Terpaksa Menikahi Dokter Bucin

Terpaksa Menikahi Dokter Bucin
Ukuran Yang Pas


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Hari ini Icha dinyatakan boleh pulang meski kakinya masih belum bisa berjalan karena masih harus menggunakan tongkat,dia harus banyak istirahat jangan terlalu aktif begitulah yang dokter katakan.


Sekarang Icha bingung ingin pulang kemana karena dia tidak mungkin pulang kerumahnya dengan keadaan seperti ini karena ibunya pasti panik dan cemas,ingin menumpang di rumah Starla dia tidak enak dengan dr. Rigel dia takut mengganggu bila dirumah.


"Ah...aku harus bagaimana ini?"gumamnya di ruang rawat.


Tak lama Ben datang untuk menjemputnya.


"Raisha hayu...kenapa kamu melamun?"Ben mengajak Icha keluar dari ruangan tersebut.


"Dimana alamat rumah mu nanti aku akan mengantar mu"ucap Ben.


"Pak Ben jangan antar saya ke rumah karena mama saya belum tahu keadaan saya,saya tidak ingin buat mama khawatir"ucap Icha tidak seketus biasanya nadanya mulai melunak dan santai.


"Lalu aku harus mengantar mu kemana?"Ben bingung.


"Aku juga nggak tahu Pak kalau ke rumah kakak ku nanti kakak ipar ku pasti mengadu kerumah dan buat mama panik"Icha menggaruk kepalanya di bingung sendiri.


"Bagaimana kalau kau tinggal di rumah ku saja sementara sampai kaki mu itu sembuh"tawar Ben.


Icha langsung menatap Ben sinis.


"Rumah ku besar banyak kamar kosong disana hanya ada beberapa pelayan yang ikut tinggal dengan ku,itu juga kalau kau tidak keberatan"jelas Ben.


"Baiklah pak saya sangat berterima kasih kepada anda karena selama ini anda sangat baik pada saya"Icha jadi tak enak hati pada Ben karena banyak membantunya akhir-akhir ini.


"Apa kau sudah tidak membenci ku?"tanya Ben.


Icha berdecak dan memutar mata malas.


"Sedikit"ucapnya pelan.


"Hemft...jangan terlalu benci karena bisa berubah jadi cinta"ledek Ben.


"Apaan sih anda ini di ajarkan sama Lala dan dr. Rigel ya?"Icha sewot.


"Apa mereka pernah mengatkan hal yang seperti ini?"


"Iya tempo hari"

__ADS_1


"Hehe tak ku sangaka mereka berdua sangat kompak"


Dan Ben pun membantu Icha turun dari kasurnya dan membantunya berjalan menggunakan tongkat sampai ke area parkir,Ben pun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju daerah perumahannya.


"Pak Ben...apa anda masih membenci sahabat saya?"tanya Icha tiba-tiba saat di perjalanan.


"Tidak karena aku sadar dr. Rigel sangat mencintai istrinya"ucap Ben yang fokus menyetir.


"Ooo bagus lah kalau anda sadar,Lala itu wanita baik pak bila anda mengenal dia anda juga bisa jatuh cinta padanya karena kepribadiannya"


Ben hanya tersenyum mendengarkan ucapan Icha.


"Dia memang wanita baik oleh karena itu dr.Rigel sangat mencintainya tapi dia bukan tipe wanita idaman ku"jelas Ben.


"Memangnya wanita seperti apa yang pak Ben suka?hahaha bodohnya aku pasti wanita kelas atas ya...karena itu adalah lingkungan anda hahaha sudah tidak usah di jawab pertanyaan Konyol ku itu"Icha tertawa terpingkal menyadari pertanyaannya sendiri yang memang aneh.


Ben hanya tersenyum saja melihat tingkah laku Icha.


Dan setelah itu mereka pun hanya terdiam hingga sampai tempat tujuan.


Mobil sampai di depan pintu utama rumah Ben,Icha pun turun dari dalam mobil,Ben meminta bantuan para pelayan untuk membawa Icha ke kamar yang ada di bawah karena Icha akan kesulitan berjalan melangkah menaiki tangga karena kakinya masih masa pemulihan.


Seorang pelayan membawa Icha ke sebuah kamar dekat tangga,dan saat memasuki kamar di lihatnya kamar dengan desain interior yang sederhana namun nyaman,cat putih mendominasi warna dinding hingga terlihat sangat terang dan bersih.


"Kalau ada perlu sesuatu panggil saya saja"


"Ooo iya mba terima kasih,mba siapa ya namanya?"tanya Icha.


"Panggil saja saya mbak Ning"


"Ooo iya mbak Ning terima kasih ya mbak"


"Nona calon istrinya tuan Ben ya?"tanya Mbak Ning.


