
Alex sangat keras kepala, bahkan bersikeras untuk tidak mau melakukan dan makan atau meminum obat apa pun sebelum Livia menemuinya di sana. Robby pun segera pergi dari kamar itu, dan langsung meluncur ke kampus Livia. Robby mencari tahu dan mengintai kelas Livia, Robby pun segera mengirim pesan kepada Livia untuk menemui Alex segera di apartemennya.
Livia yang mengetahui akan hal itu merasa cemas dan segera menemui Robby, yang sedang menunggunya di persimpangan di dekat kampusnya tersebut. Robby berada di dalam mobil, ia tidak ingin diketahui identitasnya. Manakala nanti ada teman atau Maura yang melihat, dirinya sedang menunggu Livia di sana.
Livia tuh segera masuk ke dalam mobil Alex yang dikendarai oleh Robby. Robby membuka kunci lock pintu itu agar Livia dapat masuk ke dalam, tanpa basa-basi lagi Robi langsung melajukan mobilnya dengan cepat untuk dapat pergi dari tempat itu segera. Terlihat Livia sangat cemas dan ingin bertanya pada Robby tentang keadaan Alex, namun Livia enggan bertanya ia dapat mengetahui dari kecepatan mobil yang dibawa oleh Robby saat ini.
Robby sangat cepat melajukan mobilnya, agar mereka dapat cepat sampai ke apartemen tersebut dan menemui Alex segera mungkin. Mobil langsung melaju masuk ke parkiran apartemen dengan cepat, Robby membukakan pintu Livia agar dapat keluar dari dalam mobil tersebut, segera menemui Alex di lantai atas apartemen mereka.
Di saat itu Mira melihat Livia dan Robby saat akan menjemput Maura di kampusnya. Mira bermaksud akan menemui Maura untuk mencari Alex papanya bersama dengan Maura. Namun tak disangka Mira melihat Livia yang keluar sendirian dari kampusnya dan masuk ke mobil Alex yang Mira ketahui.
Mira segera menelpon Maura untuk datang ke alamat yang dia share dari pesan lewat ponselnya. Maura pun sangat penasaran, dan segera datang ke alamat yang diberitahukan oleh Mira saat itu juga. Mira dan Naura bertemu di parkiran bawah apartemen tersebut, dengan cepat merah mengajak Maura naik untuk mencari tahu keberadaan Robby dan Livia saat ini.
Sebelum mencari lokasi kamar, mereka bertanya kepada resepsionis apartemen tersebut menanyakan posisi kamar Livia dan Robby. Mira berpikir bahwa Robby dan Livia memiliki hubungan, sehingga ia mengajak Maura untuk mengetahui bahwa sahabatnya itu, memiliki hubungan dengan pengawal pribadi milik papannya.
Mereka pun naik ke atas dan mengetuk kamar yang telah diberi tahu oleh resepsionis. Saat itu Robby yang ada di luar berjaga-jaga, melihat mereka berdua telah berada di depan pintu kamar apartemen milik Alex dan Livia. Dengan cepat Robi segera menarik mereka berdua jauh dari kamar itu, tetapi Mira dan Maura tetap bersikeras menolak tubuh Robby sehingga mereka terus mengetuk dan menekan bel kamar tersebut.
Alex yang berada di dalam kamar sedang beristirahat dengan Livia merasa terganggu, padahal kondisi tubuhnya sudah mulai sedikit membaik karena dirawat oleh Livia dan meminum obat yang diberikan oleh dokter pribadinya. Alex yang tengah tertidur dengan memakai celana pendek pun terbangun, segera dirinya membuka pintu kamar apartemen miliknya.
Maura dan Mira memaksa diri mereka untuk masuk ke dalam apartemen itu, mereka berdua terkejut di saat Alex membuka pintu kamar yang ingin mereka memasuki. Lalu Mira dan Maura pun berfikir ternyata bukan hanya ada Robby dan Livia di apartemen.
__ADS_1
"Mengapa papa ada di apartemen ini juga?!"
"Lalu dimana Livia yang di katakan oleh Tante Mira tadi?!" bertanya dalam hatinya.
"Kenapa ada mas Alex di dalam kamar ini?"
"Jangan-jangan mas Alex dan....?!" Dugaan dalam hati Mira saat ini.
Akhirnya mereka pun mencoba melawan Robby dan menolak tubuh Alex, agar dapat masuk ke dalam kamar apartemen tersebut. Alex tidak dapat mencegah kemauan Maura yang ingin tahu, dan Alex juga berpikir bahwa sudah saatnya Maura mengetahui hubungan dirinya dengan Livia.
Di saat keributan itu terjadi, Livia pun terbangun dan terkejut melihat Maura yang sedang tertidur di atas kasur sekamar dengan papanya. Livia menutupi tubuhnya dengan selimut tebal di sana, Maura dan Mira sangat terkejut melihat kondisi mereka yang sudah tak wajar sama sekali.
"Kau wanita tak tahu malu, plak!" Mira menampar wajah Livia dengan keras.
Plak!
Plak!
"Aku tak pernah menyangka pada mu Livia, kita sudah lama berteman, bahkan saat ini kau sudah ku anggap sebagai saudara ku."
__ADS_1
"Tetapi kau malah bermain di belakang ku dengan menjalin hubungan terlarang dan menjadi perusak antara kita semua."
"Mulai sekarang jangan kau anggap lagi aku sahabat mu dan juga jangan temui aku lagi sampai kapan pun." Maura pergi dari kamar itu di susul oleh Mira yang masih memegang pipinya.
Alex marah pada Robby dan menyalahkannya, karena mereka bisa mengetahui apartemen baru mereka. Alex menutup pintu apartemen itu dengan keras, dirinya pun sangat kesal dengan kejadian ini. Dia menghampiri Livia yang sekarang sedang menangis karena kejadian itu, Livia merasa dirinya sangatlah kejam dan tak berperasaan kepada Maura sahabatnya.
Namun Alex selalu menenangkan hati Livia agar wanita imut itu tak perlu khawatir dengan sikap Maura dan Mira kepadanya. Alex akan terus mencintainya dan bertanggung jawab atas semua yang terjadi, Alex juga gak akan pernah meninggalkan Livia begitu saja.
"Sudah jangan menangis lagi sayang, ada Om Alex yang akan membereskan semuanya."
"Tidak perlu takut atau cemas, semua akan baik-baik saja."
"Om akan tanggung jawab semuanya untuk kamu." ucap Alex dan memeluk tubuh Livia.
Gadis itu pun mempercayai ucapan Alex kepadanya, dan dia menyerahkan kepada Alex tentang urusan Maura karena itu memang urusan keluarganya. Livia hanya orang luar dan sebatas sahabat dengan Maura, tapi hatinya Livia masih merasa sedih walau Alex sudah melakukan semuanya untuk Livia.
****
Mira yang sangat marah kepada Livia karena diam-diam sudah merebut pria incarannya yang sudah lama ingin dia miliki. Namun dirinya kalah dengan gadis belia yang tak selevel dengan dirinya, bahkan bila di bandingkan dari segi mana pun Livia tak pantas untuk bersaing dengan dirinya menurut Mira.
__ADS_1
"Aku akan membuat perhitungan dengan diri mu!"
"Lihat saja nanti kau Livia, dasar perempuan j***ng!" ujarnya dalam hati dengan sangat emosi.