
Banyak orang yang melihatnya wanita cantik dan bersinar, banyak teman dan mudah bergaul. Kinara begitu mempesona di mata teman-temannya.
Namun tak ada yang mengetahui tentang kerasnya hidup yang telah ia lalui. Kinara begitu pandai menyembunyikan segalanya.
Namun sejak bertemu dengan Karel untuk pertama kalinya, dia seolah memiliki sebuah harapan yang tak pernah dia pikirkan.
Baginya Karel seperti pelita. Mampu menyinarinya dalam dunianya yang terasa begitu gelap. Perlahan Kinara mulai membangun mimpinya.
Setelah dulu dirinya sempat kehilangan Karel, kali ini dia tidak akan pernah memberikan Karel untuk orang lain lagi. Apalagi kepada Ayra.
Karena menurut Nara, Ayra hanyalah pengganggu yang bisa dia manfaatkan kepolosannya. Semua orang selalu saja menganggap Ayra sebagai malaikat. Namun tidak baginya.
Di dunia ini tidak ada yang namanya seseorang memiliki hati malaikat. Ayra pasti hanya berpura-pura untuk menarik perhatian semua orang.
Dan hari ini luka yang selama ini dia simpan sendiri, seolah dunia tak mengizinkannya untuk merasakan bahagia barang sedikit saja.
Mengingat tentang keluarganya dan keluarga Karel yang tidak baik-baik saja. Nara tak pernah tahu tentang kenapa sampai Mamanya Karel begitu membenci dirinya dan keluarganya.
Ponsel yang berdering membuat lamunan Nara teralihkan. Gadis itu langsung menyambar ponselnya berharap itu dari Karel.
Kinara mende.sah kecewa karena bukan Karel yang menelponnya.
"Dimana Kau? Kenapa lama sekali mengangkat telepon ku?"
Suara dari seberang membuat Nara kembali men.de.sah.
Sebenarnya tak ada yang salah dengan perasaan Deni. Hanya saja cinta Deni selalu Kinara anggap salah di depan matanya.
"Aku sedang ada di sebuah taman."
__ADS_1
"Aku akan menjemputmu."
"Tidak usah, Aku sudah akan kembali ke apartemen," tolak Nara
"Kita harus membicarakan tentang kit...."
"Please! Aku sedang tidak ingin membahasnya." Kinara memotong ucapan Deni. Sementara di seberang sana, Deni menghembuskan nafas kasar. Menurutnya Nara adalah gadis yang sangat keras kepala.
***
Karel masih tak percaya dengan apa yang Mamanya tuturkan beberapa saat lalu. Namun sejauh yang ia tahu, mamanya bukanlah tipe seseorang yang suka berbohong. Apalagi suka mengadu domba.
Kejadian tadi membuat kepalanya benar-benar terasa pusing. Pria itu memijit pelipisnya berulang-ulang.
"Kak. Ini tehnya," ucap Ayra yang meletakkan tehnya di meja kerja Karel.
Melihat Ayra yang hendak pergi setelah menaruh segelas teh di mejanya, Er dengan cepat langsung menarik Ayra hingga terjatuh di pangkuannya. Er memeluk Ayra dengan begitu eratnya.
"Kak, lepaskan Aku," ucap Ayra lirih.
"Ku mohon sebentar saja, Ay. Aku sangat membutuhkan sebuah pelukan saat ini."
Ayra tahu Er tengah bingung saat ini. Namun apakah pria itu tak tahu jika rasanya jantungnya hampir saja lepas karena pelukannya pada tubuhnya?
"Apa Kau percaya dengan ucapan Mama?" tanya Er masih memeluk erat tubuh sang istri.
"Aku juga tidak tahu Kak. Sejujurnya Aku tidak percaya jika tante Alesha melakukan hal yang Mama tuduhkan. Tapi Aku tahu Mama bukanlah orang yang suka berbohong mengenai sesuatu," jawab Ayra, membuat Er mende.sah panjang.
Merasakan hawa panas yang menguar dari nafas Er, membuat gelenyar aneh yang mendera tubuh Ayra.
__ADS_1
"Tolong lepaskan Aku Kak. Aku harus ke toilet," ucap Ayra berbohong. Berada sedekat itu dengan Er membuat jantungnya berdetak tak normal.
"Aku tahu kalau Kau hanya berbohong, Ay. Tolong biarkan seperti ini sebentar lagi," ucap Er malah semakin mengeratkan pelukannya.
Ayra hanya mampu menggigit bibir bawahnya yang untungnya tak di ketahui oleh Er.
"Eum... Apa yang di lakukan Nara tak berarti apapun untuk hubungan kalian? Maksudku, Kau tahu jika dia mengkhianati mu." Ayra memberanikan diri untuk bertanya.
"Entahlah, Ay. Mungkin Aku terlalu mencintai Nara, hingga putus terdengar begitu menyakitkan daripada di khianatinya," jawab Er asal.
Namun justru itu membuat hati Ayra tertusuk ribuan duri. Hatinya terasa sesak mendengarnya.
Sejujurnya Er juga tidak tahu dengan perasaannya. Seperti ada rasa bersalah dalam hatinya kepada Kinara. Rasanya dia begitu sulit untuk menjauhi kekasihnya itu.
"Lalu kenapa Kau memelukku seperti ini, Kak?"
"Aku sedang membutuhkan seorang teman untuk menghiburku. Dan Kau mampu menjadi seorang teman yang membuat hatiku merasa lebih baik," ucap Er yang langsung menggoreskan tinta luka di hati Ayra.
Karel mampu melambungkan hatinya begitu tinggi. Ternyata dalam bayangan Er, dirinya tak sepenting dalam apa yang ada di bayangannya.
Er tak sadar jika perkataannya menyakiti hati Ayra. Mungkin saja suatu hari Er akan menyesalinya.
"Apa Kau keberatan jika Aku memelukmu seperti ini, Ay?" tanya Er.
Ya. Sejujurnya Ayra ingin mengatakan jika dirinya sangat keberatan. Tidakkah Er tahu jika sikap Er yang seperti ini membuatnya begitu sakit? Namun Ayra begitu nyaman dengan kedekatan mereka.
"Tidak."
Sungguh, rasanya cinta begitu tidak tahu malu. Begitulah yang Ayra rasakan saat ini.
__ADS_1
***