
Sit....!
Mobil berhenti di depan pagar, dan Maura tak ingin di antar sampai kedalam rumahnya. Gadis itu keluar dari dalam mobil Alex yang di kemudikan oleh Robby itu, berlari meninggalkan Robby begitu saja dan masuk ke dalam rumahnya tanpa berkata sedikit pun kepada Robby.
Brem...
Robby pun pergi dengan mobil Alex tersebut, iya segera ke apartemen milik Alex saat menerima sebuah pesan dari ponselnya itu. Alex meminta Robby untuk datang ke apartemen itu, karena ada sesuatu hal yang akan ia bicarakan dengan Robby. Alex ingin bertanya kepada Robi tentang kondisi anaknya di saat Robby dan Maura sering bertemu. Namun Robby tidak akan mengatakan kejadian yang baru saja ia lihat, tentang hubungan Maura dan Kevin sepupunya Alex yaitu Paman Maura sendiri.
Livia yang sedang di Korea.
4 bulan sudah berlalu dan terlewati, kini usia kandungan Livia sudah genap 9 bulan. Sekarang tinggal menunggu kelahiran buah hatinya saja, semua perlengkapan untuk baby nya sudah terbeli. Kebetulan Livia memiliki kartu ATM yang diberikan oleh Alex kepadanya. Cukup banyak hasil uang yang ada di dalam kartu itu, sebelum ke Korea, ia telah memindahkan seluruh uang itu ke kartu ATM baru miliknya.
Livia tidak mau sampai ketahuan, apa bila ia masih menggunakan Kartu itu untuk transaksi atau berbelanja, yang nantinya dapat diketahui keberadaan dirinya ada dimana. Sehingga Livia sudah tidak menggunakan kartu itu lagi, Livia mengembalikan kartu itu ke Alex dengan sebuah pengiriman khusus ke apartemen miliknya Alex. Dan hari ini kartu itu pasti sudah sampai di apartemennya, Robby di suruh untuk pengecekan kartu tersebut untuk di ketahui Alex saat ini.
Alex sangat tidak sabar ingin mengetahui dari negara mana Livia melakukan transaksi dengan kartu itu. Alex sedikit tidak tenang ingin mengetahuinya dengan cepat dari Robby yang sudah pergi dari tadi untuk mengecek.
****
"Akhirnya semua sudah lengkap, sekarang tinggal menunggu kamu lahir saja sayang..." Livia mengelus perutnya.
"Kau tak perlu khawatir, mama akan berusaha membesarkan mu sendirian."
"Dan kita pasti bisa melewatinya bersama-sama nanti." Livia menyemangati dirinya sendiri.
Livia juga sudah mulai membuat usahanya sendiri di Korea, ia membuka barang pernak-pernik khas Indonesia di sana. Livia ingin membuka lapangan kerja untuk orang Indonesia yang tinggal di Korea. Dan bisa juga untuk warga Korea yang ingin mempelajari kebudayaan Indonesia, terutama bagi para pelajar atau mahasiswa yang berminat.
__ADS_1
Kios miliknya Livia sudah di buka dan baru berjalan 3 bulan ini, banyak dari mereka yang antusias serta ingin bekerja dengan Livia. Banyak juga yang memesan dan membeli ke kiosnya, di saat kios Livia sedikit terkenal di Korea, salah satu pengunjung ada yang datang dan ingin membeli vas bunga dan lainnya yang terbuat dari anyaman.
"Boleh aku ambilkan beberapa barang yang di pesan oleh nyonya ku tadi lewat telpon?" seorang pria paruh baya yang mengatakan kepada pegawai kios Livia.
"Oh, kau pelayan nyonya Yuna ya?"
"Akan aku ambilkan untuk mu sekarang, sabarlah menanti sebentar." ucap pelayan kios Livia.
Pada saat itu Livia datang ingin ikut membantu di kiosnya tersebut, Livia pun menyapa para pembelinya satu persatu dan menanyakan apakah ada keluhan yang bisa dibantu olehnya. Livia dengan Rama berbicara pada mereka dalam bahasa yang mereka dapat pahami, lalu Livia melihat seorang pria paruh baya yang sedang duduk menunggu barangnya untuk diambil oleh pelayan kios miliknya.
