Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama

Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama
Bab 34


__ADS_3

Pagi harinya.


Ayra tampak berbeda. Semenjak Er duduk di meja makan, tak sedikitpun Ayra berani menatapnya. Pipinya bersemu merah seperti tomat, dan itu membuat Er begitu gemas.


Kali ini Ayra mengenakan pakaian kerja yang biasa dan jauh dari kata modis. Bahkan terkesan begitu norak. Namun Er menyukainya.


Justru jika Ayra mengenakan pakaian yang ketat dan seksi akan membuat Er merasa marah. Er tak ingin tubuh sang istri yang menurutnya begitu seksi itu di nikmati oleh pria lain.


Bayangan tubuh Ayra semalam melintas kembali di otak Er.


"Apa Kau sedang sakit, Ay?" tanya Er dengan bermaksud menggoda sang istri. Sangat menyenangkan menurut Er saat melihat Ayra merona seperti itu.


"Ti-tidak...," ujarnya gugup dan masih tak mau menatap ke arah Er.


"Lalu kenapa pipimu bersemu merah?"


Ayra langsung tersedak air putih yang sedang di minumnya. Sementara Er menahan senyum gelinya. Dia menyodorkan kotak tissue kepada sang istri.


"A-aku tidak apa-apa... Aku sudah selesai. Jangan lupa untuk mengunci pintunya." Ayra beranjak mengambil tas kerjanya dan berangkat lebih dulu dari Er.


Lagi-lagi Er mengulum senyumnya melihat tingkah sang istri.


"Nanti Aku akan menjemputmu!" seruku. Ayra menghentikan langkahnya dan menatap sekilas ke arah ku.

__ADS_1


"Baiklah," ucapnya gugup dan kembali melanjutkan langkahnya.


Sepertinya Er punya hal baru yang begitu menyenangkan saat ini. Yaitu menggoda istrinya yang akan membuatnya terkikik geli.


***


Sampai di kantor, Er langsung mempersiapkan diri untuk meeting dengan kolega bisnisnya.


Er menaruh tas kerjanya dan meraih ponselnya yang sejak tadi terus saja berdering.


"Halo, Sayang." ucap Er selembut mungkin.


"Kenapa baru mengangkat telepon ku, Sayang?" ucap Kinara kesal. Er memang mengabaikan panggilannya dari tadi.


"Sudah baby, Apa Kau sudah di kantor?"


"Sudah. Apa nanti siang Kau jadi ke butik?" tanya Er karena semalam Nara mengirimkan pesan akan ke butik siang ini.


"Jadi dong, Sayang. Nanti Kamu jemput Aku ya?"


"Baiklah, Sayang. Nanti Aku akan menjemputmu sekaligus kita makan siang bersama."


"Baik Sayang. Love you."

__ADS_1


"Love you too." Er mende.sah pelan sambil meletakkan ponselnya. Mengusap wajah dengan kasar dengan tangannya.


Menurutnya ini sungguh tidak mudah. Berpura-pura baik-baik saja itu sangat tidak mudah.


Sebuah ketukan pintu ruangannya membuat Er keluar dari pikirannya. Asistennya masuk dengan beberapa berkas di tangannya.


"Saya hanya mengingatkan, Tuan. Jam sembilan nanti akan ada meeting dengan Tuan Robert. Ini berkas yang Tuan butuhkan sudah Saya persiapkan."


Er mengangguk dan membuka berkas yang di bawakan oleh sang asisten. Gery memang sangat profesional dengan pekerjaannya.


"Kita berangkat sekarang saja, Gery. Takut nanti jalanan akan macet lagi." Gery menganggukkan kepalanya.


Tak berselang lama, Er dan asistennya sampai di sebuah restoran yang lumayan mewah. Untuk saja tadi mereka segera berangkat, karena jalanan memang sedang macet.


Namun sepertinya Tuan Robert belum hadir di sana.


"Maaf sudah membuat Anda menunggu lama, Tuan Karel." Suara berat yang familiar itu membuat Er dan juga asistennya itu berdiri menghadap ke arah suara. Gery terkejut melihat sosok seseorang yang datang bersama dengan Tuan Robert. Begitu pula juga dengan Er.


"Oh iya. Perkenalkan, ini Deni Anggara. Dia yang akan menangani kerjasama perusahaan kita ke depannya. Karena kedepannya kebetulan saya harus pergi ke Jepang bersama istri saya."


Er mengumpat dalam hati. Sementara Gery menatap datar ke arah pria bernama Deni tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2