
Pria bernama Deni menyodorkan tangannya kepada Er dengan menampilkan senyumnya.
Sebisa mungkin Er tetap tersenyum ramah dan membalas jabatan tangannya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kenapa sepertinya kita pernah bertemu ya, Tuan?" ucap pria bernama Deni tersebut.
Er hanya tersenyum simpul.
"Apa Anda teman Kinara?" tanya Deni.
Er mengangguk. "Saya kekasihnya," jawab Er. "Jadi bagaimana Anda bisa mengenal Kinara, Tuan Deni?" tanya balik Er.
"Dia adalah teman kuliahku dulu, Tuan."
"Oh, jadi Anda adalah teman calon istri Saya." Er manggut-manggut. Namun rahang Deni tampak mengeras kala Er berkata jika Kinara adalah calon istrinya. Dan semua itu tak luput dari perhatian Er. Dia puas melihat Deni terlihat kesal.
"Wah sepertinya kalian sudah saling mengenal. Ini akan menjadi sangat bagus kalau begitu," ucap Tuan Robert antusias.
Mereka semua tersenyum. Namun Er tahu jika Deni sedang tersenyum palsu saat ini.
Er sengaja memancingnya, dan sepertinya berhasil. Er tidak akan pernah membiarkan Deni dan Kinara menghancurkan apa yang sudah ia bangun selama ini.
__ADS_1
Musuh telah menabuh genderang perang, maka Er akan menghadapinya. Tidak ada kata mundur dari Er dalam menghadapi para musuh dalam selimutnya.
***
Di kantor Arkan.
Jam makan siang Ayra menuju kantin bersama teman barunya yang bernama Mita.
Mita adalah seseorang yang sudah lama menyukai Arkan. Tapi melihat kedekatan Ayra dan juga Arkan, membuat Mita berpikir jika Ayra adalah kekasih bos-nya.
"Ra, kenapa pagi ini Kau tidak berangkat bersama pak Arkan? Bukankah setiap pagi Kalian selalu bersama? Apa hubungan kalian sedang tidak baik-baik saja?" tanya Mita tepat berada di belakang telinga Ayra.
"Aku dan pak Arkan baik-baik saja kok. Kami masih berteman seperti biasanya," ucap Ayra.
"Hah, pacaran?" Ayra mengernyit heran. Mita menganggukkan kepalanya.
"Ngaco kamu. Mana ada pacaran. Kami itu hanya berteman saja, Mita. Lagipula juga Aku sudah punya Suami."
Mita terkejut, begitu juga dengan para karyawan lain yang menguping pembicaraan mereka.
"Apa? Jadi Kamu sudah menikah?" tanya Mita dan karyawan lainnya serempak.
__ADS_1
Ayra tersenyum mengangguk.
"Gadis semanis Kamu sudah menikah? Kami kira kamu dan pak Arkan punya hubungan spesial, ternyata kami salah." Mita tampak sumringah.
"Kami hanya berteman, kebetulan kemarin kami bertetangga. Dan suamiku juga bekerjasama dengan pak Arkan." jelas Ayra. Mereka tampak manggut-manggut mendengarnya.
Melihat ekspresi Mita yang saat ini tampak senyum-senyum sendiri membuat Ayra mengernyit.
"Kau suka sama pak Arkan ya?" tuduh Ayra yang langsung di tanggapi dengan cengiran oleh Mita.
"Tapi sepertinya pacar pak Arkan banyak. Aku jadi minder."
"Siapa bilang? Pak Arkan tidak punya pacar asal Kau tahu."
"Tahu darimana , Ra?"
"Pak Arkan bilang sendiri padaku. Sudah, Kau harus semangat mendapatkan cinta darinya. Aku mendukungmu, Mita."
Ada binar bahagia yang tercetak jelas di wajah Mita. Rasanya Ayra ikut tersenyum bahagia melihatnya.
Cinta mungkin memang sangat indah. Tapi Ayra ragu apakah dirinya bisa merasakan cinta seperti yang orang-orang rasakan. Mengingat penyakitnya yang semakin hari menggerogoti tubuhnya. Apakah dia layak bahagia seperti yang lainnya? Ayra tak berharap banyak. Karena sebentar lagi juga pernikahannya akan segera berakhir.
__ADS_1
Dan pada akhirnya dirinya hanya akan sendiri. Mungkin selama hidupnya dia tidak akan pernah merasakan yang namanya bahagia merasakan cinta.
***