
Icha keluar dari kamarnya dan celingukan mencari keberadaan Ben,dia ingin menanyakan bagaimana dia bisa tahu ukuran pakaian dalamnya.
Saat Icha sedang berjalan sambil tertatih akhirnya dia menemukan Ben sedang menatap layar laptopnya di bangku dekat taman.
Icha dengan susah payah mendekat pada Ben,Ben yang merasa ada yang mendekat padanya langsung menoleh ke arah Icha yang sedang tertatih berjalan ke arahnya.
"Ada apa?"tanya Ben santai bahkan dia menyeruput kopinya saat Icha mendekat.
"Bagaimana anda tahu ukuran ku?!"Icha langsung to the point.
"Apa ukurannya pas?"Ben masih santai.
"Bukan begitu maksud ku,apa diam-diam kau suka melihat ke arah situ hingga kau tahu ukuran ku?"Icha kesal.
"Hemft...Raisha aku ini laki-laki normal sesuatu yang tak sengaja ku pandang saat bertemu dengan wanita ya bisa aku kira-kira ukurannya"
Icha melongo saat denga santainya Ben berkata seperti itu.
"Apa setiap laki-laki memiliki fikiran seperti itu?"dengan polosnya Icha menanyakan itu.
Dan Ben hanya mengangguk saja santai.
"Astaga...pantes ajah bapak doyan kawin mungkin bapak penasaran dengan bentuk wanita yang satu itu?"gumamnya.
Gumaman Icha tersengar jelas di telinga Ben.
"Bapak mu tukang kawin?"tanyanya penasaran.
"Hemm iya...mangkanya tempo hari aku kabur dari rumah karena habis bertengkar dengan dia,soalnya dia nikah lagi sama perempuan se usia ku"dengan malas akhirnya Icha menceritakannya pada Ben.
"Ap...apa?!"Ben terkejut.
"Udah biasa ajah kali reaksinya,bukannya semua laki-laki itu ya sama ajah ya...nggak bisa lihat yang bening dan muda apa lagi di tambah body seksi ya maunya juga di makan"ucapnya asal.
"Hei.....nggak semua laki-laki itu seperti itu Raisha contohnya dr.Rigel dan aku kami tipe laki-laki yang tidak mudah jatuh cinta,bila memandang body wanita bagi kami itu hanya hal yang biasa tapi bukan berarti hati kami bisa di miliki setiap wanita"
__ADS_1
"Ck...hah...iya anda benar juga contohnya bapaknya Lala beliau sangat setia bahkan saat ibu Lala meninggal bapaknya Lala tak mau menikah lagi"Icha berbicara dan menatap taman di depannya.
"Tuh...kan benar kan?tidak semua laki-laki itu mata keranjang"
Icha tersenyum saat mendengar ucapan Ben,Ben tertegun saat melihat senyuman Icha baru kali ini Ben melihat Senyuman dari gadis tomboy itu.
"Manisnya"Ben keceplosan.
"Heh...kenapa pak Ben?apa kopi anda kemanisan?"Icha sama sekali tak menyadari ucapan Ben tertuju kepadanya.
"Eh...Iya sepertinya gula yang di tambahkan ke kopi ini cukup banyak"Ben mengalihkan pandangannya dari Icha.
Dan Icha tak menghiraukan itu,dia memilih kembali lagi kedalam kamarnya.
Satu minggu kemudian.
Prima tetap harus cek up dan menjalani terapi di rumah sakit lain,dan sedikit demi sedikit dengan pengobatan rutin dirinya mulai mengingat kenangan-kenangan masa lalu,perlahan tapi pasti dia melihat bayangan Lala,dia melihat bayangan Tina dan kenangan yang lain.
Saat ini Prima sedang berada di kamarnya merenung sendirian di atas kasurnya.
"Aw...sesseeehhh kepala ku sakit lagi bila aku memaksakan mengingat masa lalu yang aku lupakan"Prima memegang kepalanya.
Tok...tok...
"Kak...boleh ibu masuk?"terdengar suara ibunya dari balik pintu.
Prima pun bangkit dari kasurnya dan membukakan pintu kamarnya,terlihat ibunya di balik pintu.
"Ada apa bu?"tanyanya sambil berjalan kembali ke kasurnya ibu mengikutinya dan duduk di sisi kasur.
