Terpaksa Jadi Simpanan

Terpaksa Jadi Simpanan
14. Menginap


__ADS_3

3 bulan telah berlalu...


Ibunya Livia sudah sembuh dari penyakitnya dan kini sudah dapat berjalan, serta beraktivitas seperti biasanya di rumah. Livia tidak mengizinkan ibunya untuk bekerja lagi di luar, ia ingin Ibunya tetap berada di rumah hanya bekerja yang ringan saja dan banyak beristirahat.


Kali ini Livia lah yang menjadi tulang punggung di keluarganya, dan selalu mengutamakan ibunya dalam urusan kebutuhan rumah tangga. Sore itu Maura datang ke rumah Livia, mereka berdua pulang dari kampus lalu pergi ke rumah Livia. Dengan mobilnya Maura dan Livia pun pulang ke rumahnya Livia, di sana Maura langsung turun dan masuk ke rumah bersama Livia untuk menemui ibunya.


"Halo Tante, saya Maura temannya Livia."


"Sekarang Livia bekerja di kantor papaku, dan kami dulu adalah teman sewaktu SMP." ucap Maura memperkenalkan dirinya.


"Oh kamu anaknya Pak Alex, ayo sini duduk. Ibu sangat berterima kasih kepada kamu dan papa mu, yang telah memberikan pekerjaan kepada Livia dan juga menolong Ibu ketika ibu kecelakaan." tangan ibunya Livia menyentuh tangan Maura.


Maura sangat senang bahkan ia tersentuh hatinya ketika tangan lembut seorang ibu menggenggam tangannya. Livia yang melihat Maura begitu mengerti akan perasaan yang Maura rasakan, dia juga merasa bingung dan merasa amat bersalah, karena di belakang sahabatnya Livia telah melakukan hubungan terlarang dengan papanya Maura.


livia sempat melamun memikirkan bagaimana nanti bila Maura mengetahui, bahwa sahabatnya telah berhubungan dengan papa kandungnya. Tiba-tiba ibunya Livia datang menghampiri dirinya, yang tengah berdiri melamun di dapur sendirian.


"Kamu sedang apa nak itu Maura menunggumu dari tadi duduk di depan, bukannya kamu buatkan minum dan ambil camilan kamu malah berdiam diri di sini." pekik Ibu lisia yang membuyarkan lamunan Livia saat itu juga.


"Oh iya bu, Livia hanya kepikiran dengan tugas-tugas yang di kantor tadi." ia berbohong di depan ibunya lagi.


"Oh..., sudah Jangan dipikirkan. Lebih baik kamu dan Maura istirahatlah di dalam kamar, Maura berkata bahwa ia ingin menginap di rumah kita malam ini."

__ADS_1


"Bersihkan diri kalian terlebih dahulu, baru nanti ajaklah Maura untuk makan malam bersama kita."


"Ibu akan menyiapkan semua menu makan malam kita di atas meja makan." ujar ibunya Livia.


Livia pun mengerti, dan ia pun segera mengajak Maura ke kamarnya yang berada di lantai atas. Maura pun segera mandi dan memakai baju milik Livia, dirinya juga sudah menghubungi Robby untuk memberitahu kepada papanya. Dia sedang menginap di rumah temannya yang bernama Livia malam ini.


Robby sedikit terkejut mendengarkan perkataan dari Maura lewat ponselnya, Dia segera memberitahu kepada Alex bahwa Maura saat ini sedang berada di rumah Livia. Alex pun mengerti dan tidak mempermasalahkan anaknya yang menginap di rumah Livia namun dirinya resah karena malam ini tidak dapat bertemu dengan Livia di apartemen mereka.


Hari sudah malam Livia dan mau Rabu segera tidur di kamar, hari ini Maura terlihat senang karena dapat merasakan sebuah keluarga kecil dan kelembutan kasih sayang seorang ibu, yang tidak pernah dapat ia rasakan saat ini. Livia pun senang karena sahabatnya itu, dapat merasakan kasih sayang ibunya Livia malam ini.


