
Isi Memo
Kau yang harus mengerjakannya sendiri sampai pukul 15:00 harus sudah siap, atau aku yang akan mengatakan kepada pak Alex bahwa kau ingin menjadi OB di kantor ini.
Kertas itu membuat Clara ketakutan, dia menyiapkan seluruh berkas itu dan memberikannya kepada Alex tepat pada waktunya. Alex menyuruh Robby yang mengecek semuanya sementara Alex pergi entah kemana saat itu juga. Clara mencegah langkah kaki Alex, dengan memeluk tubuh pria itu di depan Robby di ruangan itu.
Clara wanita yang penuh dengan hasrat, dan tak perduli ada Robby yang sedang di hadapannya. Awalnya Alex diam saja saat Clara di depannya, setelah itu Alex menepis tangan Clara yang mendarat di wajah Alex. Dengan cepat pria itu pergi meninggalkan ruangannya, Robby tersenyum kecil, hatinya merasa senang di saat Alex telah mengacuhkan Clara di hadapannya.
Alex berjalan dengan hati bahagia, dan Robby sudah tahu kemana Alex akan pergi. Livia benar-benar membuat Alex di mabuk kepayang, pria paruh baya itu bagaikan seorang remaja yang baru pertama kali mengenal cinta. Kali ini mungkin Alex sedang berada di fase pubernya yang kedua, namun dengan umurnya kali ini, sangat luar biasa tidak dengan seorang wanita yang sepantaran dengannya.
"Mungkin kali ini, aku harus duluan ke apartemen tersebut. Memberinya kejutan kecil di saat, pertama kali kami bermalam di sana." gumam Alex dalam hatinya.
Alex pergi dengan mobilnya dan menyetir sendiri, membeli satu buket mawar merah untuk di berikan ke Livia saat berada di apartemen. Sekarang sudah pukul 17:00 dan seharusnya Livia sudah pulang ke rumah, Robby di beri kabar oleh Alex untuk naik taksi segera ke apartemen untuk mengambil mobilnya disama.
Clara saat itu mencoba untuk menghubungi Alex dan mengirim pesan, untuk datang menemuinya di sebuah pub tempat biasa mereka kunjungi. Tapi Alex malah tak menghiraukan isi dari pesan itu, Alex sibuk mempersiapkan makan malam romantis di balkon depan kamar mereka dengan cahaya lilin di sana.
Livia pun di jemput oleh Robby, ibunya Livia sudah tidur karena pengaruh dari obat yang di konsumsinya. Di rumah ibu selalu di jaga oleh suster, Alex yang membayar suster itu agar menjaga ibunya Livia setiap hari sampai sembuh total.
Livia pun pergi dengan Robby mengendarai mobil pribadi Alex, Livia sudah mengetahui kemana Robby akan membawa dirinya. Di saat itu Livia hanya menggunakan kaos casual dan celana jeansnya, seperti biasa dengan penampilan yang sederhana. Di tengah perjalanan Robi menghentikan mobilnya di sebuah butik pakaian mewah, Robby memarkirkan mobilnya di depan butik. Robby keluar dari mobil itu lalu membukakan pintu samping untuk Livia segera keluar dari mobil tersebut.
"Kita ngapain ke sini pak Robby?"
"Mengapa kau menghentikan mobilnya di depan butik ini?" Livia merasa heran, karena mereka belum sampai tujuan, tapi Robby memintanya untuk turun dan keluar dari mobil itu.
__ADS_1
"Tuan ingin kamu malam ini memakai gaun dan anggun, saya hanya mengikuti perintah saja." Robby mempersilahkan Livia untuk masuk ke butik itu.
"Ini adalah butik langganan tuan, jadi kau jangan khawatir." Robby kembali memastikan Livia agar tak ragu untuk masuk.
Sampai di dalam butik
"Selamat malam dan selamat datang, ada yang bisa saya bantu nona?" tanya pelayan butik itu.
"Hem?!" Robby masuk sambil memberi kode ke pelayan itu.
"Oh tuan Robby, baiklah."
