
Kenzo tidak masalah ma..., Kenzo senang ada Papa yang menjemput Kenzo. Bahkan menunggu Kenzo di sekolah." Kenzo mengatakan secara langsung isi hatinya yang saat ini sangat senang ditemani oleh Alex.
Livia sedikit menekuk wajahnya, dan ia merasa cemburu karena kali ini Kenzo selalu memuji papannya di depan dirinya. Kenzo segera bersiap dan berbentuk pakaian karena ingin cepat pergi bertamasya dengan kedua orang tuanya. Kenzo ingin Alex pergi bersama mereka, namun Livia tidak mengizinkan Alex untuk ikut serta bertamasya dengan mereka.
Berbagai alasan yang dilontarkan oleh Livia agar Kenzo mengerti dan membuat Alex tidak ikut bersama. Namun Alex tidak menyerah Bahkan ia sudah memasukkan barang-barang miliknya ke dalam mobil milik wanita itu, tanpa sepengetahuan Livia. Diam-diam Alex memandang kucing mobil milik Livia yang terletak di atas meja makan mereka.
Tin, tin...
"Kenzo, ayo kita pergi sekarang!" Alex sudah berada di dalam mobil Livia dan akan menyetir untuk mereka.
Livia merasa bingung, dan hanya menghela nafas, saat Kenzo langsung masuk ke dalam mobil. Kenzo duduk di depan tepat bersebelahan dengan Alex, sedangkan Livia masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang. Mobil pun melaju dan mereka pergi bertamasya bertiga hari itu, Kenzo terlihat begitu semangat dan juga senang berada di samping papanya.
Kali ini Livia tak dapat berbuat apa pun, ia hanya menurut dan diam duduk di belakang mengikuti ke mana mereka pergi. Seharian pergi bertamasya, karena besok hari libur sehingga Kenzo ingin puas bersama kedua orang tuanya. Sudah seharian Kenzo dan Alex bersama bersenang-senang, malam pun sudah menjelang. Kenzo puas bermain bersama papanya, kini Kenzo tidur di belakang dan Livia duduk di samping Alex yang sedang menyetir. Maura tidak ikut bersama mereka, ia ingin Livia dan Kenzo menghabiskan waktu bersama Alex saja. Maura ingin papanya merasakan hal itu yang sudah lama tak ia rasakan bersama Livia dan Kenzo.
Alex menepikan mobilnya di pinggir jalan sebelum pulang ke rumah, Livia sedikit bingung namun ia hanya diam saja. Alex memutar wajahnya ke arah Livia, dan kali ini ia menunjukkan cincin yang masih ia simpan selama ini untuk melamar Livia menjadi istrinya.
"Masih kah kamu ingat cincin yang kamu inginkan dulu."
"Dan aku sudah membelinya sejak lama, lalu memberikan disaat kita akan menyatu nantinya."
"Tetapi semua rencana itu berubah setelah kamu pergi dari diri ku."
__ADS_1
"Aku hampir putus asa dan ingin membuangnya ke laut terdalam dan memusnahkan seluruh cincin yang ada di dunia ini yang sama persis seperti yang kau mau."
"Tapi hati kecil ku meyakinkan aku kembali, bahwa kau masih hidup dan masih mencintai ku sampai saat ini."
"Semua itu bisa aku tahu dari nama anak kita yang dulu itu atas permintaan ku untuk memberikannya nama Kenzo." Alex membuka kotak cincin itu.
Memperlihatkan kepada Livia bahwa itu benar cincin yang sangat dia inginkan waktu itu. Wanita itu menangis dan menitihkan air matanya, Alex membuktikan bahwa semua perkataannya itu benar. Dan Livia pun memeluk Alex saat itu, Alex pun menangis dan bersyukur. Pria itu sangat merindukan Livia dalam pelukannya seperti dahulu, sekarang Alex sangat senang karena berkat cincin yang masih ia simpan kini dapat mempersatukan cinta mereka lagi.
Alex melajukan mobil kembali setelah mengecup dahi Livia, dan membelai pipi wanitanya itu. Alex mengantar Livia dan Kenzo pulang ke rumah, setelah itu Alex kembali ke penginapannya. Mereka memang sudah berbaikan dan ingin bersama kembali, tapi Livia meminta pada Alex untuk memberinya waktu sendirian. Livia menyuruh Alex untuk pulang dengan mobil miliknya, dan besok segera datang kembali bersama Maura untuk sarapan pagi bersama mereka.