"Apa kepala mu sakit lagi?"tanya ibu lembut.
"Hem..."Prima hanya mengangguk.
"Jangan di paksakan nanti juga ingatan mu kembali perlahan"ibu mengelus punggung anaknya dengan lembut.
__ADS_1
"Bu...saat ini di fikiran ku bukan hanya bayangan Lala saja yang muncul tapi bayangan Tina juga ikut muncul"Prima bercerita dengan ibunya.
"Kak...ibu tidak tahu perihal hubungan mu dengan Tina karena kamu tak pernah membawanya dan memperkenalkannya kepada kami di rumah,tapi kaya Andinda kau pun berpacaran dengan Tina dan kau rela memutuskan Lala demi Tina,tapi kau menyesal sendiri akhirnya"jelas ibu.
"Benarkah bu?jadi sebenarnya aku sudah putus dengan Lala?"
"Iya...kalian sudah putus beberapa bulan yang lalu sebelum Lala menikah dengan dr. Rigel"
"Jadi sebenarnya aku yang menyakiti Lala bu?"
"Iya...kau sudah menyakiti hatinya yang tulus,tapi ibu tidak menyalahkan mu sepenuhnya karena kemungkinan kalian itu memang tidak berjodoh dan memang jalan kalian memang harus seperti ini nak"
Prima terlihat merenung.
"Jangan di paksakan untuk mengingat,tapi bila ingatan mu sudah kembali ibu saran kan kau harus meminta maaf kepada Lala dan relakan dia bahagia dengan suaminya"
Prima pun hanya mengangguk saja menuyetujui perkataan ibunya.
Ibu pun pergi keluar kamar Prima,kemudian Prima duduk di depan meja belajarnya dan entah kenapa dia ingin sekali membuka laci di meja tersebut dia melihat di sana ada buku hariannya.
"Ah...ini apa?"Prima pun membuka dan membaca buku tersebut.
Terdapat tanggal dan tahun yang dia tulis sendiri,tentang pertemuannya dengan Lala,hari jadian mereka dan hari ulang tahun Lala bahkan hari saat Prima membuat tatoo di tangannya itu semua wujud cintanya kepada Lala.
Namun di pertengahan halaman Prima menemukan nama Tina yang mendekatinya,Tina adalah teman semasa SMA Lala dia cantik dan modis berbeda dengan Lala,Lala memang cantik namun tidak pandai berdandan tidak seperti Tina di tambah lagi Lala jarang ada waktu bersama Prima untuk menghabiskan akhir pekan,sejak mengenal Tina dan dekat dengan Tina Prima jadi lebih sering menghabiskan waktu dengan Tina dari pada dengan Lala.
Berbeda dengan Lala yang tak pernah di sentuh olehnya,Tina malah lebih berani karena Tinalah yang mencium pipi bahkan bibirnya lebih dahulu sensasi yang tak pernah dia alami saat bersama Lala.
Sampai akhirnya Prima membaca saat dirinya memutuskan hubungannya dengan Lala dan memilih Tina,tapi berakhir penyesalan ketika dirinya sempat bertemu dengan Lala dan Rigel di sebuah kafe,Prima seolah tak rela Lala bersama dengan Pria lain apa lagi melihat pria itu tampan dan kaya,hatinya menyesal memutuskan Lala dan ingin kembali kepadanya.
Air mata Prima luruh seketika saat mengetahui perbuatannya sendiri yang dia tuliskan di buku hariannya,setiap momen manisnya bersama Lala dia tuangkan ke dalam tulisan di buku itu,bahkan momen pahitnya pun ia tuliskan disana.
"Maafin aku La...aku memang nggak pantas untuk kamu,kamu terlalu baik untuk pria brengsek seperti aku,aku harap kau berbahagia dengan suami mu itu,bila kau tak bahagia dengannya maka aku akan merebut mu kembali dari tangannya"
"Tina...iya ini semua karena wanita itu dia jahat dia telah memberikan pengaruh buruk untuk ku hingga aku jatuh ke pelukannya,aku akan buat perhitungan dengannya nanti,sebab karena dia aku jadi memutuskan hubungan ku dengan wanita yang paling aku cintai"Prima mengepalkan tangannya karena kesal mengetahui tentang Tina.
__ADS_1
...♡♡♡♡♡♡...