"Mari ikut saya nyonya, kami ada banyak sekali koleksi gaun terbaru di sini."
"Nyonya bisa mencobanya dan memilih dari semua gaun yang kau suka." pelayan butik itu pun mengeluarkan semua koleksi terbaru dari butik mereka.
Perawatan mereka luar biasa dan juga biaya yang harus di keluarkan pun luar biasa, Livia kali ini sangat beruntung dapat perawatan dan pelayanan di sana.
"Wah, kau sangat cantik nyonya...?!"
"Tuan Robby semua sudah siap, kau bisa membawa nyonya bersama mu." pelayan butik itu membawa Livia ke hadapan Robby saat itu.
Robby tertegun melihat Livia yang sangat cantik dan menawan, sejenak Robby melamun menatap Livia tanpa berkedip. Livia sangat risih dan malu karena Robby memandanginya terus, pria tampan pengawal pribadi Alex itu tersadar ketika ponsel yang ada di sakunya berbunyi.
__ADS_1
Tring...
Tring...
Robby menjawab panggilan dari ponselnya dengan sedikit menjauh dari Livia, sementara Livia bersama pelayan butik itu asik membicarakan sesuatu. Robby sesekali mencuri pandang ke arah Livia yang tersenyum sangat manis dan terlihat anggun bagai wanita terhormat.
"Robby, apa kau mendengarkan ku?!" ucap pria dari seberang yang sedang berbicara dari ponsel itu.
"Ah iya tuan, aku mendengar ucapan mu. Aku akan segera membawanya kesana, kami sudah selesai sekarang." Robby menutup pembicaraannya dan membawa Livia masuk ke dalam mobil Alex kembali.
Mobil melaju meninggalkan butik itu, biaya butik sudah di transfer oleh Alex saat itu juga. Pemilik butik dan pelayan butik sangat suka dengan Alex pelanggan mereka, selalu suka memberi uang tips yang lumayan besar, bila hasilnya sangat memuaskan Alex dalam pelayanan di butik mereka.
Sampai di apartemen...
Robby membukakan pintu apartemen itu untuk Livia, malam ini dia seperti seorang Cinderella yang di sulap menjadi princess, pada kenyataannya hanya seorang rakyat biasa yang hidup harus berusaha bekerja keras.
Robby kembali menutup pintu kamar apartemen setelah Livia masuk kedalam, gadis itu sedikit ketakutan dan hanya berdiam diri di depan pintu tanpa berjalan atau bergerak sedikit pun.
"Hai Beby, kau sudah datang ke apartemen kita?" Alex mendekap Livia dari arah belakang tubuhnya.
Livia sempat terkejut dengan ke hadiran Alex yang secara tiba-tiba dalam kegelapan itu. Di sana Alex menikmati aroma parfum dari tubuh Livia yang membuatnya merasa nyaman berada di dekat Livia.
Alex menuntun gadis belia itu menuju ke arah balkon apartemen mereka, angin berhembus dengan lembut malam itu. Dengan ditemani cahaya lilin yang ada di atas meja, Alex menuntun Livia untuk duduk di kursi yang sudah dipersiapkannya.
__ADS_1
Setelah mempersilahkan Livia duduk Alex penduduk di depan wanita itu, mereka berdua tengah menikmati makan malam romantis hanya di dalam apartemen saja. Alex tak hentinya menatap wajah Livia yang diterangi oleh cahaya lilin, membuat wajah gadis itu bertambah mempesona di mata Alex.
Kali ini Livia sudah terpikat dengan pria paruh baya yang seharusnya cocok menjadi papanya di usianya Alex saat ini. Alex pun kemudian berdiri dari duduknya setelah selesai makan malam, ia mengambil seikat buket bunga mawar besar yang akan ia berikan kepada Livia saat itu. Tak lupa Alex sudah mempersiapkan sebuah kota kecil, yang berisikan cincin berlian untuk melamar Livia malam itu juga di apartemennya. Livia sangat senang, ia pun berdiri dari duduknya langsung memeluk tubuh Alex, bahkan Livia berinisiatif sendiri menempelkan bibirnya ke bibir Alex.