
Di saat makan siang bersama Alex, Livia sedikit canggung dan juga merasa risih, karena dia harus makan bersama seorang pria yang baru dia kenal. Apalagi tatapan mata Alex yang selalu melihat ke arah Livia, seakan-akan ingin menerkamnya.
Alex mencoba untuk membuka pembicaraan mereka berdua, selagi menunggu pesanan datang ke atas meja mereka. Alex mengeluarkan sebuah kertas perjanjian untuk di tanda tangani oleh Livia saat itu. Kertas itu di berikan kepada Livia untuk dibacanya, kertas itu penuh dengan beberapa persyaratan bila ingin mencicil pembayarannya.
Tetapi ada juga persyaratan yang lain apabila tidak sanggup untuk membayarnya. Alex sengaja menambah persyaratan ketika melihat wanita yang berada di depannya itu adalah Livia. Alex mengambil kesempatan karena dia pernah berjanji, tidak akan melepaskan levia ketika bertemu kembali untuk yang kedua kalinya.
Livia pun membaca seluruh persyaratan dan juga perjanjian di dalamnya, seperti dugaan Alex Livia sangat keberatan dengan isi perjanjian tersebut.
"Tuan banyak sekali biayanya, tetapi aku berjanji akan membayarnya."
"Namun aku tidak sanggup kalau untuk membayar langsung sepenuhnya."
"Aku mohon agar Tuan memberi keringanan, dan aku dapat mencicilnya sebulan sekali." ujar Livia.
"Kau bisa mencicilnya, aku tidak akan keberatan. Apakah kau memiliki pekerjaan yang tetap untuk mencicil uang tersebut?" Alex kembali bertanya kepada Livia.
Alex sudah mengetahui kehidupan Livia, ia menyuruh Robby untuk segera mencari tahu, informasi tentang Livia secepatnya. Sekarang Livia pun harus bekerja keras untuk dapat membayar biaya rumah sakit ibunya itu kepada Alex.
Makan siang mereka pun sudah datang, dan Livia menyimpan kertas itu ke dalam kecilnya. Robby yang makan siang di cafe itu juga namun lain tempat duduknya memperhatikan Livia dari jauh. Alex menyadari kalau pengawalnya itu sedang memperhatikan gadis belia incarannya.
Saat itu Alex pun mengajukan kesepakatan kepada Livia, agar tidak memberati dirinya untuk membayar semua biaya rumah sakit ibunya itu kepadanya. Alex mengajukan kepada Livia untuk bekerja untuknya, pekerjaannya tidak terlalu begitu berat namun sangat menguntungkan.
"kau dapat bekerja denganku di saat aku membutuhkan saja."
__ADS_1
"Aku akan memberikan satu ponsel kepadamu, namun ponsel itu hanya khusus untuk nomorku saja."
"Ketika aku membutuhkanmu, aku akan menelponmu atau mengirim pesan kepadamu, dan kau harus segera datang." ucap Alex yang semakin mempermainkan keadaan Livia.
Mereka berbicara sambil menikmati makan siangnya dan Livia belum menyetujui apa yang dikatakan oleh Alex. Livia masih berfikir sambil memasukkan makanannya ke dalam mulutnya, berulang kali ia berpikir namun dia masih ragu untuk menyetujui kesepakatan yang diberikan oleh Alex.
Alex juga mengajukan persyaratan kepada levia sekali lagi ia dapat bekerja untuk Alex selain biaya pengobatan ibunya yang diringankan ia bekerja juga mendapatkan uang namun uang tersebut untuk biaya kuliahnya. Sehingga Livia tidak perlu bekerja lagi di luar untuk mencari uang kuliahnya.
Alex berani membayar Livia dengan pekerjaannya itu sebesar 5 juta perbulan, uang kuliah Livia sebulan 2 juta. Sehingga 3 jutanya dapat untuk biaya kebutuhan di rumah bersama ibunya. Livia terdiam sejenak mendengar perkataan Alex, ia sangat tergiur dengan perjanjian yang diajukan oleh Alex.
"Apa aku harus menerima perjanjian yang Tuhan Alex ajukan?" gumam dalam hatinya.
"Tapi perjanjian yang tuan Alex berikan dapat membuatku lebih sering menjaga Ibu di rumah, tanpa harus keluar malam lagi bekerja dan meninggalkan Ibu sendirian."
