
Ayra kembali ke apartemen dengan begitu lesu. Ia berpikir ulang tentang hidupnya. Ayra tahu jika dia akan selalu kalah dengan eksistensi Kinara. Selagi nama Kinara masih digaungkan, Ayra tak kan pernah bisa merebut hati Karel.
Namun ia berkeinginan sebelum Tuhan menjemputnya, Ayra ingin sebentar saja Karel dapat mencintainya. Jadi ia sekali lagi akan berusaha untuk membuat pria itu mengingat semua kenangan di antara mereka sebelumnya.
Suara pintu kamar yang terbuka membuat Ayra menatap ke sana. Terlihat Er yang memasuki kamar dengan raut wajah tak enak di pandang. Mungkin pria itu sedang banyak pekerjaan, atau mungkin juga sedang bermasalah dengan Kinara.
Ayra mencoba untuk tersenyum manis. Ia membuat tubuhnya menjadi berdiri menatap Er dengan memperlihatkan senyum manisnya.
"Selamat malam, Kak Er," sapa Ayra. Namun Er masih saja seperti kulkas beku. Er hanya melirik sekilas tanpa menjawab sapaan sang istri.
"Kak Er mau mandi? Aku siapkan air hangat ya?" tawar Ayra. Er hanya mengangguk tak bersuara.
Sikap dingin Er yang tak pernah berubah membuat Ayra begitu sedih. Namun ketika Er tak menolak tawaran Ayra, membuat Ayra memiliki sebuah harapan jika suatu hari nanti Er pasti akan mengingat dirinya lagi.
Setelah mandi, Er langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Pria itu memutuskan untuk memejamkan matanya. Namun ia mendengar suara Ayra yang memanggilnya.
"Kak Er, apa Kau sudah tidur?" tanya Ayra menatap Er dari tempatnya. Er tak membuka matanya. Ia tidak ingin meladeni Ayra. Jadi ia memutuskan untuk membiarkan Ayra berbicara sepuasnya.
"Aku merindukanmu kak. Aku merindukan tentang semua ucapan mu yang berkata akan selalu menjagaku. Apa Kau ingat ketika dulu kita sering bermain bersama. Kak Er berjanji padaku akan menikahiku dan akan membuat ku bahagia." Ayra terkekeh mengingat semua kenangan kecilnya. Ayra mengira jika saat ini Er sudah terlelap.
Sementara Er yang mendengar ucapan Ayra mengerutkan keningnya. Ia ingat ketika waktu kecil memang pernah berjanji akan menikahi seorang gadis kecil dan itu bukanlah Ayra, melainkan Kinara.
Er menjadi bingung dengan semuanya. Namun ia tetap mengabaikan celotehan Ayra.
Entah sampai jam berapa Ayra terus saja berceloteh. Tak terasa kini sudah sangat larut. Ayra memutuskan untuk memejamkan matanya. Ia merasa lega, setidaknya ia telah mengatakan apa yang ada di dalam hatinya selama ini.
***
Pagi harinya.
__ADS_1
Ayra kembali memasak untuk Er. Kali ini ia memasak makanan kesukaan Er sejak kecil.
Senyum Ayra terbit kala menatap masakan yang sudah tertata rapi di meja makan.
"Apa Kamu melihat dasi yang sering ku pakai?"
Suara Er membuat Ayra yang sedang sibuk langsung mencari sumber suara. Ia mendapati Er yang sudah memakai kemejanya.
Dia sudah terlihat wangi, tampan seperti biasanya. Ayra sangat menyukai Er yang seperti ini, walaupun pria itu tak perduli.
"Sebentar."
Dengan cepat Ayra segera melangkah ke kamar. Sementara Er mengikutinya dari belakang.
Ayra dengan cekatan mencari ke setiap laci lemari untuk mencari dasi yang di maksudkan suaminya. Dasi itu adalah dasi pemberian Kinara, kekasih kesayangan Er.
Dan Ayra seharusnya tak perlu meratapi hal ini. Pasangan itu memang terlihat begitu mencintai. Dan dia seolah menjadi seorang impostor.