"Hah?!"Icha terkejut. "Bukan mba saya itu..."Icha bingung sendiri menjelaskan statusnya dengan Ben itu apa.


"Ooo nona masih pacaran ya sama tuan muda"


"Hah...itu juga bukan mba...saya itu hanya temannya lebih tepatnya saya bawahannya di rumah sakit"jelas Icha.


"Tapi ini pertama kalinya tuan muda membawa perempuan kesini non saya kira nona calon istrinya"jelas Ning polos.

__ADS_1


"Hahaha nggak mungkin mba saya itu bukan cewe tipenya hahaha"Icha tertawa hambar dirinya sendiri pun bingung kenapa dia tertawa kepada Ning.


"Ya sudah nona istirahat saja dulu ya....non saya kembali ke dapur dahulu masih ada kerjaan"Ning pun meninggalkan Icha sendirian di kamar.


Tak lama Ben muncul di depan pintu,mengatakan dirinya akan pergi sebentar keluar,dan Icha hanya mengangguk saja.


Saat Ben pergi keluar Icha merebahkan dirinya di atas kasur tersebut dan matanya pun terpejam karena rasa kantuk.


Sementara itu Ben berjalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan,hari ini dia meminta izin kepada Rigel untuk tidak bekerja karena mau mengantar Icha pulang,niatnya memulangkan Icha kerumahnya tapi tidak tahunya dia malah membawa Icha ke rumahnya.


Ben berjalan ke sebuah toko baju memilih beberapa baju tidur dan baju santai untuk Icha berganti pakaian,dia hanya memilih tshirt dan celana bahan,dan tak lupa dia pun memilhkan pakaian dalam saat memilih penyangga dada itu dirinya sempat merasa malu sendiri di tambah lagi dirinya tidak mengetahui ukuran Icha hingga dia hanya mingira-ngira saja.


"Semoga yang ini ukurannya pas"Ben mengambil penyangga dada yang berwarna hitam,merah maroon,dan juga pink di gantungan tersebut.


Beberapa SPG yang melihat itu sempat tertawa saat melihat Ben memilih dan mengambil benda yang sangat aneh untuk seorang pria bila membelinya.


"Mungkin itu hadiah untuk istrinya karena dia membeli pakian-pakaian perempuan"bisik salah satu SPG kepada temannya.


"Oooo iya bisa jadi duh...sayang banget ya itu cowo sama istrinya sampe kebagian dalam juga di hafal waw....amazing"


"Ya namanya juga sayang istri ya dia tahu lah pastinya"


Bisik-bisik mereka tak sengaja di dengar oleh Ben hingga Ben hanya berdehem saja dan mereka pun berhenti bergosip.


Ini bukan buat istri ku untungnya aku tak mengajaknya kesini bisa-bisa anak itu buat onar dengan mereka karena mereka bergosip seperti ini,mengingat sikapnya yang tak ada takutnya dengan orang.


Batin Ben mengingat Icha yang selalu membantahnya dan bahkan tak segan beradu argumen dengannya dan bahkan terakhir kali dia hampir di pukul olehnya karena dia membuatnya sangat marah.


Ben selsai berbelanja keperluan untuk Icha dan kembali ke rumahnya dengan mengendarai mobilnya,sesampainya di rumah Ben langsung menuju kamar yang di tempati Icha Ben mengetuk pintu kamar tersebut tapi tak ada jawaban Ben mencoba membuka pintu yang tak dikunci oleh Icha.


Saat Ben masuk dia mendapati Icha sedang tetidur di kasur dengan nyanyaknya,Ben hanya tersenyum saat melihat itu dia lalu menaruh paper bag di nakas dan dia pun meninggalkan memo di samping paper bag tersebut.


Satu jam kemudian Icha terbangun dari tidurnya dia terduduk di atas kasur dengan mata yang masih malas untuk terbuka dia meregangkan otot-ototnya berputar ke kiri dan kekanan saat dia menoleh ke kanan kasur dia melhat sebuah paper bag berdiri disana.


Icha menggeser tubuhnya ke dekat nakas di lihatnya memo yang ada di samping paper bag tersebut.


Semoga ukurannya pas untuk mu.


Begitulah pesan yang di tulis Ben.


Icha membuka paper bag tersebut dan melihat isinya.

__ADS_1


"Hah...apa dia membeli ini juga?oh...astaga bagaimana dia tahu ukuran ku?apa jangan-jangan dia suka memperhatikan bagian ini tanpa aku sadari hingga dia bisa memperkirakan ukurannya astaga...aku tak menyangka otaknya ternyata sama saja seperti laki-laki pada umumnya"gumam Icha.


...♡♡♡♡♡♡♡...


__ADS_2