
"Ayra cukup! Jangan menangis lagi dan berhentilah meminta maaf padaku!"
Rasanya Er sudah berada di ambang batasnya. Di mata Er saat ini, Ayra sungguh menggemaskan saat menggigit bibir bawahnya. Di tambah suaranya yang serak, membangkitkan sesuatu di balik celana Er.
Jika dia tidak berhenti menggigit bibir bawahnya itu, sudah di pastikan jika Er akan langsung menerjangnya ketika sampai di apartemen nanti.
Ayra mengangguk, kemudian menghapus air matanya.
"Terimakasih." ucap Ayra lirih. Namun di telinga Er justru terdengar begitu sexy. Dia baru tahu, jika berada di dekat Ayra bisa begitu menggairahkan seperti ini.
"Mampir ke kantor sebentar ya? Ada berkas penting yang tertinggal untuk meeting besok."
Ayra mengangguk dan sudah tidak lagi menggigit bibir bawahnya. Er menghembuskan nafasnya lega.
***
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali Ayra sudah terbangun untuk menyiapkan sarapan untuk Er. Mungkin ini begitu berlebihan. Tapi mengingat sikap Er yang akhir-akhir ini berbeda, membuat pipinya terasa panas.
__ADS_1
"Kau membuat sarapan apa?" tanya Er.
Mata pria itu masih terlihat mengantuk. Tapi dia sudah siap dengan stelan jas kerjanya.
"Aku membuatkan kakak sandwich. Kak Er mau teh, atau kopi?" Er menatap Ayra beberapa saat kemudian tersenyum.
Jantung Ayra langsung berdebar. Padahal baru di tatap beberapa detik saja.
"Buatkan Aku teh saja, jangan terlalu manis." Er duduk di meja makan menunggu tehnya.
Er menatap tampilan Ayra yang juga sudah rapi dengan baju kerjanya. Kali ini Ayra sudah tak memakai rok di atas lutut lagi. Tapi penampilannya benar-benar membuat Er begitu kagum akan kecantikan istrinya itu.
Ayra tersenyum malu mendengar ucapan Karel. Ini adalah pertama kalinya Er memuji dirinya. Dan itu membuat hatinya begitu berbunga-bunga.
Ayra menggigit bibir bawahnya karena malu. Rasa-rasanya begitu mendebarkan memiliki pagi yang begitu menyenangkan seperti hari ini.
"Ayra, bisakah Kau berhenti menggigit bibir bawahmu? Nanti bibirmu terluka."
Er menatap Ayra seperti sedang menahan sesuatu, namun Ayra tak begitu menghiraukannya.
__ADS_1
Bagi Ayra, ini adalah bentuk perhatian Er pertama kalinya selama mereka menikah. Dan Ayra akan mengingat pagi ini seumur hidupnya. Untuk sesaat Ayra lupa jika di antara mereka masih ada Kinara di hati Er.
Terkadang Ayra ingin menjadi seseorang yang begitu egois di mana dia tak perlu memikirkan perasaan orang lain. Dia ingin Er hanya menjadi miliknya seorang dan tidak ingin ada orang lain yang mengganggu.
Tapi lagi-lagi Ayra mengingatkan hatinya jika Er pantas bahagia bersama wanita yang dia cintai. Sementara dirinya bukanlah sumber dari kebahagiaannya.
Mengalah itu tidaklah mudah. Namun jika di dasari atas nama cinta, maka semua akan menjadi mungkin. Terlalu naif memang, seolah dirinya mengagungkan cinta, padahal seumur hidupnya tak pernah mendapatkannya.
Anggap saja dirinya sedang bermimpi. Baginya cinta hanya bisa di miliki dalam mimpinya saja. Dan ketika dirinya melihat Er saat kuliah dulu, harapan itu pun menjadi ada. Dia menemukan cinta yang selama ini di carinya. Namun sayangnya tak ada ingatan apapun tentang dirinya di hati Karel.
"Ting tong...," Bunyi bel apartemen membuat keduanya saling menatap. Siapa yang bertamu sepagi ini?
Er berhenti mengunyah sandwich nya dan menatap Ayra. "Siapa yang bertamu pagi-pagi sekali?" tanya Er menatap Ayra.
Ayra menggeleng tak tahu. "Biar Aku membukanya," ucap Ayra dan di angguki oleh Er.
Ayra berjalan menuju pintu apartemen dan membukanya.
"Dimana Er?" Kinara langsung berjalan menerobos masuk tanpa permisi setelah Ayra membuka pintunya.
__ADS_1
***