Terpaksa Jadi Simpanan

Terpaksa Jadi Simpanan
28. Merasa Puas


__ADS_3

Alex segara mandi dan berganti pakaian, mereka berdua menunggu Alex di kursi yang ada di luar kamar Livia. Robbi hanya dia memperhatikan gadis yang duduk tepat berada di sebelahnya, belakangan ini marah terlihat sedikit lain perilakunya. Dia lebih sering banyak berdiam diri dan tidak begitu banyak marah-marah, beda dengan ia yang dulu sebelum pergi dari rumahnya, ia lebih banyak mengutarakan semua yang ada di dalam hatinya dengan emosi dan juga kemarahan.


Ceklek...


Alex keluar dari kamar rawat inap Livia itu, pria baru kayak itu langsung menemui Maura Putri yang tengah menunggunya di kursi tunggu.


"Robby tunggu lah di sini, bila ada sesuatu yang terjadi beri tahu aku segera." ujar Alex yang ingin pergi ke kantin rumah sakit itu bersama Maura.


"Baik tuan." jawab Robby yang menuruti perintah.


Alex ingin mengajak Maura putrinya untuk bicara dari hati ke hati saat ini. Terlihat Maura tidak senang dan tak ingin membicarakan atau berdiskusi apa pun pada Alex. Maura juga tak ingin bernegosiasi dengan papanya mengenai Livia sahabatnya itu.


"Pa! Sudahlah, aku ke sini bukan ingin mendiskusikan hubungan kalian berdua."


"Aku ingin menanyakan apa yang sudah papa lakukan kepada Tante Mira malam itu, sehingga dia menangis dan meminta ku untuk papa bertanggung jawab pada dirinya." Maura berkata tegas kepada Alex.


"Ha..h...!" Alex menghela nafas panjang di depan Maura putrinya itu.


"Jawab pa?!"


"Papa harus bertanggung jawab dengan Tante Mira dan segera menikahinya." Maura meminta Alex menjadikan Mira Mama baginya.


Alex terdiam dan menatap wajah Maura putrinya tersebut, Alex terus berjalan sampai mereka di depan kantin rumah sakit itu. Sampai di kantin itu, Alex 2 cangkir kopi untuk mereka nikmati, sambil membicarakan pokok permasalahan yang mereka hadapi saat ini.


"Maura, ada yang papa harus beri tahu kepada mu saat ini."


"Papa dan Livia akan segera memiliki baby, dan kami berencana akan menikah dalam waktu dekat ini."


"Papa sudah menyiapkan semua pernikahan papa dengan Livia." Alex menjelaskan kepada putrinya perlahan.


"Hah?!"

__ADS_1


"Livia hamil?!"


"Pa! Apa-apaan ini?!"


"Papa ingin jadikan dia sebagai mama ku kah?!"


"Dia itu sahabat Maura, pa...?!"


"Aku gak mengerti apa yang papa lihat dari dirinya, dan dia itu masih terlalu muda bagi papa." Maura terlihat shock mendengar Livia sekarang sedang hamil.


"Apa yang sudah Livia lakukan ke papa? sehingga papa menjadi sangat mencintainya sampai saat ini." bicara dalam hatinya.


"Terserah apa yang papa bicarakan, yang terpenting bagaimana papa tanggung jawab dengan Tante Mira sekarang?!" Maura meminta Alex untuk segera bertindak.


Alex pun menjelaskan bahwa dirinya akan bertanggung jawab dengan semua yang pernah dilakukannya pada Mira. Tetapi harus dengan syarat Besok harus datang bersama Mira ke kantor papa malam hari pukul 20:30 wib.


Maura pun setuju dan berjanji akan datang bersama dengan Mira di kantornya Alex. Namun Alex memberikannya sebuah surat untuk di baca setelah sampai di rumah mereka.


