu. Banyak tempat yang mereka kunjungi terutama tempat yang di rekomendasikan oleh idola mereka. Dan pada saat itu mereka pun beramai-ramai mendatangi tempat tersebut. Dan ternyata tempat rekomendasi itu salah satunya adalah toko Kenzo yang di kelola oleh Livia sendiri di Korea.


Maura dan teman-teman fans datang ke toko itu, di sana setiap hari sangat ramai sekali yang datang berkunjung. Namun hari itu Livia sedang tidak ada di toko tersebut, hanya ada karyawannya yang melayani mereka semua para pembeli di sana. Hari itu Livia sibuk dengan sekolah Kenzo yang akan mengadakan acara perayaan sebelum libur di tahun baru. Mereka mengadakan pentas seni ajang berkumpul dengan para orang tua di sekolah.


Livia seharian di sana dan tak sempat untuk ke toko melayani mereka semua. Hanya ketika toko itu mau tutup baru Livia datang ke toko dan mengecek semua barang serta pembukaan di sana. Setiap harinya toko itu menjadi incaran para anak-anak muda dan juga lansia yang hobi dengan pernak-pernik yang mereka jual.

__ADS_1


Malam itu hujan turun dengan lebat, Kenzo sudah tertidur di dalam mobil. Livia berlari meninggalkan Kenzo di dalam mobil begitu saja, Livia pergi ke toko untuk mengambil buku toko untuk di bawanya pulang. Ia ingin memeriksa pembukuan itu di rumah saja karena sudah tidak sempat untuk membukanya di toko, apa lagi Kenzo sudah tidur dan Livia ingin segera pulang ke rumahnya.


Bugh!


"Ah, maaf."


"Saya terburu-buru karena toko akan di tutup saat ini." ujar Livia yang sedang mengutip penanya yang terjatuh ke lantai.


Sementara wanita yang menabraknya hanya berdiri terdiam dan tak mengatakan apa pun saat itu. Livia pun berdiri setelah memungut penanya yang terjatuh, lalu berkata lagi pada wanita yang ada di hadapannya.


"Ada yang bisa saya bantu nona?" Livia masih sibuk dengan memasukkan pena itu ke dalam bukunya.


"Tadi ada barang saya yang ketinggalan di toko ini, dan saya mau ambil barang tersebut." terdengar suara itu tak asing bagi Livia.


Dirinya berhenti sejenak dan melirik ke arah wanita yang sedang berbicara padanya. Betapa terkejutnya Livia ketika menatap wajah wanita yang memakai kaos merah yang sedang menatapnya juga dari tadi tanpa henti.


"Kau?!"


"Kau Maura?!" Livia terbata-bata.


"Ya ini aku!"


"Mengapa? Mengapa memasang wajah yang membosankan seperti itu?!"


"Apakah aku hantu dan kau harus mengeluarkan bola matamu itu?!" ujar Maura dengan nada sedikit meninggi kepada Livia.


Akhirnya mereka berdua bertemu tanpa sengaja, di depan toko Kenzo saat hujan dan badai malam itu. Putra Livia Kenzo masih terlelap tidur di dalam mobil, sedangkan mereka masih saling menatap dan tak percaya bisa bertemu di Korea.

__ADS_1


__ADS_2