
"Tadi ada barang saya yang ketinggalan di toko ini, dan saya mau ambil barang tersebut." terdengar suara itu tak asing bagi Livia.
Dirinya berhenti sejenak dan melirik ke arah wanita yang sedang berbicara padanya. Betapa terkejutnya Livia ketika menatap wajah wanita yang memakai kaos merah yang sedang menatapnya juga dari tadi tanpa henti.
"Kau?!"
"Kau Maura?!" Livia terbata-bata.
"Ya ini aku!"
"Mengapa? Mengapa memasang wajah yang membosankan seperti itu?!"
"Apakah aku hantu dan kau harus mengeluarkan bola matamu itu?!" ujar Maura dengan nada sedikit meninggi kepada Livia.
Akhirnya mereka berdua bertemu tanpa sengaja, di depan toko Kenzo saat hujan dan badai malam itu. Putra Livia Kenzo masih terlelap tidur di dalam mobil, sedangkan mereka masih saling menatap dan tak percaya bisa bertemu di Korea. Akhirnya Livia pergi meninggalkan Maura begitu saja, karena dirinya tahu kalau Maura tak ingin melihatnya dan membencinya saat itu.
"Livia!"
"Tunggu...?!"
"Livia, ada yang ingin aku bicarakan padamu...!"
"Livia...?!" Maura terus memanggil tapi Ia sudah masuk ke dalam mobil dan melaju pergi.
Hujan sangat deras, sehingga suara Maura yang memanggilnya tak dapat di dengar oleh Livia. Maura pun sedih dan hanya menatap mobil Livia dari kejauhan, sedangkan Livia terus saja pergi dan langsung menghilang dari hadapan Maura dengan mobilnya. Dan tokonya itu sudah di tutup dan di kunci oleh Livia sendiri. Semua karyawannya juga sudah pada pulang semuanya, tinggallah Maura sendirian di tengah hujan yang sangat deras.
Dan tak beberapa lam kemudian sebuah mobil datang di hadapan Maura, terlihat gadis itu masih berada disana.
__ADS_1
Tin, tin, tin...
Terdengar suara klakson mobil itu yang membuat Maura berdiri dari jongkoknya di pinggiran toko Livia.
Seseorang keluar dari dalam mobil itu, dengan memakai payung putih berjalan dalam gelap menghampiri Maura saat itu juga. Di keadaan terang Maura dapat melihat orang tersebut adalah Livia yang kembali menemuinya dalam derasnya hujan itu turun.
"Ayo masuk ke mobil ku, dan ikutlah ke rumah ku sekarang." Livia mengajak Maura untuk ke rumahnya dan tak tega membiarkan dirinya sendirian di tengah hujan deras itu.
Maura pun ikut dengan Livia ke rumahnya, wanita itu pun mengemudikan mobilnya dan kembali pulang kerumah. Kenzo masih tidur di rumah bersama art Livia untuk menjaganya, sehingga Livia dapat menjemput Maura tanpa Kenzo. Maura memperhatikan Livia yang begitu mandiri dan terlihat lebih dewasa darinya, Maura sedikit merasakan sosok seorang ibu yang begitu hangat pada diri Maura saat itu.
Mereka telah sampai di rumah Livia yang tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu besar. Livia tinggal berdua saja bersama anaknya dan di tambah art nya seorang wanita paru baya yang tak memiliki rumah menginap membantunya di rumah. Maura masuk ke dalam rumah Livia, dan menatap di sekelilingnya. Semua terlihat indah dan begitu hangat, Livia memberikan handuk dan juga baju ganti untuk Maura pakai tidur malam ini.
Di rumah Livia ada air hangat otomatis yang dapat di gunakan oleh Maura mandi karena dinginnya hujan membasahi dirinya di luar. Begitu juga dengan Livia yang membersihkan dirinya dan menyuruh art nya untuk membuatkan minuman hangat serta makanan untuk mengganjal perut mereka.