"Aku juga tidak akan mengizinkan ibu untuk bekerja lagi di luar. sedangkan selebihnya aku akan mencari uang tambahan sedikit demi sedikit untuk menabung, tanpa tuan Alex tahu." ujarnya kembali dalam hati.
Livia sangat terkejut dan ia buru-buru mengeluarkan kertas tersebut dari dalam tas kecilnya, dengan cepat lifia menandatangani kertas tersebut dan memberikannya kepada Alex kembali.
"Saya sangat setuju dengan perjanjian yang Tuan berikan, mulai besok saya akan bekerja untuk Tuan Alex." ucap Livia dengan cepat.
Alex pun langsung pergi bersama Robby sedangkan Livia masih terduduk di kursi cafe tersebut. Alex tersenyum tipis, ia merasa sangat senang gadis belia itu akan bekerja untuknya besok. Robby sedikit bingung dan tidak paham apa yang dibicarakan oleh mereka, namun dirinya tidak berani untuk bertanya kepada Alex, karena itu merupakan privasi bosnya sendiri.
Alex terlihat begitu senang ketika setelah bertemu dengan Livia makan siang di cafe itu, wajahnya sangat cerah bahkan selalu menebarkan senyuman kepada semua karyawannya. Robby sendiri pun sangat begitu heran melihat perilaku bosnya tersebut, namun yang ia tahu bosnya pasti menyukai gadis belia itu.
__ADS_1
Alex merupakan pimpinan dari perusahaan besar begitu bergelimang harta dan wajahnya begitu tampan. banyak para gadis yang menyukainya bahkan mengejar-ngejar dirinya, Alex menjadi playboy saat istrinya meninggal dunia. Untuk menutupi rasa kesepiannya, ia suka bergonta-ganti pacar dan juga bermain-main dengan para wanita.
****
Livia kembali ke rumah sakit....
Livia membuka pintu kamar rawat inap ibunya, di sana seorang suster sedang memeriksa kondisi ibunya. Terlihat ibunya terlelap dalam tidur dengan rasa tenang di wajahnya, Livia pun sedikit lega melihat ibunya yang sudah mulai membaik.
"Bagaimana dengan kondisi Ibu saya suster?"
"Apakah ia akan cepat sembuh?" Silvia banyak bertanya kepada suster tersebut.
Suster itu pun memberi penjelasan bahwa kondisi ibunya Livia saat ini mulai start yang, bahkan perkembangan kondisi dari ibunya sangat luar biasa. Mungkin lima hari lagi sudah dapat kembali pulang ke rumah.
Suster itu pun pergi untuk memeriksa pasien yang lainnya, Livia sangat senang mendengar kondisi ibunya dari suster tersebut. Untuk beberapa hari ini mungkin Livia akan sibuk namun tetap ada waktu untuk bersama ibunya di rumah. Livia tidak akan memberitahu kepada ibunya tentang isi perjanjian yang ditandatanganinya siang tadi.
Dia merasa ibunya tidak perlu mengetahui akan hal itu, yang akan membuat ibunya khawatir kepada Livia. Ibunya cukup konsentrasi pada penyembuhan diri dan istirahat di rumah saja. Livia terus berfikir pekerjaan apa yang akan di berikan oleh Alex kepadanya nanti. Dirinya tidak mengerti bila pekerjaannya terlalu sulit baginya, Livia juga tidak mengerti tentang perkantoran dan perusahaan.
"Aku sangat menyesal tidak bertanya terlebih dahulu, kepada tuan Alex tentang pekerjaan itu."
"Aku pasti akan mengecewakan tuan Alex saja nanti." ujar Livia di dalam hatinya.
Livia terus menatap ibunya yang sedang terlelap tidur setelah meminum obat yang di berikan oleh suster jaganya. Livia pun segera istirahat dan tertidur di sofa yang ada di sana. Livia anak yang berbakti dan menyayangi ibunya, hanya ibu yang dia punya saat ini.
__ADS_1
Dan besok dia akan mulai bekerja untuk Alex, di saat Alex menelponnya dia baru akan pergi untuk mulai bekerja. Tiba-tiba Maura menelpon ke ponsel Livia, dan mengajaknya untuk bertemu malam nanti. Namun Livia menolak karena dirinya akan menjaga ibunya di rumah sakit saja, dan Livia juga ingin beristirahat di kamar rawat ibunya itu.
Bersambung...