
Dilihatnya Livia begitu mahir dalam menyiapkan sarapan pagi untuk mereka, dengan secepat kilat sarapan sudah tersaji di atas meja makan dengan aroma yang begitu harum dan menggugah selera. Maura senjata sabar ingin menikmati sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh Livia pagi itu.
Pagi itu mereka pun sarapan berdua, Ibu Livia keluar dari kamarnya menuju ke dapur, melihat Livia dan Maura sedang sarapan bersama di atas meja makan. setiap pagi bila ada Livia di rumah selalu ia yang membuat sarapan pagi dan ibunya tinggal duduk menikmati sarapan itu.
"Maura kamu sudah selesai sarapannya?"
"Setiap pagi memang Livia yang menyiapkan sarapan untuk ibu dan untuk dirinya." ujar ibunya Livia.
Maura sangat takjub dengan Livia, dia cantik dan masakannya pun enak. Maura ingin bisa belajar darinya dan memberi tahu ke papanya kalau Livia itu sangat the best. Sehingga Maura memiliki rencana untuk membawa Livia menginap dirumahnya malam ini.
"Bu, Maura mau izin membawa Livia malam ini menginap di rumah Maura ya Bu?"
"Sekalian ada pekerjaan dari kampus yang ingin Maura tanya kan ke Livia, Maura tak mengerti." ucap alasan Maura.
"Baiklah nak, ibu izinkan Livia menginap di sana." ujar Ibunya.
Livia terkejut, ia ingin menghindar dalam berbagai macam alasan yang dilontarkannya dari mulutnya. Tapi Ibunya Livia, tetap menyuruh Livia untuk membantu Maura pekerjaan dari kampusnya itu. Akhirnya Livia pun tidak dapat menolaknya, karena ibunya yang meminta kepada Livia, dan merasa punya hutang Budi di hidup mereka, setelah sudah dibantu oleh Alex papanya Maura.
Perasaan Livia semakin kacau, dirinya semakin ketakutan bila nanti suatu saat Maura mengetahui hubungan dirinya dengan papanya.
Pagi itu mereka berdua berpamitan kepada ibu untuk pergi ke kampus, dengan mengendarai mobil Maura, Livia pun tidak perlu pergi naik angkutan seperti biasanya.
Sampai di kampus...
Jam pelajaran telah dimulai semua mahasiswa dan mahasiswi sedang berkonsentrasi di dalam kelas. Tiba-tiba ponsel Livia bergetar menandakan sebuah pesan masuk ke dalam ponsel itu. Livia pun membukanya dan membaca pesan itu dari Alex, yang menunggunya di apartemen nanti malam. seketika Siska temannya Livia yang memperhatikan dirinya sangat penasaran dengan raut wajah Livia yang begitu kebingungan.
__ADS_1
"Hus! Kau kenapa?!"
"Bukan perhatikan pelajaran pak David malah membaca pesan di ponsel."
"Dari pacarnya ya...?!" Siska mencoba kepo dan tersenyum menggoda.
Livia segera menutup ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam tasnya, ia tidak mengatakan apapun kepada Siska. Dirinya lanjut memperhatikan Pak David, dosen mereka yang ada di depan kelas yang sedang menjelaskan sebuah pelajaran.
Wajah Siska langsung berubah menjadi murung, karena keinginan keponya tidak menghasilkan apapun. Livia tidak mau memberitahu kepada Siska apa yang sedang di bacanya di ponselnya tadi. Livia hanya membaca pesan dari Alex tersebut, iya tidak sempat membalas dan mengirim pesan kembali ke Alex saat itu.
Alex yang tengah menanti balasan pesan dari Livia, tampak gelisah melihat ponselnya dari tadi. Bahkan Alex tidak memegang dan memperhatikan berkas-berkas yang ada di depannya, dirinya sangat ingin memastikan nanti malam Livia akan datang ke apartemen dan menemuinya di sana.
"*Gadis belia ini sudah hampir membuatku stres!"
"Oh Alex ada apa denganmu Kau seperti kehilangan jiwamu ketika tidak bertemu dengan Livia gadis imut itu." gumam Alex dengan suara rendah.