Livia melihat Kenzo yang masih terlelap di dalam kamarnya, dan Maya memberi kecupan selamat malam pada anaknya itu. Maura yang telah selesai mandi segera duduk di meja makan dan menunggu Livia di sana.
"Bila belum makan bibi sedang menghangatkan makan malam untuk kita sekarang." Livia duduk di depan Maura dan menikmati teh hangatnya.
"Terima kasih." ucap Maura yang mengangkat segelas teh hangat untuk di minumnya.
Mereka hanya berdiam diri sejenak menikmati teh hangat tanpa berbicara, Maura ingin berbicara kepada Livia namun bingung harus memulai dari mana. Dan ia juga sudah merasa bersalah karena telah meminta Livia untuk pergi dari kehidupan papanya.
"Livia, aku ingin..." terhenti dan diam kembali.
"Aku minta kau tak kan memberi tahu hal ini kepada Alex papa mu."
"Anggap saja kita tak bertemu dan merahasiakan semuanya dari Alex saat kau pulang ke Jakarta." ujar Livia dengan serius.
__ADS_1
"Tapi Livia bagaimana mungkin aku melakukannya?!"
"Sementara aku sebagai anaknya tak tega melihat papa kandungnya selalu menderita, tak ingin makan dan sekarang sedang sakit memikirkan wanita yang sangat ia cintai saat ini."
"Hiks, hiks..." Maura menangis dan menyesali segalanya.
Livia terkejut dan sedikit khawatir mendengar perkataan Maura, Livia jadi kepikiran dan malam itu ia tak dapat tidur dengan nyenyak setelah mereka selesai makan malam. Maura sangat penasaran ingin melihat Kenzo malam itu, tapi ia tak dapat melihat anak Livia bersama Alex papanya.
Dan malam itu juga Maura memberi tahukan kepada papanya untuk datang menjemputnya ke Korea untuk melewati malam tahun baru bersamanya. Dan Maura sedikit mengancam tidak akan pulang dan meninggalkan papanya apa bila Alex tidak datang ke Korea.
*****
"Robby tolong kamu siapkan pakaian papa untuk lima hari di Korea, karena ia pasti akan lama di sini bersama ku dan bersama wanitanya."
"Tolong tetap merahasiakan semua ini darinya, karena aku tak yakin akan semuanya."
"Tolong kamu atur semua penerbangan dan tetaplah stay di kantor selama beberapa hari itu." Muara mengirim pesan ke Robby asisten Alex.
Robby yang membacanya sedikit tidak percaya, dan Maura ingin mempertemukan mereka kembali. Tetapi Robby Haris tetap hati-hati dan jangan sampai ketahuan oleh Alex atasannya di kantor tersebut.
Pagi harinya...
Alex mengambil ponselnya dan membaca pesan singkat dari Maura putrinya, yang ingin menghabiskan malam tahun barunya bersama di Korea. Dan tak lupa juga Maura mengatakan bahwa dirinya sedang sakit di sana, tanpa ada yang menemani dirinya yang sedang sakit itu. Maura sedikit berbohong, agar papanya datang secepatnya, dan sedikit juga mengancam untuk tidak mau pulang apa bila tidak bersamanya di Korea.
Seketika Alex pun menyuruh Robby untuk menyiapkan keberangkatannya ke Korea, seperti yang diharapkan oleh Maura, Alex pun langsung akan pergi ke Korea. Robby pun memesan tiket dan menyiapkan koper buat Alex bawa perlengkapannya selama di Korea bersama Maura.
Kali ini Maura sudah memesan sebuah hotel untuk dua malam saja sama papanya. Maura yakin kalau Livia pasti tak suka pada Maura yang mengajak papanya datang ke Korea. Namun Livia mengajak papanya dengan alasan bahwa Maura sedang sakit dan tak ada teman yang merawatnya di sana. Maura hanya ingin mereka bersatu dan tak akan mengganggu kebahagian mereka lagi. Maura sangat kasihan melihat papanya yang semakin hari memburuk dan bisa menjadi pasien rumah sakit jiwa karena dirinya yang selalu menghalangi mereka bersatu.
__ADS_1