
Alex sangat kesal melihat Mira muncul di hadapannya, akhirnya Alex mengikuti dan menuruti permintaan Mira yang mengajaknya ke meja bar kecil di rumahnya. Mira pun membuka botol wine yang dibeli Alex tadi sore, menuangkan segelas kecil anggur berwarna merah, lalu memasukkan sesuatu ke dalam gelas milik Alex.
Tanpa ragu Alex meneguk habis segelas wine yang di berikan Mira kepadanya. Mira pun tersenyum tipis, dia juga meneguk minumannya dengan cepat di depan Alex. Mira kembali menuang ke gelas Alex dan gelasnya, setelah itu menghabiskan kembali dalam satu kali tegukan kecil.
Ini sudah yang ke 8 gelas yang mereka teguk, Alex bermaksud membuat Mira mabuk berat lalu meninggalkannya di sofa tv begitu saja. Mira pun memulai aktingnya dengan berpura-pura mabuk saat itu, tubuhnya di buat sempoyongan dan tak kuat berdiri lagi.
Saat itu Alex yang merasakan hal aneh pada dirinya tak bisa berbuat apa-apa, karena pengaruh dari minuman itu. Mira sengaja menghampiri Alex karena dia tahu obat itu pasti sudah bereaksi, terlihat wajah Alex yang sudah memerah. Tubuh Alex juga sudah kepanasan terlihat gelisah duduk di kursi bar kecil di rumahnya.
"Kau kenapa sayang?"
"Hem...?"
"Apa kau menginginkan sesuatu dari ku malam ini?" ucap Mira yang duduk di pangkuan Alex di kursi bar mini itu.
Alex hanya diam saja karena menatap rasa panas dan seperti terbakar, dalam tubuhnya yang kekar itu seperti tak berdaya pengaruh obat yang di beri oleh Mira dalam minumannya.
Mira ingin mendaratkan bibirnya yang merah ke bibir Alex, Namun saat itu Livia masuk ke dapur dan memergoki Alex yang sedang bersama Mira di sana.
Seketika Alex mendorong Mira dan menghindar dari wanita yang ingin memanfaatkan keadaan dirinya. Livia yang tahu akan hal itu, langsung berlari kembali lagi ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamar itu. Alex pun pergi menaiki anak tangga menuju lantai dua kamarnya, dengan cepat meninggalkan Mira di sana. Mira menatap Alex dengan kesal, dia mengepalkan kedua tangannya di samping, lalu memukul meja bar itu dengan kepalan tangan kanannya.
Mira tak mengetahui kalau tadi ada Livia yang memergoki mereka saat itu, Mira membelakangi sedangkan Alex yang menatap langsung ke arah Livia. Mira menjadi kesal dan berjalan menuju ke arah kamar Alex lalu mengetuk pintu kamarnya.
Tok, tok, tok...!
"Mas...?!"
"Mas Alex...?!"
__ADS_1
"Apa kau tak apa-apa mas?" Mira bertanya dan sedikit cemas agar di bukakan pintu kamarnya.
Namun pada saat itu Alex hanya diam saja dan tidak menyahut pertanyaan dari Mira. Alex sedang berada di dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, ia sengaja berendam di dalam bathtub, untuk menghilangkan pengaruh dari minuman yang diberikan Mira kepadanya.
"Dasar wanita kurang ajar, bisa-bisanya dia melakukan hal serendah itu untuk mendapatkan ku. Maura sudah salah menilai Mira yang dapat menjadi ibunya, mulai sekarang aku sepertinya harus berhati-hati oleh wanita ular itu." ucap dalam hati Alex.
Alex langsung menenangkan dirinya di dalam air dingin, sambil menahan segala rasa yang tak tertahankan. Dia harus melakukan itu agar dapat keluar dari pengaruh obat yang di masukan oleh Mira tanpa ia ketahui.
