Terpaksa Jadi Simpanan

Terpaksa Jadi Simpanan
Bab 35. Kenzo


__ADS_3

Langkah Livia terhenti, seketika menundukkan kepala dan Livia menangis. Livia pun terduduk di kursi yang ada di sebelahnya, melihat hal itu membuat Rendy tak mengerti dan berjalan menghampiri putrinya.


"Kau kenapa Livia?"


"Apa yang sudah terjadi pada ibu mu?"


"Katakan Livia?!"


"Katakan pada ku?!" Rendy meminta jawaban kepada putrinya.


"Pergilah dari sini! Aku sangat membenci mu!"


"Betapa menderitanya kami, dan ibu sudah meninggalkan ku untuk selamanya."


"Semua karena kau! Dan kesalahan mu itu." Livia pun menjadi emosi karena menahan ras sakit hatinya mengingat kembali saat itu.


Dimana ayahnya pergi meninggalkan dirinya dan ibunya disaat keadaan yang tidak baik, dan kini Livia harus menjadi seperti ini saat ini. Livia terlalu sedih mengingatnya dan kesal menyalahkan semuanya kepada Rendy ayah kandungnya. Tiba-tiba Terjadi sesuatu dengan Livia yang membuatnya berteriak begitu kencang dan menangis saat itu di depan ayahnya.


"Livia kamu kenapa?" ayahnya panik melihat Livia memegangi perutnya yang kesakitan.


"Livia akan melahirkan sepertinya, aku harus membantunya untuk pergi ke rumah sakit." ujar ayahnya dalam hati.


"Tolong!"


"Sakit....!" Livia berteriak saat akan menuju ke rumah sakit diantar oleh mobil majikan pak Rendy saat itu.


"Argh....!"


Malam Hari di Apartemen


"Livia!" Alex terbangun dari tidurnya.


Alex bermimpi kalau terjadi sesuatu pada Livia saat ini, pria itu pun sadar bahwa sekarang Livia tidak ada disisinya.


"Bagaimana aku akan memenuhi janjiku untuk menjaga kau dan anak kita sayang...?"


"Hiks, hiks, dimana kau sekarang Livia...?" Alex sangat merindukan Livia saat ini.

__ADS_1


Tok, tok, tok...


Terdengar suara ketukan dari luar kamar apartemen Alex, ia sangat senang dan antusias membuka pintu kamarnya itu. Alex berdiri dan beranjak dari ranjangnya lalu berjalan perlahan mendekati pintu tersebut.


Ceklek....


Pintu pun di bukanya," Livia?!" Alex mengira Livia telah kembali ke padanya.


"Papa ini Maura, pa.." Maura datang ke apartemen Alex.


Alex pun membiarkan pintu itu terbuka dan Maura pun masuk ke kamar Alex saat itu. Maura duduk di sofa ruang tamunya setelah menutup kembali pintu apartemen itu.


"Papa, aku..." Maura terhenti.


Dia ragu untuk mengatakannya kepada Alex papanya, Maura ingin meminta maaf karena sudah tidak mempercayai ucapan papanya saat itu tentang Mira. Malam itu Maura pun pulang dari apartemen itu setelah mengatakan yang ingin ia katakan ke Alex, namun ia belum bisa menerima Livia untuk bersama papanya.


"Pa, Maura pulang ke rumah saja, Maura ingin tidur karena sudah lelah." Maura berjalan menuju pintu keluar.


Ceklek...


Pintu terbuka tiba-tiba Robby masuk ke dalam apartemen itu, dan melihat ke arah Maura yang tengah berdiri di depan pintu itu.


"Aku hanya ingin tak bertambah lagi beban pikiran ku saat ini." pekik Alex yang merasa hampir putus asa mencari Livia.


"Baik tuan."


"Mari Maura, aku akan mengantarkan mu." Robby pun pergi mengantar gadis yang terlihat sedih itu.


*****


"Hoek...!


"Hoek...!


Bayi Livia sudah lahir dengan selamat, dan ia seorang laki-laki tampan sama persis seperti Alex. Setelah Livia melahirkan dengan selamat dan bayinya juga, Rendy pun tenang dan pulang begitu saja, karena ia akan mengantar barang bawaan nyonya besar majikannya. Sudah lama sekali ia berada di luar, dan sekarang majikannya sudah dari tadi menunggunya.


