Terpaksa Jadi Simpanan

Terpaksa Jadi Simpanan
23. Kembali


__ADS_3

Kevin pun segera membawa Maura pulang kembali ke hotel mereka, Maura selalu menguji di dalam mobil dan juga di lobby hotel. Semua itu karena pengaruh dari minuman beralkohol yang ia minum dari tadi, terlalu banyak meminum minuman beralkohol itu. sehingga Kevin yang harus hnya berjalan masuk ke hotel mereka, Kevin sengaja mengontrol dirinya untuk tidak minum terlalu banyak, karena ia harus bertanggung jawab untuk membawa Maura kembali ke hotel mereka dan keesokan harinya mereka akan berangkat kembali ke Jakarta.


Keesokan paginya....


Maura bangun dengan kepalanya yang terasa pusing, Maura bangun dan berjalan sambil berpegangan dinding karena terhuyung-Hyung. Maura ingin ke kamar mandi hendak membersihkan diri dan kebelet juga. Sampai di toilet Maura muntah-muntah di sana, Kevin terbangun dari tidurnya karena mendengar Maura yang muntah di kamar mandi.


"Maura kau kenapa?"


"Apa perlu aku panggilkan dokter ke sini agar memeriksa keadaan mu?" tanya Kevin yang khawatir.


"Sudahlah aku tak apa-apa kok paman. Ini hanya pengaruh minuman yang masih belum hilang saja." Maura berkata kepada Kevin.


Kevin pun pergi untuk meminta pada pelayan hotel agar mengirimkan lemon teh hangat ke kamar mereka. Dan Kevin tak lupa memesan sarapan pagi yang di antar ke kamar mereka juga, karena Kevin lagi malas untuk turun sarapan di lantai bawah. Saat Maura kembali dari toilet, sarapan dan juga lemon teh hangat untuk Maura sudah ada di atas meja. Segera Maura meneguk minuman itu sampai habis, dalam beberapa menit Maura sudah merasa segar dan mual pun hilang.


Siang itu mereka pun terbang ke Jakarta, Kevin mengirim pesan kepada Alex sebelum mereka naik pesawat dan kembali ke Jakarta menemui Alex di sana. Mereka pun terbang ke Jakarta saat itu juga, dan Kevin sudah memikirkan sebuah imbalan yang akan ia minta dari Alex saat tiba di Jakarta nanti.


****


Mira sudah sangat senang mendengar Maura akan tiba di Jakarta hari ini, Mira pun berinisiatif akan menjemput Maura di bandara dengan mobilnya sendiri. Mira sudah menyusun rencana untuk mencuci otak Maura agar papanya terdesak untuk menikahi Mira secepatnya.


Wish...

__ADS_1


Pesawat mendarat dengan selamat di bandara Soekarno Hatta, dan di sana Mira sudah menanti di tempat penjemputan dengan semangat.


"Maura..!" Mira melambaikan tangannya ke arah gadis itu.


"Tante...!" Maura berlari ke arah Mira.


Mereka pun berpelukan, koper dan barang lainnya di tinggalkan oleh Maura begitu saja. Kevin lah yang mengambil dan membawanya menghampiri mereka berdua yang tengah asik bergembira. Kevin hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua wanita yang ada di depannya, tetapi dia tetap fokus kepada tujuannya karena sudah menemukan Maura putrinya Alex.


"Maura kau pulang kesini bersama pacar mu kah?" Mira penasaran dengan Kevin yang tampan dan begitu cool tak bedanya seperti Alex.


"Oh, dia paman Kevin. Sepupunya papa Alex, Tante."


"Aku pacaran sama dia, bisa mati penasaran di buatnya."


Mira dan Maura pun tersenyum dan tertawa kecil sambil menutup mulut mereka dengan telapak tangan. Mereka semua pun masuk ke dalam mobil merah dan Maura tidak ingin pulang ke rumah papanya ia lebih memilih ke rumah Mira saat ini. Mengetahui akan hal itu Kevin pun mengambil alih untuk membawa mobil tersebut, Kevin mengemudikan mobil itu menuju ke kantornya Alex langsung dari bandara.


