Terpaksa Jadi Simpanan

Terpaksa Jadi Simpanan
19. Keberuntungan


__ADS_3

Mira yang sangat marah kepada Livia karena diam-diam sudah merebut pria incarannya yang sudah lama ingin dia miliki. Namun dirinya kalah dengan gadis belia yang tak selevel dengan dirinya, bahkan bila di bandingkan dari segi mana pun Livia tak pantas untuk bersaing dengan dirinya menurut Mira.


"Aku akan membuat perhitungan dengan diri mu!"


"Lihat saja nanti kau Livia, dasar perempuan j***ng!" ujarnya dalam hati dengan sangat emosi.


Mira pun pergi menemui pria bule yang bernama Arnold itu, karena merasa kesel Mira pun bersenang-senang bersama Arnold di sebuah bar kecil malam itu. Mereka berdua minum sampai mabuk, bahkan Mira kembali ke penginapan Arnold dan tidak pulang ke rumahnya.


Sebagaimana dengan kebiasaan orang bule tinggal bersama tanpa ikatan itu hal yang biasa, dan itulah yang dilakukan Mira dengan Arno sekarang di hotel tempat Arnold menginap. Mira sangat menikmati kebersamaannya dengan kekasih bule nya itu, dia dapat melupakan rasa kesalnya terhadap Livia sesaat.


****


Di pagi harinya Alex masuk ke kantor, dan Robby memberi kabar bahwa Maura tidak pulang dari semalam. Alex pun mengerti akan hal itu, dirinya mengira Maura pasti bersama dengan Mira semalaman. Alex pun dengan cepat menelpon Mira pagi itu juga, namun ponsel Mira tak dapat di hubungi sama sekali. Ponsel Maura juga tidak aktif dan Alex sekarang bingung dengan keberadaan Maura entah dimana.


"Hallo Kevin, cepatlah kau cari keberadaan Maura di Jakarta."


"Aku akan beri kau imbalan yang pantas untuk hasil kerja mu nanti." ujar Alex perintahkan adik sepupunya yang selalu mengharapkan uang dalam dunia bisnis.


Kevin pun hanya tersenyum dan menyetujui kerjasama mereka, saat itu juga Kevin menyuruh asistennya untuk menyiapkan koper dan semua perlengkapannya selama sebulan di Jakarta nanti. Perusahaannya itu dia serahkan kepada pengawas orang kepercayaannya untuk bertanggung jawab selama ia pergi dari Singapura.


"Maura, kali ini papa mu sendiri yang menyuruh ku untuk mencari mu. Jadi jangan salahkan aku bila kita bertemu karena semua itu rencana papa mu sendiri."

__ADS_1


" Alex kau harus tahu kalau kau sedang mendekatkan aku dengan anak mu sendiri." ujar Kevin dalam hatinya yang sudah tak sabar ingin mencari keberadaan Maura.


Saat itu juga casing pun berangkat dari Singapura ke Jakarta untuk mencari Maura, Kevin seorang hackers yang dapat mengetahui di mana keberadaan Maura, hanya dengan jari-jarinya melacak keberadaan Putri Alex tersebut.


Maura hari ini tidak masuk ke kampus, bahkan ponselnya dari pagi tadi sampai sore Livia hubungi tak aktif juga. Livia ingin mencoba bertanya pada Alex namun dirinya ragu untuk menelpon kekasihnya itu, sehingga tangan Livia pun tak jadi menekan nomer ponsel Alex yang tersimpan di kontak ponselnya.


Robby juga ikut mencari dan melacak keberadaan Maura, sesungguhnya Robby selalu meletakkan alat di ponsel Maura agar dapat di lacak olehnya. Tetapi kali ini usaha Robby tak membuahkan hasil karena Maura sudah menjual ponsel miliknya ke sebuah toko barang bekas. Lalu dengan uang itu Maura pergi entah kemana.


Namun tidak dengan Kevin, dia dapat dengan mudah melacak keberadaan Maura saat ini. Sebelumnya Kevin pernah meletakkan sesuatu di gigi Maura, sebuah pelacak GPS yang dapat melacak Maura dengan mudah tanpa sepengetahuan gadis itu. Kevin sungguh licik dan sangat posesif, bahkan dia lebih playboy dari Alex papanya Maura sendiri.