"Kemana lagi pria tua itu?!"

__ADS_1


"Sesuka hatinya saja datang dan pergi, awas saja kalau ia kembali!" majikannya mengomel karena kesal.


"Apa aku kali ini akan dipecat olehnya ya?"


"Sangat sulit mencari pekerjaan untuk pria seusia ku ini."


"Mudah-mudahan nyonya bermurah hati kepada ku." doanya dalam hati.


Livia sudah merasa lega saat mengetahui bayinya sehat dan selamat. Sekarang Livia teringat Alex dan merindukannya, tetapi kali ini ia tak menangis bila memikirkan Alex. Sebab ia tahu semua akan terjadi kepadanya, dan itu sudah menjadi keputusannya untuk pergi dari kehidupan pria itu.


"Selamat siang nyonya, bayi anda sangat tampan dan ia ia akan saya letakkan di sebelah saat ini." suster itu mendorong bayi Livia dengan ranjangnya ke sebelah Livia yang sedang terbaring.


Livia melihat anaknya itu begitu mungil dan benar-benar mirip seperti Alex parasnya. Bayi kecil itu akan diberi nama oleh Livia dengan nama Kenzo.


"Suster dimana pria yang telah mengantarkan saya ke rumah sakit ini?"


"Dari tadi saya tidak melihatnya?" Livia teringan ayahnya yang sudah membawa dirinya ke rumah sakit.


"Oh, pria itu berkata akan mengantar barang."


"Dan ia pergi begitu saja." suster itu menjelaskan apa yang ia ketahui.


" Baiklah, terima kasih kalau begitu." Livia mengucapkan kepada suster.


"Terima kasih sudah membantu ku untuk sampai ke rumah sakit dan menunggu ku sampai lahiran."


"Namun aku belum bisa menerima kehadiran ayah yang begitu tiba-tiba dalam hidup ku lagi." "Setelah semua yang ayah ciptakan untuk aku dan ibu saat itu." batin Livia terasa sakit kembali.


Sudah beberapa hari Livia di rumah sakit, dan kali ini ia akan pulang ke rumah bersama Kenzo anaknya. Kios Livia tetap berjalan lancar, ia menyerahkan kepada karyawan yang dipercayanya untuk memegang sementara kios miliknya. Sampai menunggu Livia pulang dari rumah sakit dan dapat beraktivitas kembali seperti biasanya.


Kenzo menangis di rumah di saat ia merasa lapar, haus dan lainnya, namun hari ini ia menangis begitu kencang dan Livia tak tahu apa yang terjadi pada anaknya itu.


Kevin masih terus mencari, ke seluruh negara dan juga melalui beberapa situs. Belum juga membuahkan hasil sama sekali, Kevin masih terus berusaha dan tak menyerah sama sekali.


Alex sudah pernah menghubunginya dan membahasnya, lagi-lagi Alex kecewa dan sedih Livia tak di temukan keberadaannya.


Ayah Livia yang kembali mencarinya di kios milik anaknya itu, bertanya pada karyawannya karena ingin bertemu. Namun satu orang pun tak ada yang mengatakan keberadaan Livia saat ini. Livia menelpon pada karyawannya agar tidak memberi tahukan keberadaan Livia dan juga alamat rumahnya bila ada yang bertanya dalam rangka apa pun itu.

__ADS_1


Akhirnya ayahnya menyadari bila, Livia tak ingin bertemu dengannya lagi. Sehingga ayahnya tak lagi bertanya tapi hanya datang ke kios melihat dari ke jauhkan saja.


Sebulan sudah berlalu, dan Livia sudah beraktivitas seperti biasa sambil mengasuh Kenzo anaknya. Walau sedikit kewalahan untuk mengurus kios dan Kenzo, tapi Livia tetap semangat dan terus berusaha untuk Kenzo anaknya. Semua ia lakukan agar Kenzo tak kekurangan apa pun dari Livia, ia memberikan kasih sayang penuh dan juga perlengkapan yang Kenzo butuhkan untuk tumbuh kembangnya.


__ADS_2