
Apa Aku harus menjadi Kinara terlebih dahulu agar Kau bisa menganggap ku?
Semua tentang Kinara, tapi Aku tak pernah iri padanya. Dia adalah temanku. Dan Aku menyayanginya.
Nara, bisakah Kau memberikan ku waktu sedikit saja untuk dapat merasakan sedikit cinta dari suamiku? Kalian pasti akan bahagia setelah ini, karena Aku tidak akan pernah lagi menjadi impostor dalam hidup kalian.
Aku tahu kalian adalah pasangan yang saling mencintai...
Ayra menyudahi tulisan itu dengan beberapa tetes air matanya yang terjatuh tepat di atas kertas yang membuat tulisan itu seakan luntur dan terlihat seperti signature khusus yang ia tuliskan untuk suaminya.
Terlalu banyak hal yang ingin Ayra tuangkan dalam jurnal miliknya. Namun karena terlalu sesak, akhirnya hanya sedikit demi sedikit Ayra membuatnya.
"Rasanya Aku tidak mau menghitung mundur. Karena itu hanya akan membuat ku mati secara perlahan. Sekarang bukan waktunya untuk meratapi hal seperti ini. Hanya sisa beberapa bulan dan Kak Er akan mendapatkan hidup kakak sendiri tanpa bayang-bayang dariku."
Ayra mencoba menguatkan hatinya. Mengusap-usap jurnal usang yang usianya sudah sangat lama, lalu ia kembali meletakkannya di tempat yang orang lain tidak ketahui.
Ayra mulai kembali ke dapur dan mencoba untuk mempersiapkan bekal makan siang Er. Ayra tak mau terus meratapi nasibnya yang tak berujung. Ia lebih suka mengeksplorasi dirinya di dapur untuk memasak.
"Ta ra... Ayam goreng sepesial di masak dengan penuh cinta," serunya riang dan mempersiapkan bekal untuk suaminya.
Ayra kembali ke kamar setelah selesai menyiapkan bekal untuk Er. Ia mengirimkan pesan kepada Er.
"Hari ini Aku masak ayam goreng spesial kesukaan Kak Er. Mungkin kak Er mau? Aku akan mengantarkannya." tulis Ayra.
Menunggu beberapa saat tak ada balasan. Ayra memang masih berusaha untuk mendapatkan cinta Er. Hari ini ia kembali libur bekerja di apartemen Arkan. Karena memang Arkan yang menyuruhnya untuk istirahat mengingat wajah Ayra yang terlihat pucat waktu itu.
Jadi Ayra memanfaatkan waktu untuk mengambil hati suaminya.
Setelah menyiapkan semuanya, Ayra mulai membawanya berangkat ke kantor suaminya. Tadi ia sudah memesan taksi. Ayra melangkah keluar dari apartemen dengan bersenandung untuk menutupi lara hatinya.
"Aku tahu Aku bukan untuk mu, Kak Er." ucap Ayra setelah keluar dari taksi dan berjalan menuju kantor suaminya.
Setelah mengantarkan makan siang suaminya, Ayra memutuskan untuk berbelanja sedikit keperluan dapur menggunakan uang pribadinya.
Ayra masuk kedalam elevator dengan bekal yang ia tenteng di tangannya. Dia mencoba untuk tersenyum setiap kali berpapasan dengan para karyawan. Tak banyak dari mereka yang mengetahui jika Ayra adalah istri dari atasannya.
Ayra menyapa setiap karyawan yang berpapasan dengannya. Ia terus berdebar bagaimana jika ia bertemu dengan Kinara. Bagaimana dia akan menyikapinya nanti.
__ADS_1
Ayra bertanya kepada sekertaris Er yang ada di luar ruangan suaminya. Dan sekertaris itu mengatakan jika saat ini adalah jam istirahat untuk atasannya.
Dengan langkah pasti Ayra mulai membuka pintu ruangan suaminya. "Maaf, Aku kira tidak ada orang lain," ucap Ayra dengan perasaan bersalah.
Er sedang serius berbicara dengan rekan kerjanya. Ini memanglah waktu istirahat untuk makan siang, tapi Er belum menyudahi percakapannya dengan rekan kerjanya.
"Aku sudah membalas pesanmu kalau Aku tidak mau bekal," jelas Er dingin. Raut wajahnya begitu kentara jika ia sedang kesal.
"Maaf, Aku belum mengecek ponselku."
Ayra tersenyum dan langsung keluar dari ruangan tersebut. Sekuat tenaga menahan air matanya. Ia terus saja menunduk. Tangisannya pecah saat kembali memasuki elevator.
