Terpaksa Jadi Simpanan

Terpaksa Jadi Simpanan
31. Kevin akan datang


__ADS_3

"Hai Mira, siapa dia?" tanya Arnold.


"Oh, buka siapa-siapa. Hanya keponakan ku saja kok, dia lagi galau dan gila." Mira pun berkata seenaknya saja di hadapan Arnold.


"Sudahlah pulang ke rumah mu saja sayang, tidurlah hari sudah malam."


"Jangan keluyuran malam-malam, nanti terjerat dengan pria tampan seperti ku, hahahaha...." Mira tertawa bahagia, sepertinya dia sedang dipengaruhi minuman beralkohol.


"Ayo sayang kita masuk ke dalam, jangan di luar terus. Biarkan saja dia pasti akan pulang sendiri atau papanya yang akan menjemputnya nanti." Mira berjalan sempoyongan dengan di papah oleh Arnold si bule.


Maura masih merasa tak percaya, melihat sendiri tingkah Mira di depan matanya. Kali ini ia benar-benar yakin bahwa yang dikatakan oleh Alex Papanya tentang Mira itu benar. Maura pun pergi dengan mobilnya, ia tak tahu harus ke mana malam itu, tiba-tiba dalam benaknya teringat kepada Robby dan ingin menemuinya.


Maura pun menelpon Robby malam itu juga, dan mengajaknya keluar ke sebuah cafe yang biasa di mana ya sering ke sana bersama Mira. Robby bingung saat membaca pesan dari Maura, sedangkan dirinya masih bersama Alex papanya Maura.


"Kau kenapa Robi sepertinya ada urusan lain yang ingin kau selesaikan?" tanya Alex menatap Robby yang sedari tadi melihat ke ponselnya dengan gelisah.


"Maafkan saya Tuan, tetapi ada yang memanggil saya, Karena ada urusan yang harus saya lakukan." ujarnya saat ditanya Alex.


"Baiklah kalau Kau ada urusan pribadi, sekarang kau bisa tinggalkan aku sendiri disini."


"Saat ini aku hanya ingin istirahat dan tidur malam ini dengan tenang." pekik Alex sambil berbalik badan dan menarik selimutnya.


Robby pun segera pergi meninggalkan Alex, ia keluar dari kamar apartemen itu lalu menutup pintunya kembali. Robby dengan cepat meluncur ke cafe yang di beritahu oleh Maura lewat pesannya. Robby sedikit cemas dengan keadaan Maura, Robi terlalu prihatin dan sangat peduli dengan putrinya Alex.


Bahkan dirinya tak menyadari diam-diam telah mengagumi putrinya Alex tersebut, sudah lama mereka sangat dekat dan juga akrab. Maura dan Robby pun sama-sama saling mengerti tanpa harus mengatakan keinginan mereka. Robby pun sampai di depan parkiran cafe tersebut, mengambil ponselnya bermaksud hati ingin menelpon Maura dan bertanya lokasi sekarang ada di sebelah mana.


Bugh!


Maura berlari menghampiri Robby yang ada di parkiran, ia memeluk Robby dari belakang. Robby terdiam ketika mendengar suara Maura yang sedang menangis di punggungnya. Untuk beberapa menit Robby hanya berdiam diri tanpa berbalik kearah Maura, Karena Wanita itu masih ingin memeluk lebih dari belakang.

__ADS_1


"Hiks, hiks, Robby... aku bingung dengan diri ku sendiri."


"Ternyata Tante Mira membawa lelaki ke rumahnya, bahkan ia tak perduli dengan ku saat aku ke rumahnya."


"Robby aku tak ingin pulang ke rumah, tolong kau bawa aku pergi saja."


"Aku merasa sangat tak berguna saat ini, menyalahkan papa dan mendengar ucapan Tante Mira, itu adalah kebodohan ku." Maura menyadari kalau dirinya sudah diperdaya oleh Mira.


Maura melepas pelukannya dan Robby berbalik menatap Maura, Robby mencoba menenangkan gadis itu. Robby pun dengan cepat membawa Maura untuk masuk ke dalam cafe dan memesan kopi untuk mereka nikmati bersama. Alex tak tahu bila putrinya pergi menemui Mira di rumahnya, di saat Alex pergi dari rumah, Maura masih ada di sana.


"Maura, sebenarnya hal itu sudah lama di ketahui oleh papa mu."


"Mira itu buka wanita yang baik, sebelum mama dan papa kamu menikah, Mira sudah pernah ingin merebut papa kamu dari kakaknya sendiri."


