
Hari pertama Livia magang di kantor Alex, dia terlihat tidak tenang karena Livia sudah mengetahui bahwa pria yang pernah bermalam bersamanya adalah seorang papa dari sahabatnya sendiri. Livia bingung harus bagaimana dengan jalinan dan perjanjian itu yang sudah di sepakati.
Tiba-tiba Clara datang menghampiri Livia di kursinya, dia meletakkan tumpukan berkas di meja kerja Livia untuk dikerjakan olehnya. Clara tidak berkata apa pun kepada Livia, ia langsung pergi setelah meletakkan berkas dengan begitu saja. Livia pun bingung dengan itu semua, sedangkan sekarang sudah waktunya untuk makan siang dan istirahat.
"Livia ayo ikut bersamaku." ucap Robby yang datang mengajak Livia pergi.
"Tapi Pak Robby, ini masih ada tumpukan berkas yang di berikan oleh Bu Clara." Livia memberi tahu kepada Robby.
Dengan sedikit emosi Robby mengambil berkas yang ada di atas meja Livia, dan menarik tangan Livia untuk segera mengikutinya. Berkas itu di letakkan Robby di atas meja kerja Clara kembali, karena itu memang bukan tugas-tugas Livia. Setelah itu Livia pun di bawa pergi oleh Robby dengan mobil Alex ke suatu tempat.
Alex sudah menunggu mereka berdua di apartemennya, diam-diam Robby membawa Livia dengan cara tersembunyi agar tidak ada yang melihat mereka pergi bersama. Mira saat itu melihat Robby yang pergi bersama Livia dengan penuh curiga, karena mereka pergi dengan menggunakan mobil pribadi Alex saat itu.
Seharusnya bila masalah keperluan kantor, mereka selalu menggunakan mobil fasilitas kantor bukan mobil pribadi Alex tersebut. Robby sengaja membelokkan setirnya ke arah sebuah cafe, mereka di sana berpura-pura akan menemui klien dan makan siang bersama. Robby sudah memberitahu kepada Alex bahwa mereka berada di cafe yang telah disebutkan oleh Robby kepadanya.
Alex pun datang ke sana dengan membawa rekan bisnisnya untuk makan siang di cafe tersebut. Mira pun mengikuti mereka sampai masuk ke dalam cafe itu, di sana merah menyaksikan hanya ada Robby dan Livia, namun tak berapa lama Alex dan rekannya pun datang dengan pakaian rapi dan makan siang bersama.
Mira pun sedikit lega dia pergi dari kafe itu, rencananya untuk menemui Alex telah gagal ia segera kembali menemui Maura di rumahnya. Maura yang sedang asyik di kamarnya, memutar lagu disko dan berjoget ria tanpa mengetahui Mira sedang mengetuk pintu kamarnya dari luar.
Mira menjadi kesal karena Maura tidak mendengar suara ketukan dari Mira, akhirnya ia pun pergi dari rumah Maura menuju ke sebuah penginapan kecil milik teman prianya yang bernama Arnold. Pria bule yang datang dari Belanda ingin bertemu dengan Mira hari itu.
__ADS_1
Dengan mobilnya Mira pun pergi ke penginapan Arnold yang baru saja tiba di Jakarta. Pria itu bukan hanya ingin bertemu Mira, tapi ada pertemuan bisnis yang membawanya datang ke Jakarta. Arnold membuat janji pertemuan bisnis besok jam makan siang, jadi masih ada waktu untuk bersama dengan Mira saat ini.
Mobil sudah di parkiran Mira pun turun dan disambut oleh Arnold saat masuk melewati lobi hotel itu. Arnold merangkul pinggangnya dan kedua bibir saling bertemu, selayaknya orang bule yang saling menyapa. Mereka berdua kembali berjalan melewati lobi itu untuk naik ke atas dengan lift yang sudah terbuka pintunya.
Kebetulan lift itu kosong tidak ada yang naik selain hanya mereka berdua saja di sana. Arnold pun membawa Mira ke sudut lift lalu melakukan sesuatu, bagaikan sepasang kekasih yang sangat merindu, sampai tidak memberi batasan lagi dengan sikap mereka. Pintu lift terbuka saat mereka belum sampai di tujuan, seorang wanita paruh baya dan anaknya masuk ke dalam lift mereka. Seketika mereka terdiam dan tak melanjutkan pergerakan lagi, tangan mereka hanya saling menggenggam erat karena menahan yang sempat terhenti.
