
Pada saat itu Robby sudah mengetahui bahwa Alex akan membuka, rencana licik Mira kepadanya dan juga kepada putrinya. alat menyuruh Robby untuk mengantarkan Mira dan Maura ke ruang rapat. Di sana juga Robby sudah menyediakan laptop dan sebuah memori kecil yang ada dalam saku jasnya.
Clara yang mengetahui akan rencana alex dan Robby, sangat senang melihat mereka berdua akan dipermalukan. Robby pun sangat lembut menyambut ke datangan mereka, Robby menyuruh Clara untuk membuat kan kopi untuk mereka semua.
"Kali ini kau tak akan bisa mengelak lagi Mira?!"
"Aku akan membuka kebusukan mu di depan putri ku, hingga dia tak akan mau menjadikan mu sebagai mamanya." dalam hati Alex berkata sambil menatap tajam ke arah layar monitor di hadapannya.
Drap
Drap
Drap
Alex berjalan menuju ke ruangan dimana ada Mira dan Maura di sana, Robby sudah menyiapkan semuanya dan kini hanya tinggal Alex yang melanjutkannya. Mira sangat senang ketika Alex datang dan masuk ke ruangan itu, Maura juga sudah senang karena papanya menepati janji untuk bertanggung jawab akan hal ini.
Maura sudah menyiapkan bukti surat kehamilan Mira yang ada di tangannya saat ini. Bahkan amplop surat itu sudah diletakkannya di atas meja kantor tersebut. Alex duduk di kursinya Robby sudah bersiap di layar fokus untuk menunjukkan bukti kepada Mira dan Maura.
"Pa, ini surat bukti kehamilan Tante Mira. Sekarang Tante tengah mengandung anak papa saat ini." ujar Maura memberi buktinya.
Alex hanya tertawa dan tidak membuka amplop tersebut, ia bahkan meremas amplop itu dan merobeknya di depan Maura dan Mira. Alex kesal dengan Mira yang terus memprovokasi putrinya Maura, sehingga Maura semakin menjadi untuk terus berusaha mendesak papanya untuk menikahi Mira.
"Maura kau harus melihat dulu apa yang sebenarnya diantara papa dan Tante mu itu."
"Robby tolong nyalakan barang bukti kita, dan jangan lewatkan sedikit pun." Alex kali ini akan membuka kedok dari Mira yang telah membohongi kehamilannya.
__ADS_1
Semua duduk di tempatnya, Mira sedikit khawatir dan Maura penuh dengan tanda tanya. Sementara Alex tersenyum dengan bahagia, ketika melihat Mira penuh kegelisahan menyaksikan video yang baru saja diputar oleh Robby.
"Apa sebenarnya bukti yang ingin Alex perlihatkan kepada putrinya."
"Yang aku tahu permainan yang ku merencanakan sangatlah bersih, dan tidak ada jejak yang dapat diambil oleh Alex sama sekali."
"Aku tak tahu bila Alex makan melakukan hal ini, mungkin Ini sebabnya Maura dan aku disuruh datang ke kantornya. Ia menipu anaknya dalam perkataan ingin bertanggung jawab kepadaku." dalam hatinya Mira sangat tidak senang.
Video berjalan selama 15 menit dan semua melihatnya...
Maura telah lihat semuanya, ia merasa tak percaya bahwa tante yang selama ini, ada di dalam hatinya menipu dirinya dan merasa tak bersalah. Bahwa bukti surat kehamilan dari Mira pun Robby mengetahuinya, secara diam-diam Robby menelpon dokter tersebut dan merekam suaranya. Surat itu penuh dengan kebohongan, sekali lagi Maura mengetahui, bahwa Mira sudah membohonginya untuk yang kedua kalinya.
Tak lupa juga Robby memutar berapa hal yang Maura dan Alex tidak ketahui, bahwa Mira memiliki pria lain selain Alex. Mira juga masuk ke dalam hotel dengan pria itu, Maura menatap ke arah Mira dengan kesal.
"Maura itu semua bohong Maura, Tante tak memiliki pria lain selain papa kamu."
