Terpaksa Jadi Simpanan

Terpaksa Jadi Simpanan
21. Clara Sungguh Naif


__ADS_3

Livia tak mengetahui kalau ibunya sudah tergeletak di lantai rumahnya tak sadarkan diri. Sedangkan dirinya tengah menemani Alex saat itu di apartemen mereka berdua, dan menikmati waktu bersama di sana.


Waktu sudah menunjukkan pukul 22:00 malam, perasaannya tak enak sehingga dirinya ingin segera pulang ke rumah. Pikiran Livia selalu tertuju pada ibunya yang sedang sendirian di rumahnya, maka Livia pun meminta kepada Alex untuk pulang dan tidur di rumah menemani ibunya.


Alex menyuruh Robby untuk mengantar Livia pulang ke rumahnya saat itu. Dan Alex tetap di apartemen tersebut tak ingin pulang ke rumahnya, setelah beberapa menit Livia pergi dari kamar itu, Alex mendengar suara ketukan pintu kamarnya dari luar.


Tok, tok, tok..!


Alex yang belum tidur, mengira itu Livia yang kembali karena ada sesuatu tertinggal di kamarnya. Alex tanpa ragu dan tanpa melihat dari balik pintu langsung membuka begitu saja.


Ceklek...


"Ada apa sayang?" tanya Alex dengan lembut.


"Ada aku yang merindukan mu mas Alex.." ujar Mira yang sudah berdiri di depan kamar apartemennya.


Mira pun segera masuk ke dalam kamar itu, dia mencoba merayu Alex untuk mendapatkannya. Dengan cepat Mira membawa pengawal yang di sewanya, untuk diam-diam membiusnya dari belakang Alex. Seketika Alex jatuh terkulai ke lantai tak sadarkan diri, Mira pun dengan cepat menyuruh pengawalnya untuk mengangkat Alex ke atas ranjang di sana.


Mira membuat sebuah skenario seperti rencana yang ia inginkan saat ini. Mira berpose di atas kasur bersama Alex dan pengawal itu memfoto mereka berdua. Mira mendekatkan dirinya ke Alex agar begitu tampak alami kalau mereka berdua sudah melakukan hubungan itu.


"Oke, kerja bagus."


"Besok akan aku transfer uangnya ke kalian, sekarang pergi lah dari sini!" Mira mengusir pengawal sewaan itu.


"Aku ingin menikmati malam ini walau hanya memeluknya saja." ungkap dalam hatinya.


Kedua pria kekar itu pun pergi dari kamar apartemen tersebut, Mira segera menutup pintu kamar Alex sambil tersenyum licik saat itu. Mira kembali masuk ke dalam selimut Alex, tanpa ragu dirinya memeluk dan tertidur di samping pria yang sudah selama lima tahun dia kejar sampai saat ini.


****

__ADS_1


Sampai di depan rumah Livia, terlihat pintu rumahnya tidak tertutup dengan rapat, tapi biarpun masuk begitu saja tanpa harus memanggil ibunya atau mengetuk pintu rumahnya lagi.


Ceklek...


Robby saat itu belum pergi dari depan rumah Livia, setelah gadis itu masuk, baru Robby akan pergi dari sana. Tetapi tiba-tiba Livia keluar dari dalam rumahnya dengan begitu panik sambil berteriak memanggil Robby yang ada di dalam mobil Alex.


"Tolong!"


"Pak Robby tolong ibu!"


"Ia sudah terjatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri, tolong bawa ibu saya ke rumah sakit pak?!" Livia sangat panik.


Robby dengan cepat masuk ke dalam rumah Livia dan menggendong ibunya untuk masuk ke dalam mobil, Livia sudah berada di dalam mobil untuk memangku tubuh ibunya dan dibawa ke rumah sakit. musim mobil dinyalakan Robby pun dengan cepat menginjak pedal gas agar segera sampai ke rumah sakit dan dapat ditangani dengan cepat.


Brem....


"Apa yang telah terjadi padamu Bu?"


"Bertahanlah, aku akan segera membawamu ke rumah sakit."


