
Starla mengaduk-aduk air teh bercampur dengan madu,sambil cemberut,Icha yang telah bersiap pulang menghampiri sahabatnya yang terlihat murung itu.
"Kenapa?"tanya Icha.
"Biasalah dia kan begitu selalu senang mengerjai ku"
Icha tertawa mendengar penjelasan sahabatnya itu.
"Sebenarnya dia bukan ngerjain elu tapi maksud dia itu biar dia bisa selalu ngelihat elu dari jarak dekat"
"Elu itu kenapa sih ngebelain dia terus,elu ajah lah yang nikah sama dia"
"Yee elu yang udah buka-bukaan sama dia kok gue yang...."Starla langsung membekap mulut Icha agar mengehentikan kata-katanya.
"Bisa nggak elu nggak ngomongin hal itu?"bisik Starla kesal.
Icha hanya mengangguk pelan saja,setelah itu Starla melepaskan bekapannya.
"Aaaa gara-gara elu kerjaan gue jadi tertunda nih,ngelayanin dokter gila belum lagi bagi makan ke pasien bakalan capek dah hari ini"keluhnya.
"Iya dia gila karena elu La hahaha"Icha tertawa puas,tapi Starla malas menanggapinya dia segera mengangkat nampan ber isi air teh tersebut dan keluar dari dapur utama menuju kantor Rigel.
Starla berjalan mengantar teh madu tersebut ke ruangan Rigel,setelah Starla mengetuk pintu dan di titah masuk oleh sang penguasa Starla pun masuk membawa nampan berisi teh madu permintaan sang penguasa rumah sakit ini.
Starla menaruh teh madu tersebut di meja kerja Rigel dengan perlahan agar teh tersebut tidak tumpah seperti tadi.
"Silahkan teh nya Pak"ucap Starla lembut,walau sebenarnya malas bersikap lembut kepada orang yang sangat di bencinya ini.
"Biasakan mulai saat ini bila sedang berdua saja atau di hadapan keluarga kita kau tidak berbahasa formal dengan ku"ucap Rigel tanpa melihat ke arah Starla di tetap fokus pada layar laptopnya.
Starla menghela nafas dalam sebelum menjawab Rigel.
"Iya..."jawab Starla malas.
"Iya apa?"tanya Rigel masih fokus melihat laptop.
"Iya kak Igel"jawabnya malas.
Senyum tipis muncul di wajah Rigel namun Starla tak melihat itu karena dia sudah memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Aku permisi dulu masih harus membagikan makanan pada pasien"
Rigel hanya mengangguk saja Starla pun segera meninggalkan Rigel di ruangannya dan menuju dapur utama.hari ini dirinya masih bertugas di ruangan anak.
Rigel menghentikan tangannya yang sejak tadi sibuk memainkan jemarinya di keyboard laptopnya,menyeruput teh buatan calon istrinya.
"Ini baru buatan mu hihi lucu memang tapi entah kenapa teh buatannya sangat cocok di lidah ku"Rigel tersenyum sambil meminum teh madunya.
Pukul 8 malam.
Starla berjalan menuju mesin absen dekat pintu karyawan,saat itu dirinya berjalan sendirian karena teman-temannya Bayu dan Jono sudah pulang duluan sedangkan dirinya harus pulang agak telat karena menyelesaikan pekerjaannya yang selalu tertunda karena ulah calon suaminya yang selalu memintanya mengantarkan ini dan itu keruangannya.
Kakinya cukup pegal saat ini karena seharian ini dirinya harus bolak-balik keruangan presedir dan bolak-balik dapur utama dan ruang rawat anak.
__ADS_1
Piip.
Bunyi mesin ketika mencocokan nomor sandi dan sidik jari yang Starla masukan.
Starla berjalan menuju pintu karyawan tapi langkahnya terhenti ketika mendengar seseorang memanggilnya.
"Lala mau kemana kau?"tanya Rigel.
"Pulang lah mau kemana lagi?"jawab Starla cuek.
"Ikut dengan ku"pinta Rigel.
"Kemana?"tanya Starla bingung.
"Sudah ikut saja"
"Nggak mau nanti kakak bawa aku ke atap gedung bertingkat lagi"
"Tidak aku tidak akan membawa mu kesana lagi,ikut saja aku sudah menghubungi mas Arif mengatakan padanya kalau kau akan terlambat pulang karena pergi dengan ku"jelas Rigel.
Starla pun akhirnya mengikuti Rigel dia sendiri heran malam ini Rigel tidak di dampingi Ben.
"kemana pak Ben?"tanya Starla saat dia sadar Ben tidak bersama mereka.
"Dia pulang duluan tadi pagi kami bawa mobil masing-masing"
"Oo begitu"
Mereka berdua sekarang berada di area parkir Rigel membukakan pintu untuk Starla dan Starla pun langsung masuk kedalam mobil dan duduk di sisi kemudi,dan Rigel pun berjalan memutar dan membuka pintu bagian sebelahnya dan duduk di depan kemudi.
Sepertinya ini tempat favoritnya.