Setelah video itu selesai diputar, Alex pun segera pergi dari ruangan itu bersama Robby. Mereka berjalan menuju lobi kantor, Robby mendapat pesan dari pelayan Livia. Pesan itu pun disampaikan oleh Robby ke Alex dengan rasa takut.
Pelayan itu memberi tahu kabar itu lewat pesan setelah 3 jam kemudian, setelah Livia berangkat ke Korea. Sebenarnya pelayan itu bimbang untuk mengatakan ke Alex, tapi dirinya gelisah melihat Livia pergi begitu saja. Akhirnya pelayan itu pun memberi tahukan ke Robby pengawal Alex.
Dengan cepat Alex dan Robby pun mengemudikan mobil mereka menuju ke apartemen. Alex pun melihat kamera yang terpasang di kamar apartemennya itu, sehingga Alex tahu siapa yang membuat Livia pergi dari dirinya. Alex begitu marah kepada Maura dan Mira, Alex segera menemui Maura yang ada di rumah saat ini sudah kembali.
Alex bertanya pada Maura dan semuanya jelas bahwa memang benar mereka datang ke apartemen tersebut. Maura pun tidak dapat mengelak bahwa dia dan Mira yang sudah menyuruh Livia untuk meninggalkan papanya.
Alex menjadi sangat marah besar ia membanting semua barang-barang yang ada di rumahnya bahkan meja kaca besar dipecahkan dengan tangannya sendiri. Alex memberitahu kepada Maura, bahwa dirinya sangat mencintai Livia. Dan yang paling dia inginkan ialah memiliki anak dengan Maura saat ini, harga diri Alex akan jatuh apabila ia mengeluarkan Livia dengan anaknya itu pergi dari hidupnya.
__ADS_1
Kini impian Alex untuk menikahi Livia hancurlah sudah, semua itu dikarenakan oleh putrinya sendiri dan juga Mira adik iparnya. Alex pergi dari rumah dengan membawa kopernya untuk pindah ke apartemennya saja. Alex mencoba untuk menghubungi Livia dengan menelpon ponselnya. Namun ponsel Livia tidak aktif sama sekali, dan Alex tidak dapat menghubunginya atau mendengar suara Livia.
Maura pun pergi ke rumah Mira, hatinya sangat sedih dan kecewa di saat papanya marah kepadanya. Maura ingin Mira bertanggung jawab atas apa yang semua telah terjadi pada keluarganya. Sekaligus Maura ingin menenangkan hatinya di rumah Mira, yang masih ingin dianggapnya sebagai mamanya.
Brem...
Sit! mobil Maura berhenti di depan rumah Mira, namun dirinya melihat merah sedang berbicara dengan seorang pria di teras rumahnya. Mira tidak menyadari kedatangan Maura di sana, dengan mata kepalanya sendiri, Maura melihat Mira dengan pria saling berpelukan dan melakukan hal yang Mira dan Arnold lakukan.
Dan Maura menyadari bahwa pria itu sama dengan video yang tadi barusan di perlihatkan oleh papanya dan Robby.
"Tante?!"
"Ternyata benar yang ada di video itu, dan tadi masih aku percaya kamu itu calon mama ku."
"Namun sekarang aku yakin bahwa apa yang di katakan papa dan video itu adalah benar."
"Tak aku sangka kelicikan mu itu terus memprovokasi ku untuk mendesak papa." ujar Maura dengan kasar.
"Hai Mira, siapa dia?" tanya Arnold.
"Oh, buka siapa-siapa. Hanya keponakan ku saja kok, dia lagi galau dan gila." Mira pun berkata seenaknya saja di hadapan Arnold.
"Sudahlah pulang ke rumah mu saja sayang, tidurlah hari sudah malam."
"Jangan keluyuran malam-malam, nanti terjerat dengan pria tampan seperti ku, hahahaha...." Mira tertawa bahagia, sepertinya dia sedang dipengaruhi minuman beralkohol.
__ADS_1
"Ayo sayang kita masuk ke dalam, jangan di luar terus. Biarkan saja dia pasti akan pulang sendiri atau papanya yang akan menjemputnya nanti." Mira berjalan sempoyongan dengan di papah oleh Arnold si bule itu.