Mira pun pergi dari depan pintu kamar Alex, dirinya bergegas kembali lagi ke kamar Maura sebelum semua bangun melihat dirinya. Tak beberapa lama, Mira pun terlelap di kamar Maura. Dia tak ingin mengingat kejadian itu lagi, Mira berusaha besok pagi akan menjelaskan kepada Alex, pria pujaannya.
*******
Di pagi harinya...
Sarapan sudah tertata di atas meja makan, Maura juga sudah turun dari kamarnya yang bareng bersama Mira. Tak beberapa lama kemudian Alex pun menyusul ikut turun menghampiri meja makan dan duduk ikut sarapan.
"Mbok, di mana teman ku Livia?"
"Apa mbok tak membangunkannya pagi ini?"
"Hari ini kita ada ulangan dan harus pergi pagi-pagi sekali." pekik Maura dengan mulut penuh dengan roti yang sedang di makannya.
"Tadi mbok sudah mencoba bangunkan non Maura..., tapi gak ada sahutan dari dalam."
"Mbok juga penasaran jadi mbok buka, eh orangnya sudah gak ada."
"Kata satpam tadi malam temannya non Maura sudah pulang ke rumahnya dengan buru-buru." art itu pun mengatakan apa adanya.
__ADS_1
Maura dan Alex terkejut mendengar perkataan dari art mereka, Alex yang pagi itu kurang sehat segera menyuruh art nya mengambilkan obat di kotak obat untuk dirinya. Mira yang memperhatikan pun mencoba membuka mulutnya dan memberi perhatian kepada Alex tanpa merasa malu atas kejadian tadi malam.
"Mbok, biar saya saja yang mengambilkannya." ujar Mira.
"Papa kenapa pa?"
"Papa sakit?" tanya Maura sambil memegang dahi papanya.
"Ya ampun, papa demam?!" Maura sedikit panik.
"Papa hari ini jangan kemana-mana yah?"
"Lebih baik tidak usah masuk kantor dahulu, papa harus banyak istirahat."
"Biar Tante mira yang merawat papa di rumah, dan nanti mbok telpon dokter Rizal untuk memeriksa papa." ucap Maura yang khawatir pada papanya.
Setelah itu, Maura pun berpamitan untuk pergi ke kampusnya. Mira tersenyum melihat Maura yang menyuruh Alex di rumah saja bersama dirinya. Alex tidak mau meminum obat yang telah di sediakan oleh Mira, dia lebih memilih pergi dan meninggalkan Mira di meja makan itu begitu saja tanpa berkata apa pun.
"Mas, kamu mau kemana mas?"
"Maura menyuruh mu untuk istirahat di rumah saja." Mira mengikuti Alex yang berjalan masuk ke mobilnya.
"Mas, kamu belum minum obat. Harus banyak istirahat mas..., mas..!" Alex pergi begitu saja melajukan mobilnya bersama Robby di sebelahnya.
Alex yang menyetir, sementara Robby duduk di samping hanya berdiam diri. Alex mengemudikan mobilnya ke arah apartemen baru yang dibelinya untuk Livia. Sampai di sana, Alex meminta Robby untuk segera menjemput Livia di kampusnya setelah ulangan mereka selesai.
Robby pun menuruti apa perintah dari Alex, wajah pria itu begitu merah dan nafasnya memburu. Alex terkena flu dan demam, karena tadi malam dia berendam sampai pagi sebab ketiduran di kamar mandi. Robby sudah memberikan obat kepada Alex untuk segera di minum, tapi dirinya tak mau minum obat sebelum Livia datang untuk menemui dirinya di apartemen itu.
__ADS_1
Alex sangat keras kepala, bahkan bersikeras untuk tidak mau melakukan dan makan atau meminum obat apa pun sebelum Livia menemuinya di sana. Robby pun segera pergi dari kamar itu, dan langsung meluncur ke kampus Livia. Robby mencari tahu dan mengintai kelas Livia, Robby pun segera mengirim pesan kepada Livia untuk menemui Alex segera di apartemenya.