
5 hari kemudian....
Ibu Livia telah keluar dari rumah sakit, dokter menyatakan bahwa ibunya telah sembuh, tapi masih harus tetap kontrol datang kembali ke rumah sakit tersebut. Beberapa hari ini, sebelum ibunya keluar dari rumah sakit, Alex sama sekali tidak menelpon ataupun memberitahu tugas yang akan dilakukan oleh Livia.
Hanya Robby pengawal Alex yang, sesekali membawakan makan siang untuk Livia di rumah sakit. Saat itu, Alex yang mengetahui Livia dan ibunya sudah pulang ke rumah, Alex langsung menelpon Livia untuk datang. Livia akan di jemput oleh Robby sendiri dan membawanya ke tempat Alex berada.
Dan pada saat Robby datang, dia membawa seorang perawat yang akan merawat ibunya Livia saat dia tidak ada di rumah. Kali ini Alex sudah tidak sabar untuk menunggu kedatangan Livia di apartemennya.
Alex mengenakan handuk saja di pinggangnya, sambil meminum segelas anggur merah yang manis menantikan Livia disama. Livia yang masih dalam perjalanan bersama Robby sedikit cemas jelas terlihat oleh Robby. Sesekali Livia menoleh ke arah Robby bermaksud ingin bertanya kepadanya.
Namun Livia tak tahu mau bertanya darimana dahulu, sehingga dirinya lebih memilih untuk diam saja. Robby masuk ke dalam area parkir di suatu kawasan apartemen elit dan terlalu megah. Membukakan pintu mobil dengan sopan kepada Livia, hingga gadis itu turun dan mengikuti Robby dari arah belakang.
Berjalan melewati lobi dan naik ke lantai 10 dengan lift yang ada di sana. Pintu lift itu terbuka dan Robby melanjutkan langkah kakinya mencari kamar no 150 di deretan sebelah kiri. Livia masih merasa heran dan bertanya-tanya, dengan pekerjaannya itu.
"Apakah ini sebuah kantor tuan Alex juga?" gumamnya Livia.
Livia tidak menyadari dirinya sudah dua kali ke kantornya Alex, tapi dia tak menyadarinya sama sekali saat itu. Robby pun berhenti di depan kamar apartemen nomor 150, dia membuka pintu apartemen itu dengan kartu yang di diberikan oleh Alex bosnya.
Robby pun mempersilahkan Livia untuk masuk ke dalam menemui Alex yang sudah menunggu lama. Robby melihat Alex sedang duduk menatap layar TV di ruang tersebut, mereka berdua menghampiri Alex yang masih mengenakan handuk di pinggangnya.
Hari sudah semakin malam, Alex pun menyuruh Robby untuk pulang dan beristirahat di rumahnya. Robby meninggalkan Livia begitu saja, dan pengawalnya itu sudah mengerti untuk berbuat apa. Kebiasaan Alex yang sangat di pahami oleh Robby pengawalnya.
__ADS_1
Livia masih duduk di atas sofa yang empuk, namun berjauhan dari Alex. Livia yang gugup dan merasa canggung dengan Alex hanya menundukkan kepalanya saja. Alex pun datang menghampiri Olivia, dan mengajaknya duduk di sebelahnya. Alex mulai mengutarakan ke inginan nya kepada Livia. Gadis itu merasa ketakutan, dan geser menjauh dari
Alex saat itu.
Alex pun mengerti dan tidak melanjutkan keinginannya ke Livia, dia masih begitu polos dan takut untuk berhadapan dengan Alex. Akhirnya Alex pun mengajak Livia untuk tidur dan istirahat di kasurnya, sedangkan Alex akan tidur di sofa. Walau mereka dalam keadaan satu kamar.
" Malam ini tidurlah di kamar ku, temani aku tidur."
"Jangan takut, aku tidak akan melakukan apa pun kepada mu." ucap Alex yang mengantarkan Livia ke atas kasur dan menyelimutinya.
Alex mengecup dahi Livia dengan lembut dan penuh kasih sayang. Livia pun terdiam dan menerima kecupan itu, dirinya tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang pria yaitu ayahnya. Alex meninggalkan Livia yang sedang berbaring di kasur empuk miliknya. Alex yang tidur di sofa berseberangan dengan Livia terus menatapnya sampai tertidur.
Alex sangat gemas melihat Livia, rasanya tak sanggup dan ingin memeluknya. Malam itu Livia pun terlelap dalam mimpinya di kasur Alex yang empuk, dirinya tak dapat menahan karena sangat kelelahan.
Tring...
Tring...
Alex sangat gelisah, sampai tak dapat tidur, dirinya ingin sekali tidur berada di sisi Livia. Segera Alex menghampiri wanita itu dengan duduk di tepian kasur dan membelai wajah Livia yang terlalu imut bagi pria berumur itu. Alex pun segera naik ke kasur dan ikut tidur di belakang Livia lalu memeluknya.
Saat itu Alex merasakan kenyamanan hingga matanya tertutup dan tidur terlelap. Keesokan paginya Livia terbangun dengan cepat, dia teringat akan ibunya yang sedang sakit. Saat membuka matanya dia merasakan ada yang memeluk dirinya dari belakang. Dengan cepat dia membalikan badan, dengan sangat terkejut melihat tuan Alex sudah tidur dengannya. Alex pun terbangun menatap Livia pagi itu.
__ADS_1
"Pagi Livia, apa kau tidur nyenyak tadi malam?"
"Kau jangan berfikiran buruk dulu, tadi malam aku tak bisa tidur."
"Sehingga aku naik kesini dan hanya memeluk tubuh mu yang imut itu saja tak ada yang lain." ucap Alex dengan suara yang lembut.
Rambut Livia di belai dengan lembut, Alex juga menyentuh pipinya yang chuby. Gadis belia itu membuat Alex semakin gemas disaat bangun tidur. Alex memberikan sebuah kartu kepada Livia, kartu itu akan mempermudah Alex untuk mentransfer uang ke Livia. Alex bergerak lebih dekat ke Livia, karena Livia sedikit menjauh saat dirinya sudah terbangun. Dengan begitu manja Alex kembali merangkul Livia dan memeluknya lagi sebentar saja.
"Livia, aku ingin kamu melayani ku disaat aku lagi ingin bersama ku."
"Apa kau bisa memasak?" tanya Alex.
"Tapi aku tidak bisa melayani mu tuan, bagaimana dengan istri mu?"
"Bukan kah kau seharusnya dilayani oleh istri mu?" ujar Livia yang semakin bingung maksud dan tujuan Alex kepadanya.
"Istri ku sudah lama meninggal dunia, dan sudah bertahun-tahun aku kesepian sekali."
"Aku tak akan berbuat sesuatu apa pun kepada mu, aku hanya ingin kau melayani makan ku dengan masakan mu dan juga perhatian mu selalu kepada ku." pinta Alex ke Livia.
Livia hanya diam saja dalam pelukan pria itu, dirinya bingung harus bagaimana. Sementara dia tidak mau menjalaninya seperti itu, Livia berpikir bagaimana jika ibunya tahu tentang pekerjaannya saat ini. Kondisi ibunya belum dapat berjalan, karena kecelakaan itu kaki ibunya patah dan masih harus terapi terus ke rumah sakit.
__ADS_1
Namun untuk menolak, perjanjian sudah di tandatangani oleh Livia. Bila membatalkannya Alex akan meminta rumah mereka dan juga uangnya kepada Livia. Gadis belia itu harus mengikuti permainan dari kertas perjanjian yang Alex buat saat ini.