Ayra masih mencari dimana dasi yang suaminya maksudkan. Dasi yang sering Er gunakan. Ketika kotor langsung di cuci dan di setrika kemudian Er gunakan kembali.
Er seolah tak membutuhkan dirinya. Ayra tahu jika semenjak Dia dan Er menikah, Kinara memutuskan hubungannya dengan Er. Namun sekarang Ayra merasa jika sekarang mereka kembali berhubungan walaupun Ayra tidak mau berspekulasi lebih lanjut. Rasanya terlalu menyakitkan untuk di pikirkan.
Ayra masih mengingat-ingat di mana saja Er menyimpan dasi keramat tersebut. Padahal pria itu tak mau melepaskannya.
Jika tak memakainya dunia seolah berhenti berputar. Gravitasi bumi yang terbalik, bahkan bintang pun seolah rontok dari langit.
"Ini dia," seru Ayra riang. Wanita itu tersenyum, menunjukkan dasi yang sejak tadi di cari oleh suaminya.
Mata Er mendadak langsung cerah dari sebelumnya. Sebelumnya ia terlihat begitu suram ketika melihat benda kesayangannya tidak hilang.
__ADS_1
Er langsung mengambil dasi tersebut, kemudian memakainya dengan bangga. Apapun yang berhubungan dengan Kinara, dia begitu bersemangat. Namun tidak dengan pemberian Ayra.
Ayra pernah membeli juga dasi bermotif berwarna coklat pada sang suami. Tapi dia tahu jika Er samasekali tak pernah memakainya. Pemberiannya memang tidak pernah berarti apa-apa untuk Er.
Ayra kembali berkutat di dapur untuk menutupi perasaannya yang begitu sesak, dan tidak ada seorang pun yang tahu.
Membuat kopi, dan sarapan yang begitu enaknya. Dan berakhir tak di sentuh samasekali.
"Aku sudah buat sarapan, apa Kau mau makan?" tawar Ayra. Namun Er lebih suka makan di luar daripada menghabiskan makanan yang di masak oleh Ayra.
"Tidak usah." jawab pria itu dingin.
Er menarik tas kerjanya dan langsung berangkat ke kantornya. Meninggalkan Ayra yang hanya tersenyum pahit dan harus begitu bersabar dengan semua sikap dingin suaminya.
Ayra berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak terlalu memikirkan sikap dingin suaminya, tapi entah kenapa dia selalu saja terbawa perasaan. Hingga sebutir bening pun lolos dari pelupuk matanya.
Ayra tersenyum seraya menatapi makanan yang selalu saja tak pernah Er sentuh.
"Aku sudah menyiapkan hatiku untuk hal seperti ini. Tapi tetap saja rasanya begitu menyakitkan?" tanya Ayra pada dirinya sendiri. Ia teringat akan kenangannya kembali ketika masih bersama Er. Apalagi dengan Er dewasa yang waktu itu terlihat malu-malu padanya.
"Sisa berapa bulan lagi jangka waktu pernikahan ini? Rasanya Aku hampir amnesia," Ayra terkekeh. "Semoga saja Tuhan memberiku kesempatan umur yang lebih panjang lagi," gumamnya.
Ayra membuka sebuah benda yang tak ada seorangpun yang tahu. Yaitu sebuah jurnal, catatan sepanjang dirinya mengenal Er. Saat pertama kali bertemu, saat mereka saling mengetahui nama satu sama lain. Bahkan janji yang pernah Er katakan padanya. Semuanya Ayra catat dalam jurnal tersebut.
Ayra membuat play list khusus untuk dirinya sendiri.
"Lima belas tahun lebih, bahkan hampir dua dekade. Mungkin jika perasaan ini di pakai untuk mencicil rumah, Aku sudah mempunyai rumah sendiri sekarang," Ayra terkekeh melihat apa yang ia tulis. Dia berusaha untuk tersenyum walaupun hatinya begitu pilu.
"Apa Aku harus jadi Kinara dulu agar Kau bisa melihat semua pengorbanan ku padamu?"
__ADS_1
Ayra kembali menuliskan Apa yang ingin dia tulis sesuai apa yang ia rasakan saat ini.
Bersambung...