Di saat jam dinding kamar Livia sudah menunjukkan pukul 24.00 malam, Maura sudah tertidur lelap di samping Livia ponsel gadis belia itu bergetar dan membangunkan dirinya. Dengan keadaan yang masih mengantuk, Livia pun melihat layar ponselnya dengan mata yang sedikit menyipit. Gadis itu melihat bahwa Alex menelponnya malam itu, dia pun terkejut lalu menjawab telepon dari Alex dengan menjauh dari Maura yang sudah terlelap.


Dengan rasa was-was dan selalu waspada Livia berbicara dengan Alex dari ponselnya. Suaranya sedikit dikucilkan agar tidak ketahuan oleh Maura yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Malam ini aku tak dapat tidur, Aku sangat merindukanmu."


"Bisa kah besok malam kita bertemu di apartemen kita lagi?" tanya Alex bagaikan anak remaja yang sedang berpacaran.


Dengan nada suara bas nya yang khas, dan begitu macho terdengar di telinga Livia.


"Aku belum tahu Om, apakah besok bisa kesana."

__ADS_1


"Saat ini masih begitu banyak tugas kuliah, dan mungkin besok Livia tak bisa masuk kantor untuk beberapa hari." jelas Livia dari telpon itu.


"Oh sayang kau mulai mengabaikan aku?"


"Baiklah, aku akan menanti mu setelah semuanya selesai." Alex tetap berkata lembut kepada Livia.


Padahal dalam hatinya ia sangat gemas, ingin sekali menjemput Livia ke rumahnya dan membawa gadis imut itu ke apartemennya.


"Baru kali ini aku bisa sabar dengan seorang wanita, dan menuruti semua yang ia katakan. Padahal usia kami terpaut begitu jauh, tetapi dia mengerti bagaimana bersikap terhadap ku, tanpa melihat status dan kekayaan ku semata, seperti wanita yang lainnya." dalam batinnya Alex.


Setelah menelpon dan mendengar suara Livia, Alex pun dapat tidur nyenyak di kamarnya saat ini. Robby harus menemani Alex saat ini di apartemen milik Livia dan Alex, ia tidur di depan TV tepatnya di atas sofa. iya harus mengikuti semua perkataan Alex, karena saat ini bos nya itu lagi butuh teman minum wine disaat dia belum mendengar suara gadis imutnya.


Setelah menutup teleponnya Livia pun segera berjalan kembali naik ke atas kasurnya, iya membenarkan bantal dan meletakkan kepalanya untuk segera beristirahat di sebelah Maura. Livia melihat ke arah wajah Maura dan memastikan bahwa Maura masih tertidur lelap, tidak mendengar pembicaraannya tadi dengan Alex papanya.


Dia mengamati bahwa Maura masih terlelap dalam tidur, Livia pun merasa lega dan ia segera memejamkan matanya dan ikut terlelap seperti Maura. Kali ini Maura dapat tertidur lelap walau tanpa menggunakan AC seperti biasa di dalam kamarnya. Dengan hati senang dan gembira, tidur Maura pun menjadi nyenyak dan bermimpi indah.


Maura sangat senang menginap di rumah Livia, dan ia pun berencana untuk mengajak Livia menginap di rumahnya nanti. Maura sudah meminta izin kepada ibunya Livia tanpa sepengetahuan Livia tadi. Ibunya pun memberi izin kepada Maura, saat selesai makan malam dan Livia sedang mencuci piring bekas makan mereka.


Keesokan paginya...


Livia sudah bangun duluan ia menyiapkan sarapan pagi untuk mereka bertiga, Ibu Livia bangun kesiangan karena memang tadi malam agak sedikit tidak bisa tidur. Lain dengan Maura, dia tidur terlalu nyenyak dan sudah biasa bangun siang, tanpa menyiapi apapun karena sudah ada art di rumahnya.

__ADS_1


Maura segera mandi dan membersihkan dirinya, saat setelah bangun dari tidurnya. Dia turun dari anak tangga dan menuju ke arah dapur, karena mendengar begitu berisik dari dapur rumah Livia.


Dilihatnya Livia begitu mahir dalam menyiapkan sarapan pagi untuk mereka, dengan secepat kilat sarapan sudah tersaji di atas meja makan dengan aroma yang begitu harum dan menggugah selera. Maura senjata sabar ingin menikmati sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh Livia pagi itu.


__ADS_2