Livia juga tahu Kenzo pasti akan mencari papanya keesokan paginya setelah bangun dari tidurnya. Alex pun menuruti permintaan wanita pujaannya, memang sangat sulit bila sudah terlalu lama menghilang dan kini bertemu lagi dengan keadaan yang berbeda. Semua terasa sangat canggung bagi mereka, tapi Livia berpikir demi buah hatinya yang sangat merindukan kasih sayang papanya saat ini.
******
Malam itu hujan turun sangat deras, udara menjadi sangat dingin, Livia terbangun menarik selimutnya. Tiba-tiba ia merasakan kehangatan di dalam mimpinya Alex dan dirinya sudah menjadi suami istri yang sah saat itu. Wanita itu berharap akan menjadi kenyataan dan hidup bahagia. Livia terlelap sampai keesokan paginya dan ia terbangun karena suara alarm yang berdering mengagetkannya.
Livia langsung terbangun dari mimpi indahnya, bagaikan kenyataan Alex menyentuh bibir Livia kembali dengan bibirnya. Livia bangun dengan senyuman dan teringat akan sarapan pagi yang akan ia masak hari ini. Livia segera mengikat rambutnya yang tergerai dan bersiap untuk ke dapur membuatkan sarapan untuk semua.
Setelah sarapan selesai, ia buru-buru membersihkan diri dengan mandi yang bersih dan wangi. Bahkan pagi ini Livia memilih pakaian khusus spesial agar terlihat menawan di depan Alex. Livia mengenakan riasan simpel namun terlihat manis di pandang, Setelah selesai Livia membangunkan Kenzo untuk bersiap sarapan pagi hari itu dan berangkat ke sekolah dengan Alex papanya.
Ting..
__ADS_1
Tong...
Terdengar suara bel rumah Livia berbunyi, segera dengan cepat wanita itu pergi menghampiri pintu untuk membukanya. Livia menghela nafas sejenak dan mengatur dirinya agar tidak gugup saat berhadapan dengan Alex dan Maura nanti. Namun wajah merah merona ya tak dapat ia tutupi, karena rasa senangnya setelah sekian lama ia dapat bertemu lagi dengan Alex pria yang sangat ia cintai.
Ceklek....
Pintu terbuka lebar, dan Livia siap menyambut dan mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumahnya. Maura tersenyum dan Alex tanpa dengan masuk kedalam memeluk Livia dan mencium pipinya sebagai tanda morning kiss untuk kekasihnya. Wajah itu semakin memerah dan Livia menjadi terpaku tak bergerak sama sekali ketika Maura dan Alex telah berlalu dari hadapannya.
"Mama..., Kenzo sudah lapar, mari kita sarapan sekarang." Kenzo menyadarkan Livia yang membatu di depan pintu.
"Baiklah sayang, mama segera datang dan kita sarapan." Livia pun berjalan menuju meja makan dan melayani sarapan pagi semua orang, kecuali Maura yang hanya ingin melakukannya sendiri.
Maura tak ingin sahabatnya melayaninya, dan sudah cukup senang Livia mau menerima papanya kembali. Kebahagiaan papanya adalah kebahagiaan Maura juga, karena ia tak ingin melihat papanya terpuruk seperti dulu lagi.
****
Mira menjadi frustasi dan membuat dirinya menjadi tak berharga, hidupnya kini tak seperti biasa malah hampir menjadi gembel di Singapura. Pikirannya sudah linglung tak ingat untuk kembali ke Jakarta lagi, dirinya tak ingat memiliki perusahaan kecil yang harus ia kelola di Singapura.
Kevin menemukan Mira di pinggir jalan yang tertidur di pinggiran kota, Kevin pun menelpon ambulance untuk membawa Mira ke rumah sakit. Dan setelah mengecek kondisi Mira dokter terkejut ternyata Mira terkena penyakit menular yang sedang menggerogoti tubuhnya saat ini.
Kevin pun mengetahuinya dari dokter yang menangani Mira, dan Kevin menyuruh dokter itu untuk mengisolasi wanita itu di tempat yang semestinya. Mira pun sekarang hanya tinggal menunggu ajalnya saja di sana karena kondisinya semakin hari semakin memburuk. Tubuhnya yang bagus dan mulus perlahan-lahan menjadi kurus kering dan berbau tak sedap. Bahkan dokter sudah tak ingin mengecek dari jarak dekat, mereka hanya melihat dari kejauhan karena sudah tak sanggup mencium aroma tubuh Mira karena penyakit yang terjangkit.
__ADS_1
BERSAMBUNG....