Akhirnya Alex meminta kunci mobilnya yang dipegang oleh Robby, ia pergi dari kantor sampai setengah harian, untuk menenangkan pikirannya yang selalu gelisah menanti kabar dari Livia. Saat itu Clara melihat Alex berjalan di koridor dan ingin menuju ke arah parkiran, dengan cepat Clara menghampiri dan mencegah bosnya itu.
"Pak Alex Kau tampak gelisah sepertinya ada sesuatu yang mengganggumu, sedari tadi aku memperhatikanmu kau tidak tenang bekerja di dalam ruangan."
"Apa kau ingin aku menemanimu agar suasana hatimu senang kembali?"
"Aku bisa kau bawa kemana saja, dan melakukan apa pun bersama mu." Clara sedikit berbisik di telinga Alex.
Namun Alex terus berjalan dan masuk ke dalam mobilnya, pergi begitu saja tanpa menghiraukan Clara di hadapannya. Alex sangat kesal melihat ke arah yang terus saja menempel dan mengganggu dirinya, kini suasana Alex semakin tak baik. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh di jalan raya itu menuju ke arah pantai, setelah sampai di sana, ia pun duduk di sebuah resort dan menenangkan pikirannya dengan semilir angin yang menerpa.
__ADS_1
Dan tak beberapa lama kemudian ponsel Alex pun berbunyi, Alex melihat ponselnya dan membaca pesan dari Livia. setelah menunggu lama akhirnya Livia dapat membalas pesan dari Alex tadi, dan mengatakan bahwa dirinya akan menginap di rumah nya karena diajak oleh Maura.
Alex langsung berdiri dari duduknya, ia merasa senang karena mengetahui Livia akan menginap di rumahnya malam ini. Pria paruh baya itu pun segera kembali ke kantornya dengan semangat, karena malam ini gadis belia kekasihnya itu akan menginap di rumahnya dan ia dapat bersama dengan Livia.
Dengan penuh semangat Alex masuk ke dalam kantornya, senyuman sumringah dan siulan yang dikeluarkan dari mulutnya, terdengar oleh semua karyawan yang ia lewati ketika berjalan menuju ke ruang kerjanya. Robby merasa heran melihat Alex bosnya yang begitu bahagia ketika sampai di kantor siang itu. Alex pun menyuruh Robby untuk membeli makan siang saat itu di sebuah resto yang mewah, Alex akan makan siang bersama Robby di dalam ruangan.
Alex pun menyiapkan berkas-berkas yang ada di atas mejanya dengan cepat, dia ingin segera cepat pulang ke rumahnya untuk mempersiapkan dirinya untuk menyambut Livia di rumahnya. Alex dengan semangat untuk segera siapkan pekerjaan yang ada di kantor dan segera meminta Robby mengantarnya pulang ke rumah.
****
Siang itu sekitar pukul 15:10 Livia dan Maura sudah pulang ke rumah. Maura ingin Livia mengajarinya membuat kue di rumah, setelah selesai mengerjakan tugas dan istirahat, mereka pun ke dapur dan mengecek bahan untuk membuat kue yang mereka beli di supermarket tadi.
Maura juga sudah memberi tahu Mira untuk menginap di rumahnya, dan mengajak Mira tantenya untuk bersama-sama membuat kue.
Mira sangat malas memasak kue di rumah Maura, karena dia tak pandai dalam memasak. Tetapi karena Maura mengajak menginap dan akan makan malam bersama di rumah bersama Alex papanya, Mira pun bersemangat akan datang dan menjalankan rencana yang sudah lama akan dia lakukan.
Sore itu Robby dan Alex sudah sampai di rumah besar Alex, Robby pun masuk ke dalam mengikuti Alex dari arah belakang. Alex segera ke dapur saat mencium aroma yang sangat harum dan lezat, di sana ada Maura yang menyapa Alex dan Robby yang baru tiba di rumah.
"Hai papa?"
"Hai Robby?! Kau kesini juga?!" tanya Maura.
Livia yang mendengarnya langsung berbalik dan menatap Robby dan Alex. Dia hanya terdiam dan tak berkata apa-apa selain menyapa Alex sebagai papa Maura sahabatnya. Alex terus memandangi Livia dan Robby pun mengerti saat melihat semua itu.
Robby menyenggol kaki Alex pelan membuat Alex sadar akan situasi saat itu.
__ADS_1