"Dia begitu dekat dengan ku. Tapi begitu sulit untuk ku meraih hatinya. Hatinya terkunci dan hanya untuk satu orang saja, yaitu Kinara."
Setelah menyeka air matanya, Ayra keluar dari elevator masih dengan rasa sesak di hatinya. Walaupun saat ini sudah jauh lebih baik. Ayra memutuskan untuk memakan bekal itu.
Sehancur apapun hatinya, Ayra tetap tak tega untuk membuang makanan.
"Hanya beberapa bulan lagi, selamanya Aku akan melepaskan perasaan itu. Setidaknya Aku tahu jika Aku memang tak pernah diinginkan."
Memasak adalah hal menyenangkan baginya. Hal inilah yang membuatnya berhasil mengalihkan perhatian dari perasaan terluka yang terus-menerus ia rasakan.
***
Kinara menghubungi Er dan menyuruhnya untuk makan malam di apartemennya. Hati pria itu sangat senang karena kekasihnya sudah tidak marah lagi setelah penolakannya beberapa waktu lalu.
Sepulang dari kantor, ia memutuskan langsung ke apartemen Kinara. Namun dia mendapatkan notifikasi pesan dari sang Mama yang ingin dirinya dan Ayra makan malam di rumah utama.
Er di landa dilema. Ia tidak akan pernah bisa menolak Mamanya. Tapi ia juga tidak ingin Nara menjadi semakin marah lagi padanya.
Mau tak mau Er pun melajukan mobilnya untuk kembali pulang. Dengan terpaksa ia pun akan mengajak Ayra untuk makan malam di rumah utama.
"Cepat ganti bajumu, kita akan makan malam di rumah Mama," titah Er saat melihat Ayra di kamar.
"Kenapa kak Er memberitahu ku mendadak?"
"Sudah cepat ganti bajumu lalu kita berangkat. Aku tidak ingin nanti Nara terlalu lama menunggu ku," ucap Er kesal.
__ADS_1
Deg...
Kinara lagi? Ayra terdiam. Mungkinkah selama hidupnya ia akan merasakan cinta sepihak? Cinta suburnya untuk Er selalu saja Er patahkan. Mencintai Er layaknya menggenggam bara api di tangannya.
Ayra mengangguk saja menuruti keinginan Er. Ia segera mengganti bajunya dan mereka langsung berangkat menuju rumah utama.
Sampai di rumah utama, Mama Via dan Papa Bintang menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Er juga tiba-tiba bersikap layaknya seorang suami pada Ayra. Dan itu membuat Ayra begitu terkejut.
"Sayang, Ayo kita masuk," ajak Er.
Walaupun Ayra tahu jika itu hanyalah sandiwara Er, tapi tetap saja hatinya begitu berdesir dengan perlakuan hangat pura-pura Er.
Mama Via begitu memanjakan Ayra. Membuat Er begitu jengah melihatnya. Sedari tadi ia tak tenang. Er terus saja melirik jam tangannya.
"Kenapa Kau tidak makan, Er?" tanya Mama Via saat melihat Er yang nampak gelisah.
"Baiklah Mam, Aku makan." ucap Er. Ia menyendok satu suap, namun ponselnya membuatnya yakin jika itu dari Nara. Mungkin Kinara sudah marah-marah karena pesannya tak di balas oleh Er.
Er pun menyudahi makannya. Ia mengelap bibirnya dengan tissue makan.
"Mam, Daddy. Sepertinya kami harus segera pulang. Ada berkas yang belum Er selesaikan tadi. Jadi Er harus merevisinya." ucap Er bohong.
"Tapi kalian baru memakannya sedikit masa harus di tinggalkan begitu saja? Setidaknya biarkan kita menyelesaikan makan malam ini." ucap Mama Via.
"Ya, Kau juga masih bisa melakukan revisi nanti malam, Er. Sebaiknya kita selesaikan." timpal Papa Bintang.
"Tapi Dad, ini sangat penting. Projek yang sangat besar . Jadi maaf, Aku dan Ayra akan kembali pulang saja. Lain kali kami akan menginap di sini, Mam, Dad."
Setelah perdebatan yang lumayan panjang, akhirnya Mama Via dan Papa Bintang mengizinkan mereka kembali dengan kecewa.
Di dalam perjalanan pulang, Er menurunkan Ayra di jalan. Kemudian dia memberikan Ayra beberapa lembar uang ratusan.
"Carilah taksi sendiri. Aku harus segera ke apartemen Kinara," ucap Er.
Ayra hendak protes. Namun Er menatapnya tajam. Ayra pun akhirnya turun di jalan. Ia menatap sendu mobil Er yang semakin menjauhinya.
***
__ADS_1