Setelah sampai di lantai 5, Arnold dan Mira pun keluar dari dalam lift itu. Dengan cepat Arnold menarik Mira untuk segera menyusuri jalan menuju kamar hotelnya. Sampai di depan kamar no 202, mereka langsung masuk dan menutup kembali pintu kamar itu. Kedua insan yang tak ada batasan itu pun melanjutkan tujuan mereka saat itu juga. Dan Mira pun bermalam di sana bersama teman prianya itu, Perilaku Mira yang sesungguhnya Maura tidak mengetahuinya.
Maura sangat menyanjung dan memuliakan Mira di dalam hatinya, berharap Mira sama seperti kakaknya yang dulu adalah mama kandungnya.
Dia sangat ingin memiliki seorang mama yang dapat mengisi ke kosongan di rumahnya dan menemaninya selalu di rumah dengan perhatian. Alex selalu sibuk dan tak pernah meluangkan waktu untuk putrinya, sehingga Maura menjadi anak yang kesepian dan mencari kesenangan di luar rumahnya.
****
"Sayang malam ini menginap lah di sini bersama ku."
"Segera pulang ke sini setelah selesai dari kantor." bisik Alex ke telinga gadis itu.
"Tapi aku harus bertemu dengan ibu ku dulu mas, aku takut ibu akan cemas memikirkan ku." ujar Livia.
__ADS_1
"Baiklah, nanti akan aku suruh Robby menjemput mu pukul 20:00 malam ke rumah mu sayang." Alex mencium pipi Livia, dan mereka segera pergi kembali lagi ke kantor.
Clara yang baru selesai makan siang dengan temannya kembali ke atas dan masuk ke ruangan kerja Alex. Hari ini dia ingin menggoda Alex lagi di ruang kerjanya, tapi Alex dan Robby pun tidak ada di sana. Clara sangat kesal, sudah dua Minggu dirinya tak pernah diajak lagi bersama Alex, dan atasannya itu selalu menghindar bahkan tak ingin di rayu lagi olehnya.
Sudah lama Clara menjadi wanita Alex selain menjadi sekretaris pribadinya di kantor. Akan tetapi belakangan ini semenjak Maura dan Livia muncul, Alex sudah tidak melirik dirinya lagi. Clara juga sangat benci dengan Mira yang sekarang mencoba menggoda Alex secara terang-terangan datang ke kantor.
Clara mencoba masuk ke dalam kamar yang ada di balik meja kerjanya Alex. Dengan percaya diri Clara ingin membuka pintu itu, tapi pintu itu terkunci dan kode kuncinya sudah diganti oleh Alex saat ini.
"Aku sangat benci dengan Alex, dia benar-benar sudah melupakan ku."
"Sampai-sampai tak ingin aku masuk ke kamar pribadinya lagi seperti dulu aku menemaninya di kamar ini." Clara kesal dan pergi begitu saja.
Robby yang mengetahui itu dari kamera pengawas yang tersambung ke ponselnya tersenyum terlihat senang. Melihat Clara marah dan kesal setelah tidak dapat masuk kembali ke kamar pribadi Alex bos di perusahaannya. Clara keluar dari ruangan itu dan kembali ke meja kerjanya, dia terlihat bertambah kesal, saat berkas menumpuk itu ada di meja kerjanya saat ini.
"Bukannya ini berkas sudah aku kasih ke anak itu?!"
"Beraninya dia malah bawa balik lagi dan meletakkannya di meja aku sekarang!" Clara membanting kertas itu.
Sebuah kertas memo kecil di lihatnya menempel di layar laptopnya. Ada sebuah tulisan pesan untuk dirinya dari Robby, dia pun membacanya dan segera duduk kembali ke meja kerjanya. Mengambil berkas-berkas itu untuk di kerjakan ya sendiri, setelah dia mendapat memo itu.
__ADS_1
Isi Memo
Kau yang harus mengerjakannya sendiri sampai pukul 15:00 harus sudah siap, atau aku yang akan mengatakan kepada pak Alex bahwa kau ingin menjadi OB di kantor ini.