Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama

Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama
Bab 14


__ADS_3

Tiba-tiba kecemasan melanda hati Er. Dia segera berjingkat untuk mencari Aira ke tempat semalam dia menurunkannya di pinggir jalan.


Mobilnya melaju cepat menembus jalanan di pagi hari.


Karel tidak mengerti mengapa tiba-tiba ia memiliki rasa khawatir kepada Ayra. Sepertinya sudah ada yang salah dengan hatinya.


Tiba di tempat ia menurunkan Ayra semalam, Karel turun dan mulai mencari ke sekitar jalan tersebut. Ternyata jalanan tersebut termasuk jalan yang sepi. Kecemasannya semakin menjadi mengetahui hal itu.


"Kemana gadis itu?" gumamnya. Karel kembali ke dalam mobilnya dan melajukannya pelan. Karel melihat ke sekitar barangkali melihat Ayra.


***


Kedua mata Ayra yang cukup lama terpejam kini akhirnya terbuka. Ia mendapati dirinya di sebuah kamar yang cukup luas. Ia mengenal kamar tersebut.


Cahaya lampu yang menyorotinya dari atas membuat kedua matanya silau, hingga perlu beberapa waktu untuk wanita itu menyesuaikan pandangan matanya yang buram.


Cklek


Pintu pun terbuka. Sosok tampan yang baru saja masuk itu menarik sudut bibirnya. Ayra pun membalas senyuman Arkan.


"Kau sudah bangun, Ra?"


"Iya, Kak Ar. Maaf sudah merepotkan kakak. Arkan menggeleng.


"Tidak, ini bukan hal yang merepotkan ku. Aku tidak pernah merasa Kau repot kan, Ra." Arkan mulai duduk di sebelah Ayra.


Keduanya sejenak saling terdiam. Dalam benak Arkan ingin sekali bertanya tentang penyakit Ayra. Dia tidak bisa melihat Ayra seperti ini. Dia terlalu perduli dengan gadis ini.


"Ra." Arkan menatap kedalam manik hitam Ayra yang kini juga membalas tatapannya.


"Iya, kenapa Kak Ar?"


Tadinya Arkan ingin membahas tentang penyakit Ayra. Namun ia mengurungkannya. Biarlah Ayra mengira jika dirinya tidak mengetahui tentang kondisinya. Yang terpenting sekarang adalah Arkan akan berusaha untuk melindungi Ayra. Diam-diam dia sudah berkonsultasi dengan dokter khusus yang menangani penyakit tersebut.

__ADS_1


"Aku sudah membuatkan sarapan untuk mu. Ayo kita makan bersama," ajak Arkan.


Namun Ayra teringat jika dia belum memasak untuk suaminya. Yah, walaupun masakkanya tak pernah di sentuh oleh Karel. Tapi setidaknya Ayra sudah menjadi istri yang baik untuk suaminya.


"Tapi kak Ar, sepertinya Aku harus segera ke apartemen sebelah. Aku harus menyelesaikan pekerjaan ku di sana," tolak Ayra. Namun Arkan tak pantang menyerah.


"Ra, Kau itu semalam habis pingsan. Dan Kau memaksakan diri untuk bekerja? Tidak! Aku tidak akan pernah mengizinkannya."


"Tapi Kak, Aku sudah berjanji akan membersihkan apartemen sebelah hari ini. Pasti pemiliknya akan marah nanti."


Arkan sadar sepertinya akan sulit untuk melawan keras kepala Ayra. Jadi terpaksa ia mengiyakannya.


"Baiklah, tapi Kau harus mengisi perut mu lebih dulu. Kalau tidak begitu, maka Aku tidak akan pernah membiarkan mu keluar dari apartemen ku." Arkan memberikan penekanan agar Ayra mau sarapan.


Ayra menghembuskan nafasnya sejenak. Ia pun mengangguk menyetujuinya.


Arkan membantu Ayra untuk berdiri.


"Jangan membantah. Aku tidak ingin Kau pingsan lagi seperti semalam."


Akhirnya Ayra membiarkan Arkan untuk menuntunnya menuju ke meja makan. Namun bukan dengan memapahnya karena Ayra menolaknya. Ia menggandeng tangan Ayra seolah Ayra seorang anak yang mudah sekali hilang. Jadi ia menggenggamnya erat.


"Makanlah, walaupun tak seenak masakkanmu, tapi setidaknya masakanku tak beracun," kelakar Arkan membuat Ayra terkekeh.


