
Seketika Alex pun menyuruh Robby untuk menyiapkan keberangkatannya ke Korea, seperti yang diharapkan oleh Maura, Alex pun langsung akan pergi ke Korea. Robby pun memesan tiket dan menyiapkan koper buat Alex bawa perlengkapannya selama di Korea bersama Maura.
Kali ini Maura sudah memesan sebuah hotel untuk dua malam saja sama papanya. Maura yakin kalau Livia pasti tak suka pada Maura yang mengajak papanya datang ke Korea. Namun Livia mengajak papanya dengan alasan bahwa Maura sedang sakit dan tak ada teman yang merawatnya di sana. Maura hanya ingin mereka bersatu dan tak akan mengganggu kebahagian mereka lagi. Maura sangat kasihan melihat papanya yang semakin hari memburuk dan bisa menjadi pasien rumah sakit jiwa karena dirinya yang selalu menghalangi mereka bersatu.
"Papa...!" Maura menjemput Alex di bandara dan segera membawa ke hotel tempat menginap mereka.
"Papa lihat kau sangat sehat Maura?!"
"Mengapa bisa berkata sedang sakit?" Alex sedikit sangat heran.
"Ya tadinya Maura sakit pa, tapi setelah tahu papa akan datang, Maura jadi sangat senang dan sedikit membaik." ujar Maura menjelaskan.
Alex pun diam saja dan ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Alex sangat ingin beristirahat sejenak di hotel tersebut, setelah Alex tertidur, Maura pun memesan beberapa makanan untuk dapat dimakan oleh Papanya di dalam kamar. Maura tahu dari Robby, bahwa Papanya belum ada makan sedikitpun, sehingga ia menyiapkan makanan itu ke papanya.
Tut..., Tut.., Tut...
"Hallo, apakah bisa antar kan sebuah hiasan dekor untuk kamar 105 di hotel ***" ucap Maura kepada pelayan toko itu.
Maura juga menginginkan bahwa pemilik toko mereka yang datang secara langsung, melihat desain apa yang cocok diletakkan di kamar customernya. Mendapatkan pekerjaan itu, Livia pun datang di saat siang hari untuk survei bersama Kenzo saat itu. Setelah selesai menjemput Kenzo dan makan siang bersama di luar, Livia memberi tahukan kepada anaknya bahwa mamanya ada sedikit pekerjaan. Dan Kenzo sedikit terlibat ikut bersama mamanya, untungnya Kenzo tak mempermasalahkannya asal ada mainan yang dipegangnya saat itu.
Livia pun sampai di hotel *** dan tidak memperhatikan pesanan itu atas nama siapa. Namun Maura sudah memberi pesan dan juga uang tip untuk memberi tahu kamarnya Maura kepada Livia bila sudah sampai.
"Permisi, mbak saya Livia mau..." berhenti bicara.
"Oh mbak Livia ya? mari saya antar ke kamar 105 di lantai 4."
"Pemilik kamarnya sudah memberi tahukan kepada saya bahwa dirinya sedang menunggu seseorang." mereka melayani Livia, mengantarnya sampai di depan pintu kamar tersebut bersama Kenzo.
"Silahkan Bu, ini kamarnya." ucap pelayan hotel itu dengan ramah.
"Terima kasih." ucap Livia.
__ADS_1
"Terima kasih Tante." Kenzo ikut berterima kasih.
Livia menekan bel kamar itu beberapa kali, dan menunggu pemilik kamar membukakan pintunya untuk mereka. Menunggu beberapa menit tapi tak ada yang membukakan pintu untuk mereka masuk.
Ting, tong...
Ting, tong...
"Siapa yang menekan bel, dan kemana Maura dari tadi tidak membukakannya." dalam benak Alex.
Alex berjalan dengan rasa lelah dan masih mengantuk, tapi ia terus berjalan menuju pintu kamarnya. Dengan sedikit kesal tanpa melihat dari balik pintu siapa yang menekan bel, Alex langsung membukakannya begitu saja.