Livia datang menghampiri dan ia ingin bertanya bagaimana kualitas barang kami menurut nyonya yang telah memesan begitu banyak dari kios miliknya. Livia melihat pria paruh baya itu dari kejauhan, sosoknya bagi Livia sangat familiar namun ia tak tahu ketika melihatnya dari jauh. seketika Livia terkejut Dan teringat pada seorang pria yang sangat ia kenal telah meninggalkan dirinya dan ibunya sewaktu Livia masih anak-anak.
"Ayah?!" Livia merasa tak percaya dirinya melihat ayah kandungnya berada di Korea pada saat itu.
ketika Livia ingin pergi jauh dari pria paruh baya itu, agar tidak mengenalinya atau bertemu dengannya, pria itu malah melihat ke arah Livia. Pria itu langsung mengenali putrinya yang dulu pernah ia tinggali bersama istri sahnya, pria itu berlari mengejar Livia, bahkan memanggil nama anaknya tersebut.
"Livia putri ku?!" suara pria itu terdengar oleh pengunjung yang lain sontak mereka semua melihat ke arah Livia dan pria paruh baya yaitu mengejar Livia.
Livia tetap tak ingin melihat pria paruh baya itu, dan ia semampunya untuk berlari dalam keadaan kondisi perutnya yang sedang hamil tua. Akhirnya Livia pun dapat disusul oleh pria paruh baya itu, ia menarik tangan Livia untuk membuat putrinya itu berhenti berlari.
"Livia, tunggu sebentar. Ayah sudah tak bisa berlari lagi untuk mengejar mu."
"Ada yang ingin Ayah katakan pada mu Livia." Ayahnya berbicara di hadapan Livia saat itu.
"Sudahlah yah, aku sudah tidak ingin membicarakan atau mendengar alasan ayah meninggalkan kami dulu.
__ADS_1
"Aku bahkan sudah melupakan kalau aku dulu pernah memiliki seorang pria yang telah meninggalkan ku dan ibu."
"Aku sudah tak ingin bertemu dengan mu lagi!" Livia menarik tangannya dari genggaman tangan ayahnya.
Pria itu terdiam dan tak bisa berkata apa-apa lagi, karena memang kesalahannya yang meninggalkan mereka berdua tanpa ada penjelasan selama ini. Rendy ayahnya Livia, pun menangis dan menyesali perbuatannya. Sebenarnya dia ingin sekali pulang menemui mereka saat itu, tapi takut akan membuat ketakutan dan keributan dengan beberapa orang yang selalu mengejarnya. Livia berjalan dan ingin pergi dari hadapan pria itu, namun tiba-tiba Rendy tanya keberadaan ibunya Livia.
"Livia, dimana ibu mu?"
"Kalau kau tak ingin bertemu dengan ku, aku ingin menjelaskan pada istri ku saja." Rendy meminta Livia untuk menemui ibunya kepadanya.
Langkah Livia terhenti, seketika menundukkan kepala dan Livia menangis. Livia pun terduduk di kursi yang ada di sebelahnya, melihat hal itu membuat Rendy tak mengerti dan berjalan menghampiri putrinya.
"Kau kenapa Livia?"
"Apa yang sudah terjadi pada ibu mu?"
"Katakan Livia?!"
"Katakan pada ku?!" Rendy meminta jawaban kepada putrinya.
"Pergilah dari sini! Aku sangat membenci mu!"
"Betapa menderitanya kami, dan ibu sudah meninggalkan ku untuk selamanya."
"Semua karena kau! Dan kesalahan mu itu." Livia pun menjadi emosi karena menahan ras sakit hatinya mengingat kembali saat itu.
__ADS_1
Dimana ayahnya pergi meninggalkan dirinya dan ibunya disaat keadaan yang tidak baik, dan kini Livia harus menjadi seperti ini saat ini. Livia terlalu sedih mengingatnya dan kesal menyalahkan semuanya kepada Rendy ayah kandungnya. Tiba-tiba Terjadi sesuatu dengan Livia yang membuatnya berteriak begitu kencang dan menangis saat itu di depan ayahnya.