Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama

Terpaksa Menikahi Gadis Pilihan Mama
Pingsan


__ADS_3

Ayra merasa begitu hancur dengan sikap Er. Suaminya begitu tega meninggalkannya di jalan hanya demi Kinara yang sudah menunggunya.


Namun ia bisa apa? Rasanya Ayra begitu muak dengan permainan takdir. Apakah tidak bisa sebentar saja ia merasakan keindahan dalam kehidupan?


Sebisa mungkin dia berusaha tak mengeluarkan air mata. Namun entah mengapa butiran bening itu tak mampu ia bendung. Air matanya adalah perwakilan dari kecewa hatinya.


Ayra menjadi pesimis untuk mendapatkan cinta Karel kembali. Hatinya begitu hancur dengan sikap Karel yang tidak ada perubahan. Gadis itu menangis di pinggir jalan.


Tak berapa lama kemudian, ada mobil yang berhenti di samping Ayra. Pengemudi mobil tersebut membunyikan klaksonnya.


Ayra menatap mobil tersebut. Hingga jendela mobil tersebut terbuka dan menampilkan pengemudinya di sana. Ayra langsung menyeka air matanya. Ternyata itu adalah Arkan.


"Ra. Ini beneran Kamu?" tanya Arkan terkejut melihat Ayra menangis di pinggir jalan. Pria itu nampak begitu khawatir. Dia langsung turun dan menghampirinya.


Rasanya Ayra begitu malu saat ini. Ia tidak ingin Arkan melihatnya pada keadaan seperti ini. Namun dengan cepat Ayra berusaha untuk tersenyum.


"Iya, kak Ar. Ini Aku." jawab Ayra tersenyum.


"Kenapa Kamu bisa berada di sini, Ra? Kamu menangis?" Rentetan pertanyaan Arkan tanyakan kepada Ayra. Sungguh pria itu dilanda rasa khawatir. Apalagi wajah Ayra yang nampak begitu pucat.


"Aku tersesat, Kak Ar. Jadi Aku menangis," bohongnya. Tidak mungkin ia mengatakan jika suaminya meninggalkannya di jalan.


Arkan melepaskan jasnya dan memakaikan ke tubuh Ayra, mengingat udara malam yang begitu dingin.


"Jangan menangis lagi, Aku akan mengantarmu pulang, Ra." ucap Arkan mengajak Ayra.


Mobil Arkan pergi meninggalkan tempat itu. "Kenapa Kau menjadi sebodoh ini, Ra? Kau bisa menghubungi ku untuk menjemputmu, jadi Kau tidak akan tersesat seperti ini."


"Maaf kak, Aku hanya tidak ingin merepotkan mu saja. Aku hanya ingin jalan-jalan tadi, tapi malah tersesat. Untung saja Kak Er lewat tadi. Jadi Aku terselamatkan," Ayra terkekeh.


"Lain kali jangan ceroboh, Ra. Segera hubungi Aku jika Kau membutuhkan bantuan."


"Siap bosku," ucap Ayra menampilkan senyumnya. Mobil Arkan langsung meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Aku harus mengantarmu kemana?" tanya Arkan. Karena memang selama ini dia belum mengetahui Di mana tempat tinggal Ayra.


"Emm, ke apartemen sebelahmu saja, kak Ar," jawab Ayra.


Arkan mengerutkan keningnya mendengar jawaban Ayra. Kenapa gadis ini selalu saja ke apartemen sebelahnya, sedangkan yang akan tahu Ayra Hanya bekerja di sana saja. Namun Arkan tak ingin menanyakan hal itu pada Ayra. Dia ingin gadis ini menceritakannya sendiri kepadanya.


"Baiklah." Arkan mematuhinya.


Tak berapa lama mereka sampai. Arkan dan Aira berjalan bersama menuju ke apartemen yang kebetulan bersebelahan.


"Terima kasih Kak Ar," ucap Ayra. Arkan tersenyum mengangguk. Kemudian Arkan mulai berjalan meninggalkan Ayra menuju apartemennya.


Belum sampai Arkan membuka pintu, ia mendengar bunyi seseorang terjatuh. Ia menoleh dan terkejut. Ayra tergeletak di depan pintu apartemen. Sontak Arkan berlari menghampiri tubuh Ayra yang tumbang. Ia segera menggendong tubuh Ayra dan membawanya ke apartemennya.


"Ra, sadarlah. Kau kenapa?" ucapnya cemas. Ia meletakkan tubuh Ayra di sofa. Arkan merasa begitu panik. Ia menggosok-gosok tangan Ayra, karena tangannya terasa dingin.