"Pria ini tak kalah tampan dari Alex bahkan usianya lebih muda daripada Alex."


"Mungkin akan menyenangkan bila bisa memilikinya dan menjadi pacarnya." pikir Mira yang sedari tadi menatap ke arah Kevin.


Kevin tak suka melihat Mira yang tampak seperti wanita tak baik bahkan terlihat jelas dia begitu licik. Namun Kevin tak menghiraukannya, yang jelas Kevin nanya memikirkan mangga putrinya Alex. Sudah sejak amat yang menyukai Maura, yang main dulu putrinya Alex masih terlalu muda untuk dirinya.

__ADS_1


Sekarang Maura sudah tumbuh dewasa Bahkan ia bertambah cantik namun sifatnya masih kekanak-kanakan, hanya perlu beberapa pembelajaran yang akan membuatnya jauh lebih dewasa.


Ciiitt...!


Mobil pun berhenti di depan gedung perkantoran milik Alex, wajah Maura langsung cemberut iya tidak suka Kevin membawa dirinya ke kantor papanya. Kevin pun memaksa Maura untuk masuk ke dalam gedung kantor papanya, mau tidak mau Maura dan Mira pun masuk ke dalam gedung perkantoran itu bahkan Alex sudah menanti kedatangan mereka.


Sementara di dalam ruang kerjanya, Alex berfikir untuk membawa Livia dapat tinggal bersamanya. Saat ini Alex ingin Livia bersama dengan dirinya setiap hari, dapat memantau perkembangan janin yang ada di dalam kandungan Livia. Perasaan Alex saat ini tidak ingin marah kepada Maura, karena dirinya setengah bahagia ketika mengetahui lifia mengandung anaknya.


Tok, tok, tok...


"Ya silakan masuk." ucap Alex mempersilahkan mereka untuk masuk ke ruangan miliknya.


Alex sudah mengetahui bahwa orang yang ada di luar pintu kantornya itu adalah Kevin dan Maura. Alex memberitahu kepada Kevin dan juga Robi hanya orang yang berkepentingan saja berada di ruangan yang saat ini. Sedangkan dirinya tidak ingin ada orang lain, yang ikut campur dalam urusannya dengan Maura dan Kevin selama membicarakan sesuatu di ruang kantornya.


Robby pun mengerti dan segera menyuruh Mira untuk menunggu di luar ruangan saja. Robby pun juga menunggu di luar ruangan dan ia kembali ke ruangannya untuk mengecek pekerjaan yang ia berikan kepada Clara. Saat ini Robby masih menyelidiki tentang kematian ibunya Livia, karena ia sangat merasa janggal tentang kematian ibunya Livia yang tidak wajar.


Clara menyiapkan pekerjaannya di ruangan, kali ini dirinya tidak lagi menjadi sekretaris pribadi Alex. Sudah ada yang menggantikannya menjadi sekretaris pribadi Alex di kantornya. Clara sudah mendengar bahwa ibunya Livia meninggal dunia, dirinya sedikit ketakutan karena menduga bahwa kematian ibunya Livia ada hubungannya dengan perkataan yang ia ucapkan malam itu.


Clara hanya diam saja dan sedikit mencari tahu informasi secara diam-diam, saat pulang dari kantor sekitaran rumah Livia. Clara mencoba bertanya dengan tetangga dan orang-orang yang mengetahui akan kejadian meninggalnya ibunya Livia.


*****

__ADS_1


Di dalam ruangan Alex...


Alex memeluk Maura karena sangat khawatir dan merindukannya saat itu. Sudah ada hampir seminggu Maura pergi tanpa ada kabar sedikit pun, Alex sangat sayang pada Maura, hanya putrinya seorang yang ia punya sekarang. Makanya Alex tak mau kalau Maura putrinya salah dalam mengambil sikap dan keputusan dalam segala hal, yang nantinya akan menyakiti hatinya sendiri. Dan tentang Maura dengan sahabatnya, nanti Alex akan mencoba untuk memberikannya penjelasan dan pengertian agar Maura mau mengerti.


__ADS_2