Surat itu berisikan harus menerima keputusan papa apa bila Mira berbuat curang. Dan Dulu papa pernah di buat melayang agar ia dapat tidur dengan papa. Semua yang kau lihat dan kamu dengar bukanlah jujur dari mulut Tante mu itu.


"Tante, besok akan menjadi hari yang akan kau ingat. Sebab aku akan membawa mu ke papa ku untuk meminta ia bertanggung pada mu saat ini." isi pesan dari Maura.


Setelah mengirim pesan itu, Maura pun tidur dan tak sabar menunggu hari hari esok. Ia berpikir pasti papanya akan menikahi Mira seperti yang ia harapkan.


Sementara Mira saat ini tengah asik bersama kekasih bulenya di kamar hotel berduaan saja. Mereka sedang saling mengejar puncak yang di inginkan. Kamar itu begitu berantakan dan menjadi saksi bisu kelakuan mereka berdua. Mira sangat ingin dengan Alex tapi dirinya juga menikmati hubungannya dengan kekasih bulenya itu.


Hampir setiap malam Mira habiskan dengan main bersama kekasih bulenya, dan sebentar lagi kekasihnya akan kembali ke negara asalnya.


"Sayang kapan kau akan menemui ku di sana."


"Agar kita dapat menikmati hari-hari seperti ini bersama."

__ADS_1


"Aku pasti sangat merindukan diri mu yang seperti ini di sana. Dan terbayang ketika kita sedang bersama melakukan hal yang menyenangkan." ucap kekasihnya.


"I Love You Hanny..."


Bibir Mira kembali menjadi sasaran oleh bule itu, dan mereka melanjutkan setelah selesai berbicara. Mira pun begitu senang dan tak memikirkan bagaimana hidupnya nanti ketika kelakuannya terbongkar di depan mata Maura.


Keesokan paginya Mira melihat ponsel dan mengaktifkannya, ia terkejut ketika dapat pesan dari Maura pagi itu. Wanita itu pun segera bangun dan bersiap-siap untuk menemui Maura segera, dia sangat kesenangan membaca isi pesannya. Mira pun segera mandi dan berganti pakaian, dengan cepat ingin pergi meninggalkan kekasihnya begitu saja.


"Sayang....!"


"Kau mau kemana pagi-pagi begini?!"


"Kau tak memberikan ku ciuman selamat pagi?" tanya kekasihnya.


"Aku ada urusan sebentar, dan akan aku usahakan kembali dengan cepat."


"Aku pergi dulu ya sayang, selamat pagi." sebuah ciuman mendarat.


"Aku akan menunggu mu dan menemui mu nanti di rumah..!" pria bule itu pun tertidur kembali.


Bum!


Pintu kamar hotel itu pun tertutup kembali setelah Mira keluar dari sana. Dengan cepat ia segera berjalan keluar menuju parkiran dan mengemudikan mobil miliknya menuju ke rumah Mira pagi itu juga. Hatinya sangat bahagia, dan tak lupa dia akan menunjukkan surat keterangan dari dokter yang menunjukkan bahwa dirinya tengah hamil saat ini.


Mira mengemudi dengan perasaan senang, dengan penuh percaya diri rencananya akan berhasil setelah selama bertahun-tahun berusaha untuk mendapatkan Alex dalam pelukannya. Mira pun menjadi menggila setelah hampir lelah terus mengejar dan menggoda pria yang bernama Alex.


"Hahahaha....!"


"Kali ini kau pasti akan aku dapatkan dan tak dapat lari kemana-mana lagi sayang ku Alex."


"Jangan panggil aku Mira kalau tak dapat menaklukkan mu menjadi milik ku."

__ADS_1


"Lelaki mana yang bisa lari dan pergi dari jeratan ku saat ini, bahkan kau yang begitu hebat saja dapat aku dapatkan sebentar lagi." ucapnya Mira di dalam mobilnya.


Mira pun tertawa dengan senangnya, langsung menemui Maura di rumahnya dan memasang wajah sedih setelah puas tertawa di saat mengemudi di jalan tadi.


__ADS_2