
Ayra menjadi sedikit salah tingkah. Dia berpikir apakah dia mengatakan hal yang salah. Sepengetahuannya Er begitu sangat mencintai Kinara. Jadi tidak salah kan jika dia berkata seperti itu?
Melihat Er yang terdiam membuat Ayra menjadi merasa bersalah.
"Maaf kak, Aku tidak bermaksud men...,"
"Tidak apa-apa, Ay. Kau benar. Mungkin selama ini Aku memang belum berusaha untuk mendekatkan Nara sama Mama dan Papa." sahut Er cepat.
Ayra refleks menghembuskan nafas lega. Entah mengapa dirinya masih sedikit trauma menghadapi kemarahan Er.
Ayra tersenyum canggung seraya menuangkan nasi goreng buatannya ke dalam piring dan memberikannya kepada Er.
"Aku mungkin akan sering makan di rumah. Aku menyukai masakan mu." Er membawa nasi goreng buatan Ayra dengan berbinar.
Ayra mematung. Dia mengkhawatirkan kondisi jantungnya yang terus berdegup kencang saat ini. Namun sesuatu terasa bergetar dari sakunya.
Ayra segera mengambil ponselnya yang bergetar dan memeriksanya. Ternyata dari orang yang di sayangnya.
"Halo, iya. Ada apa, Sayang. Kau merindukan kakak ya?"
"Halo Kak. Iya. Aku dan Danis sangat merindukan kakak. Kapan Kak Ayra mampir kesini?"
__ADS_1
Ayra tersenyum membayangkan bagaimana wajah orang-orang yang sangat dia sayangi.
"Nanti jika libur ya? Maaf kakak belum sempat menjenguk kalian selama kakak menikah. Kakak janji akan ke sana hari libur. Kau dan Denis mau di belikan apa?"
"Tidak usah di belikan apa-apa Kak. Denis juga tidak ingin apa-apa. Dia hanya rindu sama kakak. Oh iya. Apa Kak Ayra akan datang dengan suami kakak? Denis ingin berkenalan katanya. Kemarin kan waktu kakak menikah tidak sempat datang."
Deg... Hatiku seperti di re.mas. Mana mungkin Kak Er mau menemaniku bertemu dengan keluarga ku.
"Kak Karel nya sepertinya belum bisa ikut, Sayang. Soalnya lagi banyak sekali pekerjaan. Mungkin bisa lain waktu lagi."
"Yah, Kak Ayra gak asik. Kami kan juga ingin kenal dengan suami Kak Ayra." Ada nada kecewa yang di ucapkan seseorang di seberang sana.
"Nanti kalau Kak Karel sudah tidak sibuk, pasti kakak akan mengajaknya ikut bertemu dengan kalian kok. Kalian tenang saja," ucap Ayra memberikan pengertian. Namun terdengar helaan nafas pelan dari seberang sana.
"Iya adikku cerewet." Manda terkekeh pelan.
"Yasudah, Aku tutup telponnya. Banyak tugas dari sekolah."
"Iya. Jangan lupa jaga adik kamu ya."
"Siap kak."
__ADS_1
Setelah percakapan tersebut, terdengar suara panggilan terputus. Ayra menaruh kembali ponselnya di sakunya. Ia berniat untuk mandi.
Namun baru beberapa langkah, dirinya hampir terjungkal saat tiba-tiba Er yang sudah berada di dekatnya. Pria itu menatapnya dengan tatapan penuh arti.
"Siapa yang mengatakan jika Aku sedang banyak pekerjaan? Sok tahu. Siapa yang telpon dan ingin bertemu dengan ku?"
Ayra hampir melompat rasanya. Ternyata sedari tadi Er mendengar percakapannya dengan adiknya. Dia bingung harus mengatakan apa sekarang.
"Eum... I-itu, tadi adikku di panti. Tadi dia bertanya apakah Aku bisa datang bersama mu. Tentu saja Aku menjawabnya Kau sedang sibuk. Memangnya harus menggunakan alasan apa lagi?"
"Hari Minggu Aku tidak sibuk. Jadi Aku bisa mengantarkan mu bertemu dengan adik-adikmu," ucap Er membuat Ayra mematung.
***
Keesokan harinya.
"Nanti masuk gang sana ya Kak?" ucap Ayra. Karel mengikuti petunjuk dari Ayra.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Ayra sebelumnya. Ternyata cukup jauh dari apartemennya saat ini.
"Rumah warna kuning itu rumahku, Kak." Ayra tersenyum menunjuk sebuah rumah sederhana yang begitu asri kepada Er. Ada binar kerinduan yang terpancar dari senyumnya.
__ADS_1
>>>>>>>>>