
Ambulance yang mengantar Prima telah tiba di rumah sakit berikutnya,Prima yang telah sadar dari tidurnya merasa heran.
"Bu...kenapa aku di pindahkan?"tanyanya bingung.
"Hemm biar jarak rumah kita dan rumah sakit ini tidak terlalu jauh sayang"ucap ibu lembut saat mengantar putranya masuk ke dalam rumah sakit dengan brankar,menuju ruang rawat inapnya suster yang mengantar memberikan data kesehatan Prima kepada dokter yang bertugas hari ini.
"Jadi aku tidak bisa ketemu Lala lagi?"tanyanya lirih.
"Sayang lupakan Lala ya..."ucap Ibu lembut.
"Kenapa aku masih di rawat bu?bukannya aku sudah di perbolehkan pulang?"tanyanya lagi.
"selamat sore mas Prima..."sapa seorang dokter yang saat ini menangani Prima.
"Sore bu dokter..."ibu yang menjawab sedangkan Prima terlihat melamun dengan tatapan kosong.
"Pri...di periksa dulu ya sama bu dokter"ucap ibu lembut membelai punggung anak sulungnya ini.
Prima hanya mengangguk saja tak berbicara sama sekali.
Dokter Irma pun memeriksa kondisi Prima,dia sudah membaca data medis Prima yang di katakan amnesia dan hanya mengingat sedikit kenangan,sampai tadi siang kondisi sudah stabil dan sudah di perbolehkan pulang tapi tak lama setelah itu pasien mengalami shock hingga akhirnya harus di rawat lagi dalam beberapa hari lagi.
"Mas Prima apa yang anda rasakan saat ini?"tanya dr. Irma lembut.
Tapi Prima hanya diam saja.
"Pri...dr. Bertanya pada mu nak..."ucap ibu lembut.
Prima melirik ke arah dr. Irma dengan tatapan sinis dan tajam.
"Bisa anda pulang kan saya?saya tidak suka berada di rumah sakit terus"ucap Prima ketus.
Ibu sampai terkejut mendapati anaknya menjadi berubah seperti ini.
"Pri...kok bicaranya begitu sih?"ucap ibu lembut.
"Bisa tidak dok?percuma biar lama-lama di rumah sakit juga saya tetap masih tidak mengingat apa-apa kecuali..."Prima tak meneruskan kata-katanya lagi.
Kenapa harus kamu La yang masih ada di ingatan ku tapi semuanya hilang.
"Bisa tidak?!"bentak Prima.
Ibu sampai terperanjat dirinya benar-benar terkejut karena baru kali ini dirinya mendapati anak sulungnya itu meninggikan suaranya kepada orang lain.
"Pri....Pri...jangan begitu nak"ibu mengelus-elus punggung anaknya mencoba menenangkan.
"Baiklah bila itu yang anda inginkan tapi jangan lupa anda rutin cek up ya"dr. Irma masih berkata lembut.
__ADS_1
Prima mendengus dan membuang wajahnya ke arah lain dia benar-benar malas bertemu dengan orang lain saat ini.
Kenapa dia jadi berubah begini?apa kecewa karena cinta membuatnya jadi seperti ini?
Batin ibu.
Prima pun akhirnya di bawa pulang ke rumahnya,saat sampai di rumah dirinya hanya mengurung diri di kamarnya,Prima melihat bingkai foto yang berada di meja belajarnya itu adalah fotonya bersama Starla saat mereka masih berpacaran dulu.
Prima membelai foto tersebut dan menangis.
"La...kenapa La...kenapa kau sampai hati menghiyanati ku sayang...kau menikah dengan pria lain sebelum kita putus?"di ingatan Prima saat ini mereka masih berpacaran.
"Apa karena dia seorang dokter La...apa karena aku masih mahasiswa hingga kau lebih memilih dia yang sudah mapan?tapi kenapa kau tidak memutuskan hubungan kita dulu La...mungkin bila kita sudah putus rasa sakit di hati ini tak sesakit ini La..."Prima meremas baju di bagian dadanya karena begitu terasa sesak dan sakit mengingat penghiyanatan Lala.
disini dirinya merasa paling tersakiti padahal sebaliknya bila ingatannya tidak hilang dan hanya mengingat tentang Lala saja di masa mereka masih berpacaran.