"Mengapa tak membawa kunci saat keluar Maura?!" Alex menatap ke arah Livia dan mata mereka langsung bertatapan.
"Om, kau lama sekali membukakan pintunya."
"Kami tamu yang seharusnya di sambut dengan mu kan..?" Kenzo bersuara menasehati Alex.
"Livia?"
"Livia, kau Livia kan?"
"Kau kekasih ku Livia?!" Alex terus bertanya.
"Maaf anda salah orang, permisi."
"Ayo Kenzo kita pergi dari sini, dan cepatlah sedikit jalannya." Livia menarik Kenzo agar berjalan dengan cepat.
"Baik mama." Kenzo mengerti.
"Livia!"
__ADS_1
"Livia tunggu dulu, Livia..!" Alex terus memanggil Livia tanpa henti.
Tetapi Alex tak dapat mengejar wanita itu, karena kondisinya saat ini hanya memakai celana tidur pendek dan dia tak bisa keluar begitu saja. Alex kembali masuk ke dalam kamarnya dan memakai celana panjang serta baju kemejanya kembali. Setelah itu ia turun ke bawah untuk mengejar Livia dan mencarinya di lantai bawah hotel itu.
Namun sayang Livia telah pergi dengan mobilnya yang berjalan kencang keluar dari parkiran hotel mereka. Alex tak tahu kalau yang barusan keluar adalah mobilnya Livia, Alex masih terus mencari dan memanggil nama Livia saat itu.
Alex menangis dan ia merasa ada semangat karena sudah bertemu dengan Livia di Korea. Alex akan berusaha untuk mendapatkan hati Livia kembali, dan menikahinya menjadi nyonya di rumah Alex nantinya.
Alex menelpon Maura, dan memberi tahukan padanya tentang hal itu, pria paru baya itu menyuruh Maura untuk segera kembali ke hotel Karena ada yang ingin Alex tanyakan dan dirinya bahas dengan Muara.
Alex kembali naik ke lantai Atas dimana tempat hotelnya itu. Para pelayan menatap ke arah Alex yang sedang berjalan menuju tempat lift berada.
Mereka terlihat senyum-senyum sendiri dan merasa sangat beruntung Livia dapat di kejar-kejar oleh pria tampan seperti Alex.
"Itu penghuni kamar lantai empat tadi ya?"
"Ih ternyata dia sangat tampan, kenapa baru tahu aku." mereka saling berbisik-bisik di balik meja resepsionis.
Maura telah kembali...
Alex pun segera berbicara pada Maura putrinya, dan menanyakan tentang hal itu, dan ternyata Maura pun mengaku kalau dirinya sengaja memanggil papanya untuk datang ke Korea karena ada Livia. Maura juga mem ia nya maaf kepada Alex untuk sikapnya yang tidak dapat di toleransi kan. Tetapi kali ini Maura berjanji pada papanya, untuk menyatukan mereka dan sudah dapat menerima Livia untuk menikah dengan papanya. Maura juga akan membawa papanya malam ini ke rumah Livia dan menemui mereka.
"Livia, kali ini tak akan aku lepaskan lagi kamu, setelah tak ada yang bisa menghalangi cinta ku padamu."
"Anak itu...? Yang bersama Livia tadi, apakah itu anak ku?"
"Dia sudah lahir, dan Livia sudah banyak berjuang membesarkannya."
"Aku harus bisa bersamanya kali ini, dan bersama dengan anak ku." Alex kembali bersemangat dalam hidupnya.
Livia yang pergi dan masih mengemudikan mobilnya diam-diam menangis, setelah sejak lama tak pernah bertemu lagi dengan Alex. Padahal dirinya masih belum bisa melupakan sosok pria itu dalam hidupnya, Alex masih ada di hatinya sampai saat ini. Tapi rasa sakit yang ia rasakan belum bisa membuka lagi untuk kembali bersama, Livia juga tak mengerti yang terjadi pada dirinya.
__ADS_1