****


Kevin telah sampai, tapi dia tidak berada di Jakarta. Saat ini dia berada di London Inggris dimana tempat Maura sekarang berada, pria itu datang ke sebuah bar besar di negara itu. Disama dia melihat Maura minum sendirian dan di ganggu oleh beberapa pria yang ingin menggodanya. Saat itu Maura sangat mabuk berat sampai tak dapat berdiri sendiri di atas kedua kakinya. Sementara itu tiga orang pria itu ingin membantu Maura untuk berdiri dan membawa dirinya entah kemana. Kevin pun segera datang dan mengambil alih Maura dari mereka, perkelahian terjadi karena mereka bertiga tidak senang Maura diambil oleh Kevin malam itu.


Bugh!


Bugh!


Kevin pun dengan mudah membereskan mereka semua, karenal pemilik bar itu adalah rekan bisnis dari Kevin juga sehingga semua dapat di bereskan tanpa ada yang merepotkan Kevin dengan keamanan.


Maura segera di bawa oleh Kevin dengan naik taksi ke penginapan miliknya yang ada di London.

__ADS_1


Sampai di sana Maura pun ditidurkan di atas kasur, Kevin segera memanggil pelayan hotel perempuan untuk mengganti baju Maura dengan piyama. Setelah itu kedua pelayan hotel perempuan itu pun pergi dari kamar Kevin, malam sudah larut Maura masih tertidur di atas kasur sedangkan Kevin meminum anggur merah sambil menatap keluar dari jendela kamar penginapannya.


Dari kejauhan Kevin menatap Maura, sambil meminum dan menenggak anggur merah dingin yang berada di tangannya. Kevin sangat tertarik dengan Maura, ia melihat gadis itu sekarang sudah tumbuh beranjak menjadi dewasa dan bahkan bertambah cantik di matanya.


Kevin pun berjalan dan menghampiri Maura yang masih tertidur di atas kasurnya, dengan anggur merah yang masih berada di genggamannya. Kevin duduk di tepi kasur itu, lalu tangannya menyentuh lembut wajah gadis yang selama ini ia inginkan. Pikirannya kacau namun ia masih sadar dan mengurungkan niatnya untuk tidak mendapatkan marah dengan cara yang tidak adil.


Kevin pun menjauh dari kasur itu dan ia menjaga serta mengontrol dirinya agar tidak melakukan sesuatu hal yang bodoh kepada putri Alex tersebut. Kevin ingin menyerahkan Maura terlebih dahulu kepada papanya mendapatkan imbalan yang dijanjikan oleh Alex baru ia akan mengambil kesempatan bersama Maura di saat Maura benar-benar sadar untuk melakukannya.


Malam itu Kevin pun tidur di atas sofa yang ada di depan TV kamar itu. Ia tak ingin memperhatikan Maura lagi ataupun dekat dengan gadis tersebut, iya takut tak dapat mengontrol dirinya. Kevin akan membiarkan gadis itu untuk beristirahat dan esok barulah Kevin akan berpikir bagaimana cara membawa Maura kembali ke Jakarta.


Keesokan paginya Maura terbangun dari tidurnya dan ia merasa kepalanya sangat pusing sekali, dalam keadaan yang tidak stabil mulutnya berbicara dan meminta seseorang untuk mengambilkannya segelas air, tenggorokannya saat ini sangat kering dan juga kehausan. Kevin yang keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan dirinya, mendengar Maura meminta sejelas air kepadanya. Kevin pun segera menuangkan segelas air, dan memberikan kepada Maura saat itu juga.


Mata Maura masih tertutup, karena kepalanya masih terasa pusing untuk dapat membuka matanya, kembali melihat keadaan di sekelilingnya.


Namun dalam pikirannya ia sangat penasaran, dengan seseorang yang membantunya menuangkan segelas air untuk dia minum. Dan Maura pun membuka matanya untuk melihat dimana sekarang dia berada, juga ingin tahu siapa yang sudah memberikannya air tadi.


"Apa kepala mu masih sangat pusing?"


"Ambilah handuk ini dan segera mandi dengan air hangat agar peredaran darah mu dapat kembali normal mengalir ke kepala."


"Dengan demikian kau dapat berpikir dengan jernih dan tak pusing lagi." ujar Kevin kepada Maura.

__ADS_1


"Kau?!" mata Maura terbuka lebar saat menatap ke arah Kevin saat itu.


__ADS_2