Kemudian Arkan menelpon dokter untuk segera datang memeriksa kondisi Ayra.


***


"Sayang, maafkan Aku karena terlambat." Karel hendak mencium pipi Kinara, namun Kinara memundurkan tubuhnya.


"Kau pasti sedang bersamanya kan?"


"Aku tidak sedang bersamanya, Sayang. Kamu lihat sendiri kan kalau saat ini Aku datang kemari sendirian."


"Saat ini Kau memang sendiri. Tapi tadi saat Aku menelpon mu Kau tidak mengangkat, pasti karena Kau sedang bersama Ayra," tuduh Nara.


"Tadi Mama menyuruh kami untuk makan malam di rumah utama, jadi Aku mengajaknya. Dan Aku tak mengangkat panggilan mu karena ada Mama dan Papa, Sayang. Tapi Aku langsung pulang tadi untuk menemui mu, Aku juga menyuruh Ayra untuk memesan taksi di jalan ketika Aku menurunkan dia tadi." jelas Karel.


"Kau menurunkannya di jalan?" Kinara merasa puas dengan ucapan Er.


"Ya, karena Aku tidak ingin Kau menunggu ku. Dan Aku juga tahu jika Kau tidak ingin bertemu dengannya."

__ADS_1


Sikap Kinara langsung melembut, kemudian dia langsung memeluk tubuh Karel dengan manja. "Baiklah, maafkan Aku, Sayang. Aku percaya. Sekarang ayo kita makan malam," ajak Kinara.


Kinara sudah mempersiapkan makan malam dengan begitu banyak. Ia ingin makan malam kali ini begitu romantis.


"Kamu menyiapkan semua ini, Sayang?" Er menatap haru Kinara.


"Ya, Aku ingin kita makan malam romantis malam ini. Aku mau minta maaf kalau beberapa hari ini Aku selalu marah dengan mu, Sayang." Kinara terus mengambil hati Karel dengan sikap manja dan lemah lembutnya. Ia tidak akan membiarkan Karel sedikitpun melirik kepada Ayra. Karena menurut Kinara Karel adalah miliknya dan selamanya akan seperti itu. Kinara begitu terobsesi dengan Er.


Sementara keduanya makan malam dengan romantis, di sisi lain Ayra tengah berada dalam kondisinya yang begitu lemah.


Dokter sudah memeriksa kondisi Ayra. Ia mengatakan jika Ayra tengah mengidap kanker darah, dan itu membuat Arkan begitu syok dengan apa yang di sampaikan oleh dokter. Sungguh ia tak menyangkanya.


Setelah dokter pergi, Arkan merawat Ayra dengan begitu telaten. Di tatapnya wajah pucat Ayra. Sungguh ia merasa begitu kasihan pada gadis di depannya itu. Ada suatu perasaan yang membuncah ketika Arkan berada di dekat Ayra.


Ayra adalah gadis yang begitu ceria yang pernah ia kenal. Gadis cantik yang pandai dengan segala hal. Ia telah mengecek cctv di apartemennya. Dan ia begitu terkejut kala mengetahui jika ternyata Ayra yang sudah menyelesaikan pekerjaannya waktu itu.


Kini Arkan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjaga gadis ini.


Arkan meraih tangan Ayra dan menggenggamnya. Rasanya jantungnya berdetak tak normal. Ia tahu perasaan apa yang ia rasakan. "Aku akan selalu menjagamu, Ra. Aku akan membantumu untuk sembuh." ucapnya pelan seraya menatap sendu wajah Ayra.


Sepulang dari apartemen Kinara, Er mengerutkan keningnya saat tak melihat Ayra di apartemen. Ia jadi teringat akan dirinya yang meninggalkan istrinya di pinggir jalan tadi.


Namun ia tak ingin memikirkannya. Er lebih memilih mandi dan tidur.


***


Pagi harinya, Er bangun pagi-pagi sekali. Namun ketika dirinya terbangun, ia tak melihat Ayra di sofa tempat biasanya ia tidur.


Pria itu lantas langsung menuju ke bathroom. Ia mengecek apakah Ayra berada di sana. Namun nihil. Er tak menemukannya. Kemudian ia mencoba mencari Ayra dapur. Masih sama.


Entah mengapa tiba-tiba ia menjadi begitu cemas. "Mungkinkah gadis itu tidak pulang semalaman?" tanya Er pada dirinya sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2