"Namun papa kamu berusaha meyakinkan mama, untuk tidak percaya kepadanya."


"Sampai akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia." Robby menjelaskan betapa liciknya Mira dari dulu.


"Tapi papa tidak pernah mengatakannya kepada ku?"


"Tidak pernah mengatakan hal buruk tentang Tante Mira. Bahkan dulu aku selalu bertanya, mengapa papa tidak ingin menikah dengannya, tapi papa selalu diam saja dan tak memberi jawaban." Maura berkata pada Robby.


Robby hanya diam dan menatap wajah Maura yang sangat manis, Robby sangat mengagumi Maura. Hatinya sudah tertambat pada gadis yang ada di hadapannya, Robby tersadar saat Maura memukul meja karena kesal.


"Maura, ada permasalahan orang tua yang mungkin tak bisa di beri tahukan kepada anaknya."


"Akan sangat fatal bila kau sampai mengetahuinya, mungkin kedekatan kamu dan Mira akan renggang sejak awal."


"Jangan tanya pada ku tentang apa itu, karena aku sendiri juga tidak tahu." Robby pun mencoba membuat Maura tenang dan mengerti akan kesulitan yang Alex rasakan.

__ADS_1


Maura hanya diam saja tanpa bicara lagi, mereka berdua pun mengambil gelas yang berisikan kopi dan meminumnya. Malam itu Robby membawa Maura ke rumah penginapannya yang diberikan oleh Alex untuk di tempatnya. Di rumah Robby ada art yang melayani Maura di sana.


Robby bermaksud akan memberi tahukan kepada Alex bahwa putrinya Maura ada di rumahnya saat ini. Sehingga ketika Alex menyadari putrinya tidak ada di rumahnya, Maura sempat mengigau memanggil Alex dan juga Livia.


"Kasihan Maura yang sangat menginginkan kasih sayang dari seorang mama." dalam hati Robby yang menatap dari ke jauhkan dan menutup pintu kamar Maura.


Alex di Apartemennya...


Dia masih belum tidur, menatap layar ponselnya dan merasakan kehilangannya untuk yang kedua kalinya, di tinggalkan oleh wanita yang benar-benar ia cintai.


"Livia dimana sekarang kau berada?"


"Aku sangat merindukanmu dan juga anak kita, maafkan aku, sebab aku yang membuat mu jadi seperti ini." Alex menatap foto Livia yang ada di dalam ponselnya.


Malam itu Alex tak bisa tidur sampai subuh menjelang dan matahari telah terbit menerangi bumi.


Tring...


Tring...


Ponsel Robby berdering, dengan cepat Robby menjawab ponselnya dan bergegas mandi persiapkan diri dan meluncur ke apartemen Alex. Pagi itu Alex ingin ke kantornya dan berjanji kepada Kevin akan bertemu di kantor. Tadi malam Alex sudah menelpon Kevin untuk menyuruhnya ke kantor Alex besoknya.


Livia akan di cari sampai kemana pun oleh Alex, ia tak ingin membiarkan Livia pergi begitu saja. Atas semua itu, Alex akan membuat perhitungan kepada Mira yang tak akan ia lupakan sampai kapan pun.


Robby sudah ke parkiran apartemen dan tinggal menunggu Alex. Setelah Alex tiba, Robby dengan cepat masuk ke dalam mobil setelah Alex masuk duluan. Mereka dengan cepat melaju ke kantor, Robby pun mengatakan Maura ada di rumahnya. Tak lupa menceritakan kejadian Maura yang pergi ke rumah Mira, Maura menangis bahwa tahu kalau Mira tidak tulus kepadanya dan hanya memanfaatkannya.


Alex yang mendengarkannya sangat lega, ternyata putrinya sudah sadar akan hal itu.


"Sekarang tinggal menunggu hasil dari pencarian Kevin nanti mencari Livia ibu dari anaknya yang masih dalam kandungan." ujarnya dalam hati.

__ADS_1


Maura yang bangun di pukul 08:30 pagi, dia menyadari bahwa ada di rumah Robby. Segera keluar dari kamar dan mencari pria itu, beberapa kali memanggilnya, tapi tak ada jawaban. Malah art nya yang datang menghampiri Maura saat itu, art itu mengatakan pria itu sudah pergi ke kantornya. Dan bosnya yang menelpon agar segera menjemputnya untuk bekerja.


__ADS_2