
Mendengar yang di ungkapkan Gery membuat gejolak sakit yang teramat dalam merayapi hati Er.
Dia tidak ingin jika Ayra pergi darinya. Tapi dia juga tak bisa lepas dari Kinara. Sejujurnya Er begitu tersiksa dengan kebingungan hatinya.
"Sebenarnya ada apa dengan hatiku?" gumamnya di sela lamunannya.
***
Arkan mencoba untuk meredam sesuatu dalam dirinya kala melihat istri pria lain itu. Sungguh, dia tak menyangka jika pesona Ayra akan membuatnya memiliki sebuah fantasi liar. Dia merutuki dirinya sendiri. Tak seharusnya Arkan memiliki pemikiran ini.
Dengan pelan, pria itu mulai berjalan keluar dari toilet. Arkan segera menuju ke ruangannya guna menetralisir fantasinya tentang Ayra.
"Pak Arkan, ada jadwal meeting penting untuk pagi ini." Ayra datang membacakan agenda untuk Arkan.
"Persiapkan semuanya," ucap Arkan tanpa menoleh menatap Ayra. Dia takut akan goyah.
"Baiklah, Pak." Ayra keluar dari ruangannya dan segera melakukan tugasnya.
"Sepertinya Aku benar-benar harus ke dokter untuk memeriksakan jantungku," ucap Arkan pelan seraya memegangi dadanya sendiri.
Pengaruh Ayra membuat pria tampan itu sulit untuk mengendalikan perasaan hatinya yang menyeruak ke permukaan.
***
Rapat pagi ini berjalan begitu lancar. Lusa Arkan harus ke luar kota untuk mengecek progres pembangunan dari pekerjaannya.
Dia mend.esah pelan saat mengingat jika dirinya tak akan bertemu dengan Ayra untuk beberapa hari. Namun tercetus sebuah ide yang tiba-tiba muncul di otaknya.
__ADS_1
'Kenapa Aku tidak mengajak Ayra saja? Aku bisa mengatakan bahwa ini adalah urusan pekerjaan jika suaminya nanti tak mengizinkannya.' batinnya.
Ketika semuanya sudah keluar dari ruang meeting, kini hanya tinggal Ayra dan Arkan yang ada di ruangan itu.
"Ra."
Fokus Ayra teralihkan dari laptop yang ada di depannya. "Iya, Pak."
"Tidak ada orang. Panggil Aku seperti biasa saja, Ra."
"Iya Kak, ada apa?"
"Bagaimana jika lusa Kau ikut Aku ke luar kota untuk melihat progres pembangunan di sana? Aku butuh asisten untuk mencatat beberapa poin penting."
Ayra tampak berpikir. Ini adalah ajakan yang sangat menggiurkan untuknya. Ini adalah impiannya sejak dulu, yaitu bekerja dan berkeliling kota. Pasti akan sangat menyenangkan.
"Kak Ar mengajakku? Baiklah, Aku mau," jawab Ayra tersenyum.
"Tapi, apa suamimu akan mengizinkanmu nantinya?"
Ayra menjawabnya dengan senyuman. "Pasti akan mengizinkan Kak. Ini kan masalah pekerjaan."
"Baiklah kalau begitu, persiapkan dirimu."
***
Sementara di kantornya, Er masih merasa begitu gusar memikirkan Ayra. Di tambah dengan perkataan Gery yang begitu menohok hatinya.
__ADS_1
Ingin sekali Er menghubungi nomor sang istri. Namun ponselnya telah hancur karena kekesalannya tadi.
"Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Dulu Aku begitu membencinya, tapi kenapa sekarang dia selalu saja mengganggu pikiran ku. Bahkan dia menjerat ku dengan begitu kuat," gumam Er frustasi.
Er juga berpikir, bagaimana nanti saat dia meninggalkan sang istri di rumah ketika dia menemani Kinara keluar kota?
Rasanya Er tak ingin meninggalkan Ayra di rumah. Berbagai pikiran buruk mengganggu dirinya saat memikirkan kebersamaan Ayra dan juga Arkan.
Mungkinkah Er harus menyewa seorang mata-mata untuk istrinya?
***
Er membuka pintu rumahnya dengan tergesa. Tadi dia menyempatkan untuk menjemput Ayra ke kantor Arkan. Namun lagi-lagi Arkan sudah lebih dulu mengantarkannya pulang.
Tempat tujuan Er pertama kali adalah dapur. Dan benar saja. Di sana sang istri telah sibuk memasak untuk makan malam.
Berjalan cepat dan langsung menyergap tubuh Ayra memeluknya dari belakang dengan erat. Membuat yang empunya terkejut dibuatnya.
Harum parfum maskulin khas suaminya membuat Ayra langsung tahu bahwa yang memeluknya adalah Karel.
"K-kak Er...."
"Kenapa tadi Kau tidak menungguku menjemputmu?" ucap Er meletakkan dagunya di pundak sang istri.
Jantung Ayra hampir lepas dengan perlakuan Er padanya. Lagi, Er memperlakukannya seolah-olah dirinya adalah istri yang sangat dicintainya.
"Itu...tadi kepalaku sedikit pusing. Ja-jadi Aku menerima tawaran Kak Ar untuk mengantar ku pulang." jawab Ayra gugup.
__ADS_1
***