"Aku tak ingin terjadi apapun padamu, jangan tinggalkan aku seorang diri di dunia ini Bu.." ujar Livia menangis meratapi kondisi ibunya di dalam mobil tersebut.


Tak berapa lama mereka pun sampai di depan rumah sakit, Robby dengan cepat turun lalu menggendong tubuh ibunya lisia agar cepat ditangani segera. Di dalam ruang UGD, perawat dan juga yang lainnya dengan cepat memeriksa kondisi ibunya Livia. Mereka memasang alat-alat untuk memeriksa seperti tekanan darah dan juga memeriksa detak jantung Ibunya Livia.


Namun sangat disayangkan, ternyata ibunya Livia telah meninggal dunia setengah jam yang lalu. Livia yang mendengar semua itu terdiam dan terpaku, dia sangat syok dan dalam diam Livia menangis. Lalu Robby dan Livia membawa pulang kembali ibunya ke rumah dengan ambulance. Dalam perjalanan Livia mencoba untuk bersikap tegar, tapi air matanya tak berhenti terus mengalir jatuh di pipinya.


Ambulance pun sampai di depan rumah Livia, dia segera turun dan membuka kunci rumah ibunya itu. Saat ke rumah Livia, Robby mencoba menghubungi Alex namun ponselnya tidak aktif sama sekali. Robby pun tak menelpon Alex lagi, malah menemani Livia berjaga di luar rumahnya Livia sampai pagi.


Seluruh tetangga keluar dari rumah karena mendengar suara ambulance di sekitar rumah mereka. walaupun hari sudah malam namun tetangga tetangga di sekitar rumah Livia membantu Nivea untuk menyiapkan pemakaman ibunya untuk besok pagi.

__ADS_1


****


Keesokan paginya Alex terbangun dari tidurnya, ketika matanya terbuka yang melihat Mira berada di atas kasur dan tidur tepat di sebelahnya. Alex terkejut ketika melihat Mira dengan pakaian tidur, sambil merangkul tangan Alex saat itu. Alex langsung terperanjat dan menjauh dari Mira yang masih tertidur di kasurnya Alex.


Alex mencoba mengingat kejadian tadi malam bersama Mira, namun kepalanya sakit saat mengingat semuanya.


"Kau sudah bangun sayang..?"


"Menyenangkan malam tadi bersama mu, kau tahu cara membuat wanita menjadi bahagia." ucap Mira yang sudah terbangun.


"Pembohong!"


"Jangan coba-coba kau menipu ku saat ini." ujar Alex sembari mengambil ponselnya dan mengaktifkannya.


Tring...


Sebuah pesan masuk di ponsel Alex dari Robby, dia membaca pesan itu lalu segera mandi dan pergi dari apartemen itu. Tak lupa ia menyuruh satpam untuk mengusir Mira dari dalam kamar Alex dan Livia saat itu juga.


"Kurang aja!"


"Mau apa kalian!"


"Tak tahu kalian siapa aku, beraninya kalian mengusir ku seperti ini!" Mira pun sangat marah kepada satpam dan yang lainnya.


Alex benar-benar tak menghargai Mira sama sekali, bahkan Alex meminta resepsionis segera menjual kamar apartemennya dan Alex ingin pindah ke apartemen yang lain saja. Dirinya tak sudi lagi tinggal di sana karena bekas Mira yang bermalam dengannya.


Alex datang ke rumah Livia dengan menaiki taksi, Robby di sana sedang membantu Livia dan tetangganya untuk segera memandikan ibunya yang akan di makamkan pukul 10:00 nanti di pemakaman umum di daerah rumah mereka. Livia menangis histeris ketika ibunya sudah dikafani, dirinya merasa belum rela ibunya meninggalkannya.


Alex datang dan memeluk Livia saat itu, semua orang melihat ke arah Alex yang begitu tampan itu. Semua orang berbisik-bisik dan ingin tahu pria yang memeluk Livia dengan penuh kelembutan. Mereka semua iri melihat Livia yang mendapatkan pria yang begitu tampan tapi tak sepantaran usia mereka.

__ADS_1


__ADS_2