Adinda mengetuk pintu kamar kakaknya,tapi Prima tak membiarkannya masuk karena dia hanya ingin sendirian diri ya tak ingin di ganggu,dan Dinda pun pergi dari depan pintu kamar Prima.
Sementara di tempat berbeda.
Di sebuah ruang rawat pasien VIP Icha sedang berbicara dengan seorang pria dewasa.
"Cha...mama cemas kamu nggak ada kabar untungnya abang bisa ngubungin Lala,jadi abang tahu kamu lagi di rawat karena kecelakaan kemarin"
Ini Adalah abang Rafki kakak Icha.
"ck...ya udah tapi kasih kabar ke abang ya kalo kamu perlu apa-apa"
"Iya..."jawab Icha santai.
Saat sedang berbicang dengan kakaknya tiba-tiba Ben masuk ke kamar Icha,Icha melihatnya sudah malas.
Ben jadi bertanya-tanya dalam hatinya siaaa pria dewasa yang sedang berada di ruang rawat ini.
"Ya udah abang pulang dulu kasih kabar ke abang ya kalau ada apa-apa"Rafki lalu mengecup pucuk rambut adiknya dan mengacak rambut Icha.
Ben yang melihat itu terlihat tidak suka.
"Ya udah abang hati-hati"ucap Icha lembut.
Rafki pun meninggalkan ruangan Icha dia hanya tersenyum saja saat berpapasan dengan Ben,tapi senyuman itu tidak di balas dengan Ben.
Ben mendekat pada Icha dengan tatapan yang sulit di artikan,Icha pun malas mengartikan tatapan dari Ben dia memalingkan wajahnya dari pria itu.
"Apa itu pacar mu?"Ben akhirnya buka suara juga.
"Bukan itu kakak ku"jawab Icha ketus.
__ADS_1
Icha masih tidak menyukai Ben rasa bencinya masih belum berkurang dengan pria itu.
Ben terlihat lega saat Icha mengatakan itu adalah kakaknya,dia sempat berdikir negatif tadi saat melihat perlakuan Rafki pada Icha.
"Anda mau apa kesini?"tanya Icha masih ketus.
"Aku bawakan jeruk untuk mu,kata dr. Rigel buah yang banyak mengandung vitamin C bagus untuk pasien patah tulang seperti mu" jelasnya.
"Ooo begitu ya sudah terima kasih"jawabnya santai.
"Oia selain jeruk aku juga bawa susu steril ini juga bagus untuk kesembuhan tulang mu"Ben menjelaskan satu jenis barang lagi yang dia bawa.
"Aku taru kulkas ya...biar sejuk"Ben lalu membuka kulkas kecil yang ada di dekat nakas.
"Kenapa anda repot-repot mengurus ku pak Ben?apa anda itu tidak punya anak dan istri yang harus anda urus?"tanya Icha ketus.
"Aku belum menikah Raisha"ucap Ben sambil menaruh jeruk dan susu di kulkas.
"Hehe bohong banget"cibir Icha.
"Betul Raisha aku tidak berbohong"Ben menutup kulkas dan duduk di depan ranjang Icha.
"Pak bisa anda memanggil ku seperti teman-teman ku memanggil ku?"tanya Icha sewot dengan tatapan kesal.
"Kenapa memangnya?bukan kah nama mu indah?"
"Tapi aku sudah terbiasa dengan nama kecil ku itu"ucap Icha kesal.
"Tapi aku lebih suka memanggil mu Raisha biar berbeda dari yang lain"Ben tetap kukuh dengan pendiriannya untuk tetap memanggil Icha dengan nama Raisha.
"Terserah elu dah pak"Icha cuek.
tapi apa bener nih orang belum nikah?
**Icha lalu melirik ke arah Ben.
Ben tersenyum melihat lirikan Icha.
"Kenapa melirik seperti itu?sudah mulai menyukai ku?"ledek Ben.
"Ish...geer banget sih lu..."Icha langsung membuang wajahnya ke arah lain.
Ben hanya tertawa kecil melihat tingakah laku gadis ini yang memang sangat berbeda dari gadis yang sering ia temui**.
Aku sendiri pun bingung dengan perasaan ku kenapa aku jadi begitu peduli dengan mu Raisha.
...♡♡♡♡♡♡♡♡...
__ADS_1