
"Kak, Aku sudah selesai membuat makan malam. Aku ke kamar dulu ya? Sebaiknya Kak Er segera mandi dan makan," ucap Ayra dan segera melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
"Ay, Apa Kau tidak ingin menemani ku makan malam? Mungkin ini malam terakhir kita makan malam bersama. Karena bukankah lusa Kau sudah ke luar kota?" ucap Er akhirnya.
Ayra menghentikan langkahnya. Namun dia masih enggan untuk membalikkan tubuhnya.
"Lusa Aku juga mau ke luar kota bersama Kinara. Jadi Aku ingin malam ini kita bisa makan malam bersama."
'Untuk apa tadi dia terus meminta ku untuk tidak pergi bersama Kak Ar? Sementara dirinya, bahkan dirinya juga akan pergi bersama Nara.' Ayra tersenyum penuh ironi.
"Baiklah jika itu mau Kak Er. Aku akan menemani Kak Er makan malam." ucap Ayra tanpa menoleh. Kemudian dia melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya.
***
Sedari tadi Er terus saja menatap Ayra ketika makan malam. Namun yang di tatap tak sedikitpun menatapnya balik. Tak seperti biasanya menurut Er. Dan semua itu membuat Er merasa seperti kehilangan sesuatu.
Biasanya sang istri terlihat begitu malu-malu. Dan Er sangat suka melihatnya.
"Ay, apa nanti kau akan menginap di hotel bersama bosmu?" tanya Er memecah keheningan.
"Mungkin," jawab Ayra singkat. "Eumm... Lalu bagaimana dengan Kak Er. Apakah nanti Kak Er dan Nara akan menginap di hotel juga?"
__ADS_1
"Aku belum tahu."
"Kak, aku ingin tanya sesuatu kepada Kak Er," ucap Ayra.
"Apa yang ingin kamu tanyakan Ay? Pasti aku akan menjawabnya." Er begitu antusias. Sang istri mulai mengajaknya mengobrol.
"Apa Kak Er tidak pernah sedikitpun memiliki rasa cinta untuk ku?"
Er bingung mau menjawab apa. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti ini, Ay?"
Ayra menghela nafasnya. "Aku hanya ingin ketika aku pergi nanti, aku bisa merasa tenang. Jika Kak Er tidak pernah memiliki perasaan apapun padaku, mungkin tidak ada lagi alasan yang membuatku menetap dan tinggal di sisi Kak Er," ucap Ayra.
Er tercenung mendengar kata-kata dari sang istri. "Apa maksudmu Ay? Apa kau berniat untuk meninggalkan ku?"
Er semakin di buat bingung dengan perkataan Ayra yang menurutnya begitu ambigu.
Saat ini Ayra menatapnya dan tersenyum begitu manis. Tiba-tiba Er seperti merasa kepalanya begitu pusing. Seperti terdapat beberapa klise dalam benaknya saat ini.
Seolah senyuman manis Ayra berada dalam potongan-potongan klise tersebut. Pria itu lalu memegangi kepalanya merasakan ngilu di kepalanya.
"Akhhh...! " Er berteriak memegangi kepalanya. Sontak membuat Ayra langsung berlari dari tempatnya menghampiri Er. Gadis itu di buat panik ketika Er mengerang kesakitan.
__ADS_1
"Kak Er, kau kenapa?" tanya Ayra panik.
Sepersekian detik kemudian, Er akhirnya tak sadarkan diri. Ayra semakin panik saat ini. Hingga ia tak tahu harus berbuat apa.
Gadis itu berlari untuk mencari minyak angin. Setelah mendapatkannya, Ayra langsung menaruhnya di depan hidung suaminya.
"Ayo sadar Kak... Sebenarnya kamu ini kenapa?" Mata Ayra sudah menganak sungai dan bendungan air matanya langsung roboh seketika saat Karel tak kunjung sadar.
Ayra segera meraih ponselnya yang nampak di atas meja. Dia hendak menghubungi ambulans sebelum akhirnya suaminya memanggilnya dengan suara yang begitu lirih.
"Ay... Ayra...."
Ayra kembali meletakkan ponselnya dan fokusnya kembali pada sang suami.
"Kak Er kenapa? Jangan buat Ayra takut dong Kak." Tangis Ayra semakin pecah.
Er yang saat ini masih tergeletak di lantai pun langsung meraih tangan sang istri dan mengecupnya pelan. Kemudian menarik Ayra hingga ikut berbaring di sana dan memeluknya erat.
"Aku rindu Kamu, Ay." Er semakin mengeratkan pelukannya. Perlahan tangis Ayra pun semakin mereda.
"Kak, Ayo bangun dulu. Masa iya kita pelukan di lantai begini. Nanti kalau masuk angin gimana?" pertanyaan polos Ayra sontak ingin membuat Er tertawa. Namun tubuh pria itu masih sedikit lemah.
__ADS_1
"Aku rela masuk angin asalkan sama Kamu," ucap Er. Dia terus mengecup rambut Ayra dengan lembut.