Tapi hari ini Rigel tak mengajak Starla duduk di meja kemarin Rigel membawanya kesebuah privat room,saat Rigel membuka ruangan tersebut Starla di buat takjub oleh ruangan tersebut.
Karena ruangan tersebut sudah seperti perpustakaan.rak buku yang berjajar rapih dengan kumpulan buku yang tersusun rapih disana,ada meja dan sofa di sana sudah seperti ruang kerja Rigel.
"Woah....di dalam kafe ada ruangan seperti ini?"tanyanya polos.
"Iya ini ruang pribadi ku"jelas Rigel.
Penjelasan yang membuat Starla bingung.
"Ruang pribadi?"Starla memiringkan kepalanya karena bingung.
"Hemmm"Rigel lalu menjatuhkan dirinya di atas sofa dan bersandar disana.
Starla lalu mencoba mengingat kejadian seminggu yang lalu,dia baru ingat Rigel memesan ice cream dan cake disana tapi tak membayar sepersen pun.
Oo tidak jangan-jangan dia??
Starla memghampiri Rigel mendekat padanya.
"Kak apa kakak pemilik kafe ini?"tanya Starla polos.
__ADS_1
Rigel hanya mengangguk dengan mata yang terpejam.
Astaga orang ini ternyata bukan sekedar dokter biasa ya?.
"Rigel..."sapa seorang wanita cantik masuk kedalam ruangan tesebut.
"Hemmm"jawab Rigel hanya seperti itu matanya masih dia pejamkan tak melirik apa lagi melihat ke arah wanita yang baru masuk ke ruangan ini.
Wanita itu duduk di sisi Rigel,dia lalu memijat pundak Rigel dan Rigel langsung menepis tangan wanita tersebut terlihat wajah terkejutnya saat Rigel melakukan itu padanya.
"Ghea perkenalkan"Rigel menghampiri Starla dan merangkul pinggang Starla.
"Ini calon istri ku"ucap Rigel santai.
"Tidak mungkin Rigel sejak kapan kau menjalin hubungan dengan wanita ini?"tanya Ghea kesal.
"Sudah sebulan yang lalu"Rigel berbohong.
Starla hanya diam tepaku karena Rigel memeluk pinggangnya ada sesuatu yang menggangunya sebuah rasa yang belum pernah dia rasakan.
Rigel tiba-tiba mendekatkan wajahnya di leher Starla nafas hangatnya terasa menyentuh kulit putih mulus itu.Starla masih terpaku bahkan dirinya semakin tidak bisa bergerak apa lagi melawan entah kenapa,fikiran dan reaksi tubuhnya sangat bertentangan,fikirannya tak menginginkan itu tapi tubuhnya sepertinya menerima itu hingga dirinya hanya terdiam dengan perlakuan Rigel.
"Bohong kau pasti bohong kan Rigel?"nada bicara Ghea gemetar.
"Tidak Ghea ini semua benar dia betul-betul calon istri ku ya kan sayang?"ucap Rigel lembut di telinga Starla.
Ghea menghentakan sebelah kakinya kerena kesal melihat Rigel bermesraan dengan Starla dia lalu meninggalkan ruangan tersebut,setelah melihat Ghea menghilang dari balik pintu Rigel langsung melepaskan tangannya dari pinggang Starla dan kembali duduk di sofa.
Rigel melihat Starla yang masih berdiri terpaku di tempatnya tadi.
"Kenapa kau berdiri saja duduk lah"ucap Rigel santai membangunkan lamunan Starla.
Starla lalu duduk di sisi Rigel karena disana hanya ada satu sofa.
"Kak wanita itu siapa?"tanya Starla polos.
"Dia Ghea maneger di sini,dia teman SMA ku"jelas Rigel.
"Sepertinya dia mencintai kakak?"tanya Starla polos.
"Ya...begitu lah,dia memang menyukai ku sejak kami masih SMA dulu,tapi aku tak pernah bisa menyukainya entah kenapa?"Rigel bercerita.
"Apa kakak ini pernah periksa ke psikiater?"tanya Starla tiba-tiba hingga membuat Rigel menoleh kepadanya.
Starla melihat reaksi wajah Rigel yang terkejut dengan pertanyaannya.
"Maksud mu?"tanya Rigel tidak suka.
"Begini maksud ku,sebelumnya aku minta maaf bila perkataan ku menyinggung perasaan Kakak,tapi sepertinya kakak itu banyak di sukai oleh wanita cantik yang sekelas dengan kakak tapi kakak tak pernah tertarik dengan salah satu dari mereka,kakak yakin kakak ini pria normal?"tanya Starla ragu.
"Aku normal Lala..."Rigel geram.
Buktinya aku bisa tertarik dengan mu,aku tak tertarik dengan mereka karena bagi ku mereka terlalu biasa untuk ku sedangkan kau kau itu berbeda.
__ADS_1
Andai Rigel bisa mengatakan itu dengan sejujurnya pada Starla mungkin Starla akan beranggapan lain padanya.
Bersambung.