"Kalau kak Ar sampai meracuniku dan mati, selamanya Aku akan menghantui Kak Ar hingga kakak bosan dengan ku." Ayra membahas kelakar Arkan.


Arkan terdiam. Mendengar ucapan Ayra yang mengatakan mati, membuat dirinya teringat dengan penyakit Ayra.


"Sudah, sekarang makanlah sarapan mu. Kau membutuhkan banyak asupan gizi." ucapnya. Keduanya mulai memakan sarapannya.


***


Ayra segera memasuki apartemen milik Karel. Ia takut Er akan marah besar padanya karena dia tak pulang semalaman.

__ADS_1


Namun Ayra kembali berpikir. Mana mungkin Er akan merasa khawatir padanya? Ayra tahu jika yang ada di hati Er hanyalah Kinara dan Kinara.


Ayra tak ingin memikirkan hal lainnya lagi. Ia segera memasuki kamarnya dan Er. Walaupun mereka tak pernah tidur satu ranjang. Tapi Ayra masih tidur di kamar tersebut. Yakni di sofa kamar itu.


Ayra tak mendapati Er di sana. Gadis itu mengernyitkan dahinya. Lalu iapun tersenyum kecut menyadari sesuatu.


"Tentu saja dia tidak ada. Pasti Kak Er sudah berada di apartemen Kinara saat ini." gumam Ayra menahan sesak.


Tak ingin terlarut dalam sesak yang menggerogoti hatinya, Ayra memutuskan untuk ke dapur. Ayra merasa haus, ia memutuskan untuk mengambil minum di sana. Namun baru beberapa tegukan saja, Ayra terkejut saat tiba-tiba Er menerobos masuk kedalam dapur.


Er menatapnya sejenak. Tatapan Er begitu sulit untuk diartikan. Pria itu lantas langsung berjalan menghampirinya dan menariknya. Tampak sekali Er begitu marah saat ini.


"Kau! Darimana saja Kau huh?! Apa Kamu mau menjadi perempuan murahan karena tidak pulang semalaman?!" bentak Er.


Ayra mematung sesaat. Ia masih belum dapat mencerna ucapan Er yang seolah menelanjangi. Namun beberapa detik kemudian Ayra tersadar dari hendak mendorong tubuh Er. Namun naasnya dia malah terpeleset dan menarik kerah baju Er sehingga mereka terjatuh dengan posisi Er berada di atas tubuh Ayra.


Er berusaha untuk tidak menimpa tubuh Ayra dengan menopang tubuhnya dengan menumpukan tangannya. Mata mereka saling menatap. Hening untuk beberapa saat. Entah mengapa Er seolah tercekat dengan tatapan mata Ayra yang begitu dekat.


Manik mata hitam itu bergerak seperti sedang menggodanya. Bahkan dapat Er lihat bibir Ayra yang mungil begitu terlihat begitu menggiurkan menurutnya. Satu kata yang ada dalam hatinya untuk menatap wajah Ayra saat ini. Yaitu, cantik.


***


Di sisi lainnya.


Kinara memutuskan untuk pergi ke apartemen Er membawakan sarapan untuk kekasihnya. Ia akan menunjukkan kepada Ayra jika dirinyalah ratu di hati Er.


Wanita itu segera berjalan menuju parkiran dan melajukan mobilnya untuk menuju ke apartemen kekasihnya. Dia sudah membayangkan bagaimana ekspresi Ayra nanti.


Kinara sejujurnya tahu bagaimana perasaan Ayra terhadap kekasihnya, Er. Ia juga tahu seberapa kuatnya perasaan Er terhadap Ayra. Namun dirinya adalah gadis yang begitu egois. Kinara begitu terobsesi dengan Er hingga mampu melakukan apapun demi mendapatkan pria itu. Bahkan Kinara sempat berbuat jahat kepada saudaranya sendiri hanya karena saudaranya mengagumi Er.


"Wanita manapun tidak akan Aku biarkan untuk mendekati Karel. Dia hanya milikku dan akan terus begitu. Dan Kau Ayra, Kau tidak akan pernah mendapatkan Karel. Aku akan membuat Karel sedikitpun melirik mu! Lihatlah apa yang akan kulakukan nanti." ucap Kinara tersenyum miring. Ia sudah membayangkan bagaimana rencananya nanti akan berhasil. Akan ia pastikan jika Ayra akan pergi selamanya dari hidup Karel.


***

__ADS_1


__ADS_2